Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PERANCANG RI ke AS: Fesyen Indonesia Melenggang di Runway LAFW

Selama ini, kebanyakan perancang mode Indonesia yang memasuki pasar Amerika Serikat lebih mengandalkan peruntungannya di wilayah East Coast seperti New York
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 24 September 2016  |  10:45 WIB
Ilustrasi. - .Antara/M Risyal Hidayat
Ilustrasi. - .Antara/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA- Selama ini, kebanyakan perancang mode Indonesia yang memasuki pasar Amerika Serikat lebih mengandalkan peruntungannya di wilayah East Coast seperti New York.

Tak banyak yang mencolek pangsa konsumen West Coast yang lekat dengan citra glamor ala Hollywood.

Namun, tahun ini langkah berani mulai ditempuh oleh para punggawa fesyen Tanah Air. Untuk pertama kalinya, Indonesia mengirim anak-anak bangsanya guna unjuk gigi di ajang Los Angeles Fashion Week (LAFW) Spring/Summer 2017.

Melalui dukungan Konsulat Jenderal RI di LA, Indonesia akan menerbangkan 5 label desainer yang mewakili citarasa fesyen Nusantara di pekan fesyen bergengsi yang dijadwalkan pada 25 September—2 Oktober 2016 di Hollywood Athletic Club itu.

Kelima label perancang yang telah lolos seleksi dan kurasi itu antara lain Laison by Aurelia Santoso, JAJAKA by Ivan Gunawan, Purana by Nonita Respati, Oscar Lawalata, serta Rinda Salmun.

“Kami melihat LAFW sebagai organisasi yang walaupun terbilang baru, tapi memiliki prospek yang cepat,” jelas Konsul Penerangan Sosial dan Budaya KJRI LA Endang Wirawan di sela-sela konferensi pers di Jakarta pekan ini.

Dia berpendapat promosi budaya Indonesia di West Coast memang paling tepat dilakukan melalui jalur fesyen. Sebab, fesyen adalah elemen yang sangat lekat dan terkait erat dengan gaya hidup para Angeleno(sebutan untuk warga Los Angeles).

Sementara itu, Ketua Bidang Ekspor Indonesian Women Alliance (IWA) Fabiola Sondakh berujar keputusan Indonesia untuk berpartisipasi perdana di ajang LAFW bukan semata aksi spekulatif.

“Sebelumnya IWA dan para perempuan Indoensia yang tinggal di Los Angeles dan sekitarnya sudah mencoba memperkenalkan fesyen Indonesia melalui busana sehari-hari kami. Ternyata, banyak warga lokal di sana yang tertarik,” katanya.

Dia berpendapat batik menjadi itemfesyen yang paling banyak dilirk warga LA, meskipun mengakui popularitasnya masih belum begitu masif. Sebab, banyak warga di sana yang berpendapat harga batik tulis asli terlalu mahal bagi budget mereka.

Belajar dari karakter konsumen di LA tersebut, desainer selebritas Ivan Gunawan mencoba mengembangkan inovasi dalam teknik membantik agar bisa diproduksi secara massal dengan harga lebih terjangkau.

“Jangan salah, orang LA itu berbeda dengan orang Indonesia. Di sini, batik harganya mahal, orang masih mau beli. Namun, di sana, mereka ogah merogoh kocek dalam-dalam. Lebih baik menunggu sampai musim diskon,” ungkapnya.

Untuk itu, perancang yang akrab disapa Igun itu mencoba memperkenalkan motif batik melalui teknik cetak digital kepada konsumen LA. Tidak hanya batik, dia juga memperkenalkan motif-motif tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kalau kita memaksakan terus memakai canting tulis untuk membatik, selain pengerjaannya lama, harganya akan sangat mahal. Padahal, permintaan terus tumbuh. Untuk bisakeep up, kita harus menawarkan teknik yang lebih efisien untuk memperkenalkan wastra Nusantara.”

