Ini Buktinya, Bahagia dan Sedih Itu Tergantung Teman

Seseorang rentan tertular suasana hati temannya yang sedang baik atau justru buruk, menurut sebuah studi baru dalam jurnal Royal Society Open Science.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 27 September 2017  |  10:12 WIB
Ini Buktinya, Bahagia dan Sedih Itu Tergantung Teman
Kuantum Kebahagiaan. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Seseorang rentan tertular suasana hati temannya yang sedang baik atau justru buruk, menurut sebuah studi baru dalam jurnal Royal Society Open Science.

Dengan kata lain, kebahagiaan dan kesedihan - serta gaya hidup dan faktor perilaku seperti merokok, minum, obesitas, kebiasaan menjaga kebugaran, dan bahkan kemampuan untuk berkonsentrasi - dapat menyebar melalui jejaring sosial, baik online maupun di kehidupan nyata.

Namun, hal ini seharusnya tidak menghentikan Anda bergaul dengan teman-teman yang mengalami kesedihan, karena efeknya tidak cukup besar untuk mendorong Anda ke dalam depresi.

Secara tak langsung, studi menunjukkan bagaimana teman benar-benar saling mempengaruhi, dan membantu menyingkirkan kemungkinan pertemanan terjadi karena orang cenderung tertarik dan bergaul dengan orang lain seperti mereka.

Untuk keperluan studi, para peneliti melibatkan sejumlah kelompok siswa menegah pertama dan atas, menanyai mereka soal depresi dan pertanyaan tentang teman terbaik mereka.

Hasilnya, secara keseluruhan, anak-anak yang teman-temannya menderita bad mood lebih cenderung melaporkan mood buruk mereka sendiri. Suasana hati mereka bahkan cenderung tidak membaik saat hal ini diingatkan lagi setelah enam bulan sampai satu tahun kemudian.

Sebaliknya, ketika para partisipan memiliki lebih banyak teman yang suasana hatinya bagus dan bahagia, suasana hati mereka cenderung membaik seiring berjalannya waktu.

Beberapa gejala yang terkait dengan ketidakberdayaan seperti depresi, kelelahan, dan kehilangan minat - juga tampaknya mengikuti pola ini, atau oleh para ilmuwan disebut "penularan sosial."

"Tapi, ini bukan sesuatu yang orang perlu khawatirkan, mungkin ini hanya sebuah "respons empatis normal yang kita semua kenal, dan sesuatu yang kita kenali dengan akal sehat," ujar Robert Eyre, seorang mahasiswa doktoral di University of Warwick's Centre for Complexity Science seperti dilansir laman Health.com.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tips bahagia

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top