40 Proyek Film Ditawarkan ke Investor

Akatara Indonesia Film Financing Forum 2017, forum pendanaan proyek film yang dibentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Perfilman Indonesia (BPI), menjajakan 40 proyek film terpilih kepada para investor.
Newswire | 15 November 2017 16:02 WIB
Ilustrasi syuting film - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -  Akatara Indonesia Film Financing Forum 2017, forum pendanaan proyek film yang dibentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Perfilman Indonesia (BPI), menjajakan 40 proyek film terpilih kepada para investor.

Forum perjodohan bisnis film yang pertama kali digelar di Indonesia itu diselenggarakan sebagai upaya menjaring minat investor untuk membuka akses pendanaan perfilman nasional.

"Forum ini pertama kali di Indonesia, sebuah forum terbuka yang mempertemukan orang-orang yang punya ide film dengan para penyandang dana yang selama ini belum menyadari bahwa proyek film bisa sangat menguntungkan," kata Kepala Bekraf Triawan Munaf dalam gelaran Akatara di Jakarta, Rabu (15/11/2017).

Triawan menjelaskan proyek film memiliki kesempatan untuk bias lebih menguntungkan ketimbang proyek rintisan digital yang kini marak dikembangkan. Dengan peluang yang sama, ia menilai investasi juga bias disalurkan ke salah satu subsector industri kreatif tersebut.

"Proyek ini akan menjadi proyek awal yang ke depannya akan lebih bagus lagi," katanya.

Akatara digelar 15-16 November 2017 dengan mengundang sekitar 50 investor dari dalam dan luar negeri. Ada 40 proyek film yang dijajakan kepada para investor, terdiri atas 28 proyek film terpilih, 10 proyek film di destinasi wisata unggulan dan dua proyek film kerja sama Bekraf dan Torino Film Lab.

Ke 40 proyek film yang terpilih memenuhi kriteria antara lain dari penilaian sisi sinopsis dan ide cerita, "timeline" (linimasa) produksi, anggaran, proyeksi Bisnis, dan portofolio. Ke 40 proyek film tersebut dipamerkan pada katalog dan 12 proyek film dipresentasikan langsung di hadapan investor.

Menurut Triawan, lantaran sifatnya yang hanya memfasilitasi "perjodohan" bisnis, maka tidak ada target spesifik yang ingin diraih badan ekonomi kreatif tersebut. Kegiatan forum pendanaan proyek film itu rencanakanya akan menjadi agenda tahunan yang digelar dua kali dalam setahun.

"Ini kan 'matchmaking' atau istilahnya biro jodoh, kita pertemukan mereka. Mereka nantinya mau kawin atau pacaran saja, atau mungkin pacaran dulu kawinnya tahun depan, ini butuh 'chemistry' antara pihak investor dengan pembuat film," katanya.

Triawan berharap, forum tersebut menjadi subsektor tumpuan yang mendukung kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Saat ini, ia menyebut kontribusi film terhadap PDB masih sangat kecil, yakni hanya sekitar 0,4%.

"Saya inginnya semoga ada kenaikan 1 persen saja dulu, itu juga sudah lumayan," tuturnya.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong, dalam kesempatan yang sama, mengungkapkan perfilman menjadi bidang baru yang seksi untuk digarap. Mantan mitra pendiri Quvat Capital, perusahaan investasi yang menanamkan modal di perusahaan pengelola bioskop Blitzmegaplex itu menyebut berinvestasi di sektor yang baru itu akan menjadi suatu kebanggan tersendiri.

"Bagi teman-teman, ini peluang untuk menjadi pionir dalam pendanaan perfilman Indonesia. Ini akan jadi industri besar yang mempekerjakan puluhan ribu orang. Akan ada orang yang sangat kaya karena bisa bangun bisnis besar seperti ini, tapi orang sukses itu memulainya dari sekarang," katanya.

Tom, sapaan akrab Thomas, juga menyebut bernvestasi di perfilman punya prospek yang menjanjikan karena industrinya yang terus tumbuh dan matang.

"Prospeknya sangat baik," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri film

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top