Alhasil, busana yang dijajakan Igun untuk pasar LA pun dipatok dengan harga yang relatif lebih miring. Misalnya saja, satu set setelan pria dari label JAJAKA, dia jual dengan kisaran harga US$100—US$200.

Lantas, khusus untuk penampilan perdana di lintasan runway LAFW S/S 2017, look apa saja yang akan diboyong Igun, Oscar, Nonita, Rinda, dan Aurelia? Apa yang mereka persiapkan untuk mengangkat citra fesyen Indonesia di hadapan para West Coaster?

LIMA KONSEP

Igun sendiri telah mempersiapkan 25look (15 set busana perempuan dan 10 set busana pria) dalam koleksi terbarunya yang bertajuk SUKU. Menurutnya, koleksi itu selaras dengan tipikal gaya resort yang banyak disukai oleh para Angeleno.

“Karena ini resort look, aku banyak membuat gaun yang mudah dan nyaman digunakan tanpa resleting, dan diganti dengan aksen draping dan penggunaan kait,” ujarnya saat ditemui di Jakarta sebelum keberangkatannya ke LA.

Beberapa potongan busana perempuan yang menjadi highlight dalam koleksi Igun tersebut a.l. gaun panjang, blus A-shaped asimetris, blus drappery, celana palazzo, celana kulot, celana 7/8, jumpsuit, dan berbagai model rok.

Igun menonjolkan permainan motif kain khas Indonesia, khususnya dari Toraja, Bali, Jawa, hingga Dayak. Tak lupa, dia menabrakkannya dengan permainan detail floral dan sentuhananimal prints.

Di sisi lain, Nonita Respati dari label Purana Indonesia memboyong temaPopsicle Brush ke laga catwalk LAFW. Sesuai temanya, koleksi busananya didominasi permainan palet segar yang terinspirasi dari warna-warni es krim batangan khas musim panas di LA.

Sama seperti Igun, dia bermain dengan kreasi teknik baru dalam menyuguhkan kain-kain tradisional Indonesia. Dia menggunakan teknik celup atau jumputan serta kuas untuk mengeksplorasi berbagai motif rumit.

“Inovasi kami kali ini fokus pada teknik batik brush, penggunaan palet-palet cerah, dan teknik tie-dye yang semakin kompleks dalam prosesnya. Kami juga mengajak para perajin batik untuk berkreasi menggunakan teknik ini,” kata perwakilan Purana, Moza Paramitha.

Terdapat 26 set busana dalam koleksi bernuansa feminin tersebut. Dia menampilkan berbagai tampilan two pieces dengan perpaduan celana sarong khas Purana, volumized pants, gaunoversized, serta berbagai modelouterwear yang bersiluet longgar.

Tidak ketinggalan, Oscar Lawalata akan memboyong koleksi bertajukSPOT yang mengombinasikan kecantikan kontemporer dan sedikit sentuhan batik tradisional. Terdapat 36look yang mengeksplorasi bahan linen dan satin yang terkesan mewah.

Adapun, Aurelia Santoso akan memamerkan 22 look ke hadapanfashionista Los Angeles dalam koleksinya dari label Laison. Dia mengaku sudah terbiasa dengan selera pasar LA yang menyukai gaya resortyang penuh detail seperti fringe, patchwork, bordir, dan beads.

Sementara itu, Rinda Salmun akan memperkenalkan koleksi yang terinspirasi dari seni neoplasticismkarya pelukis Jerman Imi Knoebel. Tidak heran, karya-karyanya banyak mengadaptasi komposisi abstrak serta gaya arsitektur 1920-an di Bandung.

“Saya juga menggunakan material tenun Garut dan songket Palembang, serta banyak bermain dengan aksencolor blocking dan gaya art deco. Saya akan memperkenalkan karakter khas saya berupa siluet tegas pada blazer dan tailored shorts, aksen cutouts, dan siluet yang menonjolkan lekuk tubuh pada busana cocktail dan pakaian kerja,” paparnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perancang busana
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top