Ini Manfaat Kegiatan Gym Khusus Anak

Banyaknya pusat kebugaran khusus anak yang bermunculan di berbagai kota saat ini menjadi preseden baik bagi para orang tua yang peduli akan tumbuh kembang buah hatinya. Namun, apakah sebenarnya manfaat mengikutikan anak ke kelas-kelas pusat kebugaran?
Wike Dita Herlinda | 10 Januari 2018 18:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Banyaknya pusat kebugaran khusus anak yang bermunculan di berbagai kota saat ini menjadi preseden baik bagi para orang tua yang peduli akan tumbuh kembang buah hatinya. Namun, apakah sebenarnya manfaat mengikutikan anak ke kelas-kelas pusat kebugaran.

Berikut penjelasan dokter spesialis olah raga, Dr Imran Nurali SpKO, yang juga adalah Kasubdit Bina Kapasitas Kerja Direktorat Bina Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan:

Bagaimana Anda melihat tren pusat kebugaran yang dikhususkan untuk anak ini?

Saya melihatnya hanya sebagai sarana seperti kelompok bermain [play group] dan bersosialisasi. Masalah penamaan menggunakan istilah gym atau fitness itu hanya untuk gimmick pemasaran saja.

Apa pentingnya anak mengikuti latihan di gym atau pusat kebugaran khusus anak?

Pada prinsipnya aktivitas fisik dibutuhkan oleh manusia berdasarkan golongan usia. Untuk anak, aktivitas fisik sebaiknya lebih banyak yang mengandung unsur bermain, agar dia tidak tidur terus atau duduk terus atau berdiam diri saja.

Jadi [kids gym] dianjurkan untuk anak-anak agar mereka lebih banyak bergerak. Sarana seperti itu dianjurkan untuk anak balita sampai dengan usia sekolah. Kalau balita, aktivitasnya lebih baik yang berupa permainan. Baru setelah tingkat SD atau SMP mulai dijuruskan untuk berolah raga menggunakan alat.

Menurut saya, keberadaan pusat kebugaran khusus anak bisa jadi juga merupakan solusi atas keterbatasan lahan di perkotaan. Namun, sebaiknya anak-anak lebih banyak melakukan aktivitas fisik di luar ruangan seperti di taman.

Tujuannya selain baik bagi tumbuh kembang fisik mereka, juga agar mereka dapat bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Pola kegiatannya juga lebih ke permainan saja, bukan latihan fisik.

Apa jenis olah raga yang direkomendasikan untuk anak?

Jadi, dalam kebugaran ada piramida di mana lapisan terbawah atau yang paling dasar meliputi aktivitas fisik. Di atasnya adalah latihan fisik, dan yang terpuncak adalah olah raga. Tingkat dasar atau aktivitas fisik inilah yang penting untuk tumbuh kembang anak.

Dalam rangka tumbuh kembang fisik dan psikologis, anak usia balita sampai dengan batas pubertas membutuhkan banyak aktivitas gerak yang tidak menjadi pembeban bagi tulang. Olah raga yang banyak melompat dan melawan gravitasi itu justru mempercepat penutupan pertumbuhan tulang.  

Sendi-sendi tulang akan cepat mengeras jika sering berbenturan akibat aktivitas yang melawan gravitasi seperti melompat. Akibatnya tulang menjadi cepat mengeras dan pertumbuhan fisik anak bisa menjadi terbatas.

Oleh karena itu, aktivitas yang banyak melompat atau melawan gravitasi tidak disarankan untuk anak di bawah usia 10 tahun. Sebab, mereka masih membutuhkan waktu untuk tumbuh kembang organ vital seperti paru-paru dan jantung.

Setelah usia 8—9 tahun, baru anak-anak mulai diperkenalkan pada latihan kecepatan. Pada dasarnya ada 4 unsur keterampilan dasar yang dibutuhkan oleh anak, antara lain lari, loncat, lempar, dan lontar untuk melatih tangan dan kaki.

Apa dampak jika anak kekurangan olah raga?

Anak yang tidak terbiasa beraktivitas fisik atau terlalu banyak berdiam diri akan mengalami hambatan pada pertumbuhan tulang dan otot, termasuk paru-paru dan jantung. Jadi agar tumbuh kembang mereka optimal harus ditunjang dengan aktivitas fisik yang tidak terlalu berat dan tidak dipaksakan.

Berapa kali sebaiknya anak mengikuti latihan fisik di gym?

Kalau pola kegiatannya berupa permainan, diperlukan setiap hari minimal satu jam asalkan tidak melelahkan. Jangan memaksakan anak untuk melakukan latihan berat seperti lari.

Apakah selama ini kelas olahraga untuk anak di sekolah kurang?

Pendidikan jasmani di SD sekarang lebih banyak dilakukan di dalam kelas. Menurut saya, standar penjas sekarang masih kurang karena lebih banyak teorinya bukan pada pendidikan keterampilannya.

Anak-anak biasanya hanya melakukan aktivitas di luar kelas hanya satu atau dua jam pelajaran dalam sepekan. Itupun biasanya mereka hanya dilepas atau dibebaskan begitu saja oleh gurunya, sehingga pola latihannya tidak terarah.

Jadi, semua itu sebenarnya tergantung pada gurunya. Mata pelajaran penjas di SD seharusnya dikuatkan dengan melatih keterampilan gerakan dasar dan aktivitas fisik di luar ruangan.

Tag : anak
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top