Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Studio Animasi Marak, tapi Mengapa Industrinya Belum Berkembang?

Beberapa tahun belakangan, berbagasi studio animasi semakin banyak bermunculan di Indonesia. Oleh sebagian kalangan, hal itu disebut sebagai sinyal positif kebangkitan industri animasi lokal.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 03 Desember 2016  |  08:43 WIB
Studio Animasi Marak, tapi Mengapa Industrinya Belum Berkembang?
Ilustrasi - Starwars.com

Bisnis.com, JAKARTA - Beberapa tahun belakangan, berbagasi studio animasi semakin banyak bermunculan di Indonesia. Oleh sebagian kalangan, hal itu disebut sebagai sinyal positif kebangkitan industri animasi lokal.

Tapi, tidak sedikit kendala yang harus dihadapi oleh studio-studio itu sebelum bisa membuat industri animasi lokal menjadi besar. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) alias animator handal adalah salah satunya.

Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), film animasi hanya memberi kontribusi sekitar 5% terhadap keseluruhan industri ekonomi kreatif pada tahun lalu. Jumlah itu mencakup tidak sampai sepertiga dari kontribusi total 16 subsektor industri ekonomi kreatif.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Pesik berpendapat kontribusi yang minimalis itu disebabkan karena ekosistem industri animasi di Indonesia sejauh ini belum terbangun dengan baik.

“[Tantangan utamanya] Terutama dari segi infrastruktur, sumber daya manusia, demikian juga pasarnya. Untuk mengembangkan industri animasi, [Bekraf] akan bekerjasama dengan Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia,” jelasnya di Jakarta belum lama ini.

Selain melakukan semacam inkubasi terhadap studio-studio animasi, Bekraf juga berencana membuka keran investasi asing guna menstimulus industri animasi dalam negeri. Apalagi, saat ini konten film animasi lokal layak jual semakin bervariasi.

“Saya rasa ke depannya, industri ini [animasi] bakal melahirkan produsen film animasi besar. Kami bukan sekadar ingin mengembangkan potensi animator, tapi memperkuat industri kreatif berbasis teknologi informasi pada umumnya.”

Salah satu studio animasi lokal yang tengah naik daun adalah Enspire Studio. Lantas, bagaimana studio yang berbasis di Jakarta ini mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Berikut penuturan dari Andre Surya, founder Enspire Studio:

Sejak kapan Enspire berdiri dan bagaimana awal ceritanya?

Sebelumnya saya berpengalaman kerja di industri film Hollywood. Setelah pulang ke Indonesia, saya membuka studio animasi ini 5 tahun lalu dan juga sekolah animasi 3 tahun lalu.

Proyek animasi yang kami kerjakan ada banyak, tidak hanya film panjang dan pendek. Namun, kami mengerjakan juga proyek-proyek iklan komersial, games, film games, dan sebagainya.

Apa ekspektasi Anda terhadap pasar animasi Indonesia?

Justru sebenarnya fokus saya bukan pada pasarnya, tapi pada talentanya. Sebab, terus terang pasar animasi di Indonesia ini belum siap, kecuali untuk iklan-iklan high profile seperti iklan rokok.

Sayangnya, yang terjadi selama ini banyak perusahaan yang membuat iklan high profile animasinya diimpor dari luar negeri. Itu ironis sekali dan sangat disayangkan, karena sebenarnya animator Indonesia bisa membuat dengan kualitas yang lebih baik.

Karena saya melihat talenta di Indonesia yang begitu banyak itulah, saya membuka studio agar pangsa pasar proyek-proyek animasi itu tidak lari keluar dan dikerjakan oleh anak-anak bangsa. Misalnya saja games 3D atau serial televisi.

Apa proyek breakthru yang digarap studio Anda?

Baru saja kami menyelesaikan proyek RPG games pertama di Indonesia; namanya Legrand Legacy. Indonesia ini tertinggal 20 tahun dari Jepang dalam hal pengembangan RPG games. Jepang sudah lebih dulu sukses dengan Final Fantasy.

Oleh karena itu, kami membuat RPG pertama di Indonesia yang akan dilansir tahun depan. Games ini juga akan dilengkapi dengan cerita dan film yang menggunakan animasi. Saat ini, promosi games ini sudah sangat heboh di luar negeri.

Games-nya sendiri bernuansa Indonesia, tetapi ada sentuhan inspirasi ala Jepang dan Barat karena memang kami menyasar pangsa pasar asing; khususnya pasar Jepang dan Amerika Serikat.

Apa karakter utama produksi dari studio ini? Ke mana saja pemasarannya?

Fokus kami adalah produksi high end animation. Klien kami banyak berasal dari luar negeri. Kami membuat iklan untuk perusahaan-perusahaan TV besar seperti HBO.

Kami juga membangun sekolah untuk menumbuhkan anak-anak yang suka bermain games. Jadi, mereka bisa belajar animasi 3D lalu langsung bekerja di industri animasi. Dengan program ini, setelah lulus sekolah mereka dijamin 100% kerja dan tidak perlu kuliah.

Menurut Anda, bagaimana kondisi bisnis atau industri animasi di Indonesia saat ini?

Sudah mulai maju. Buktinya, semakin banyak tayangan serial TV animasi lokal yang sukses. Misalnya, Adit Sopo Jarwo buatan MD Animation lalu Si Entong dari MNC. Itu semua bukti industri animasi Indonesia sudah semakin membaik.

Indikator lainnya adalah semakin banyak studio-studio animasi lokal di berbagai kota. Banyak dari studio-studio itu yang mengerjakan proyek-proyek industri komersial dari luar negeri.

Peluang pasar animasi di Indonesia sendiri bagaimana? Sebanyak apa permintaannya?

