RESENSI BUKU : Belajar dari Warisan Ali Wardhana

Dari sekian banyak nama yang berjasa di bidang perekonomian Indonesia, mungkin nama Ali Wardhana termasuk ke dalam jajaran papan atas. Pemikirannya meninggalkan segudang warisan yang menjadi landasan dari kebijakan fiskal dan moneter di negeri ini. Maka tidaklah berlebihan jika Marzuki Usman mengenang jasa-jasanya melalui narasi-narasi komprehensif yang disusun dalam sebuah buku biografi bertitel Prof. Dr. Ali Wardhana: Pembaharu Kebijakan Moneter dan Fiskal di Indonesia.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 16 Desember 2017  |  23:11 WIB
RESENSI BUKU : Belajar dari Warisan Ali Wardhana
Mantan Menteri Keuangan era Presiden Soeharto, Ali Wardhana (kanan) foto bersama dengan Mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sri Mulyani (kiri).Antara

Judul : Prof. Dr. Ali Wardhana: Pembaharu Kebijakan Moneter dan Fiskal di Indonesia
Penulis : Marzuki Usman

Penerbit : PP ISEI dan Kantor Marzuki Usman (M.OE)

Tebal : 392 halaman

Cetakan : Pertama, Januari 2017

ISBN-13 : 978-602-147-222-

Dari sekian banyak nama yang berjasa di bidang perekonomian Indonesia, mungkin nama Ali Wardhana termasuk ke dalam jajaran papan atas. Pemikirannya meninggalkan segudang warisan yang menjadi landasan dari kebijakan fiskal dan moneter di negeri ini.

Maka tidaklah berlebihan jika Marzuki Usman mengenang jasa-jasanya melalui narasi-narasi komprehensif yang disusun dalam sebuah buku biografi bertitel Prof. Dr. Ali Wardhana: Pembaharu Kebijakan Moneter dan Fiskal di Indonesia.

Ali sendiri adalah salah satu anggota penasehat perekonomian selama era Orde Baru. Jabatan Menteri Koordinasi Ekonomi, Keuangan, Industri, dan Pengawasan Pembangunan pernah dia duduki selama 1983-1988.

Dia juga pernah menjadi Menteri Keuangan pada 1968—1983, sehingga menjadikannya sebagai menteri keuangan terlama dalam sejarah Indoensia. Karena keahliannya, dia juga diakui secara internasional saat didapuk menjadi Ketua Dewan Gubernur Bank Dunia dan IMF pada 1971-1972.

Belajar dari pencapaian Ali Wardhana, buku ini disusun sebagai rangkuman dari pemikiran-pemikiran Ali dan jasa-jasanya terhadap sistem keuangan di Tanah Air. Jilidan ini terbagi atas lima bab yang mengulas secara mendalam tentang sepak terjang sang reformator keuangan.

Bab pertama membahas mengenai problematika ekonomi makro, bab kedua tentang forum internasional yang pernah dihadiri Ali, bab ketiga tentang pendidikan dan penelitiannya, bab keempat masalah kepemimpinannya, dan bab kelima tentang keluarga dan sahabatnya.

Uniknya, masing-masing bab ditulis dengan gaya yang beragam karena disusun oleh berbagai pihak. Mulai dari tulisan asli Ali Wardhana, testimoni, kesaksian, hingga hasil wawancara. Namun, yang jelas, gaya bertutur yang disuguhkan cukup gamblang dan mudah dipahami.

Salah satu bagian yang menarik dari buku ini adalah ulasan mengenai warisan Ali Wardhana yang sangat penting bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia, yaitu sistem pemungutan pajak secara self assesment. Indonesia adalah negara pioner yang menerapkan sistem perpajakan modern ini.

Ali berpikir bahwa reformasi perpajakan harus dilakukan karena republik ini tidak boleh terus-menerus begantung pada pendapatan dari minyak dan gas. Dengan reformasi yang diinisiasinya, terbukti pendapatan nonmigas RI melesat menjadi 11,2% PDB pada 1993-1994 dari hanya 5,5% satu dekade sebelumnya.

Selain itu, kiprah Ali di forum internasional juga tidak kalah menariknya. Terdapat satu tulisan dari sudut pandang Emil Salim, yang mengungkapkan bahwa Ali adalah pejuang di Bank Dunia dan IMF pada awal 1970-an untuk membenahi kondisi perekonomian global yang saat itu tidak adil bagi negara berkembang.

Selain membahas kiprah kariernya, buku ini turut mengungkapkan sisi lain Ali dari sudut pandang keluarganya. Diceritakan, pria yang dipanggil daddy oleh anak-anaknya itu selalu mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang rendah hati dan tidak ‘mendompleng’ jabatan orang tuanya.

“Tidak ada ibu menteri dan tidak ada anak menteri,” demikian pesan Ali kepada keluarganya, sehingga mereka selalu terbiasa berperan sebagai orang kebanyakan. Namun, di dalam buku ini juga terungkap bahwa ketiga anak Ali selalu memandangnya sebagai sosok yang workaholic.

Pressure yang dihadapi daddy sungguh sangat tidak ringan. Kami pernah mendengar dari teman-temannya, beliau ingin mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri. Pada dasarnya daddy tipe orang yang tidak suka mengeluh. Seberat apapun beban di kantornya, [dia] tidak pernah mengeluarkannya kepada mami, lebih-lebih kepada anaknya.”

Secara umum, ini adalah buku panduan lengkap jika Anda ingin mengenal lebih dekat sosok pejuang sistem perekonomian modern Indonesia saat ini. Dengan belajar dari perjuangan reformasi keuangan pada masa lalu, diharapkan ke depannya Indonesia dapat memetik pelajaran berharga untuk menjadi lebih baik.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
resensi buku

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top