Pangsa pasarnya selama ini lebih banyak dari luar negeri, khususnya untuk animasi iklan komersial. Bisnis animasi ini adalah bisnis yang sangat mudah pemasarannya sebenarnya. Hanya lewat internet, tinggal unggah dan kirim ke klien. Sangat mudah komunikasinya.

Itulah sebabnya, kami mudah membangun jejaring pasar di luar negeri. Jarak bukan lagi hambatan bagi kami.

Permasalahan justru datang dari pangsa pasar dalam negeri. Untuk bikin iklan saja, banyak perusahaan dalam negeri yang lebih memilih menggunakan jasa animator asing.Nah, kami ingin menangkap peluang-peluang itu supaya devisanya tidak melayang ke luar negeri.

Asal tahu saja, iklan animasi berdurasi 30 detik saja bisa dihargai miliaran rupiah. Ketimbang dilempar ke animator dari luar negeri, mengapa tidak digarap oleh animator lokal saja? Pasar Indonesia ini masih belum percaya dengan kemampuan animator lokalnya.

Padahal, beberapa waktu lalu kami diboyong pemerintah Indonesia untuk ikut pameran games di Jepang dan Korea. Respons dari mereka ternyata sangat positif. Mereka kaget Indonesia ternyata bisa bikin animasi yang sangat bagus. Bahkan, kami dapat banyak proyek dari pameran-pameran itu.

Bagaimana tantangan yang dihadapi studio animasi?

Seperti yang saya bilang, pasar Indonesia masih belum percaya diri dengan kemampuan animator lokal. Mereka lebih percaya dengan animator asing, yang belum tentu kualitasnya lebih baik.

Padahal, mencari SDM animator di Indonesia itu tidak susah. Saya sering lihat anak 14 tahun yang sudah bisa membikin animasi dengan kualitas tidak kalah dibandingkan animator AS yang lulusan perguruan tinggi.

Banyak anak-anak yang suka maingames di Indoensia lalu berkembang menjadi animator. Sayangnya, kegemaran mereka ini tidak dianggap berguna oleh orangtuanya. Padahal, dari menjadi animator, mereka bisa mendapatkan kehidupan yang layak.

Mengapa banyak animator Indonesia yang akhirnya ke luar negeri?

Karena biar bagaimanapun proyek animasi di luar negeri lebih menantang dan gajinya lebih besar. Itulah mengapa banyak animator kita yang lari ke Jepang atau Malaysia. Mereka bekerja dulu di studio lokal untuk dijadikan batu loncatan berkarier ke luar negeri.

Itu juga menjadi salah satu problema yang kami hadapi. Bagaimana caranya mempertahankan talenta-talenta ini agar tidak lari keluar. Makanya itu, nanti kalau industrinya sudah cukup besar, saya ingin membuat semacam LucasFilm di Indonesia.

Jadi, studio animasi memiliki tempat kerja yang nyaman dengan gaji yang cukup.

Bagaimana prospek kerja sebagai animator di Indonesia saat ini?

Asal tahu saja, profesi animator ini adalah salah satu hot market di Indonesia saat ini. Talentanya banyak, tapi banyak juga yang ‘kabur’ ke luar negeri. Akibatnya, antarstudio animasi sering terjadi tarik-menarik [berebut] SDM.

Menjadi animator itu kalau lulusan baru [fresh graduate] gajinya bisa mencapai antara Rp5 juta—Rp7 juta per bulan. Setahun bekerja, gajinya sudah naik antara Rp7 juta—Rp12 juta per bulan. Bayangkan saja, stasiun TV itu kalau bikin proyek animasi bisa mempekerjakan animator hingga 200-300 orang.

Saat ini semakin banyak studio animasi baru bermunculan, bagaimana Anda memandang fenomena itu?

 Saya rasa ini bukan tren ikut-ikutan. Industri serial animasi untuk televisi saat ini grafiknya semakin naik. Konten yang bisa digali pun tidak terbatas. Itu berarti kebutuhan akan studio animasi pun semakin tinggi.

Tidak hanya untuk membuat serial atau film animasi, para animator dibutuhkan untuk berbagai proyek korporasi. Potensi pasarnya sangat besar. Hampir seluruh lini industri membutuhkan animasi.

Mulai dari mobile games, arsitektur, produk desain, simulasi senjata di militer, dunia medis, desain mobil, simulasi lalu lintas, dan sebagainya. Pangsa pasar industri ini sangat luas sekali.

Bagaimana persaingan antarstudio animasi lokal?

Justru indahnya industri animasi di Indonesia adalah kami belum sampai pada tahap saling berkompetisi. Sebab, industri animasi ini masih baru dikembangkan. Jadi, satu sama lain pelaku industrinya pasti saling kenal.

Selama ini kami justru saling membantu kalau ada proyek, bukan bersaing. Beda dengan Jepang, yang industrinya sudah matang sehingga ada persaingan antarstudio di dalamnya. Di Indonesia belum ke tahap itu.

Apa yang harus dilakukan untuk memperkuat industri animasi di dalam negeri?

Pastinya dukungan dari pemerintah dalam bentuk stimulus. Di Malaysia, misalnya, pemerintahnya mendatangkan tenaga ahli dari DreamWorks dan Disney untuk melatih pelaku industri animasinya.

Lalu, mereka juga memberikancashback; 60% dari proyek Upin Ipin itu dibiayai pemerintah Malaysia. Di Indonesia memang sudah mulai ada bentuk dukungannya, tapi kalau dibandingkan negara lain masih kurang.

Selain itu juga membuat IP [intelectual property]. Itu adalah hal yang harus dilakukan sekarang, supaya karya-karya animator lokal memiliki karakter dan dikenal serta diakui hak kekayaan intelektualnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

animasi
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top