Tren Musik : Musisi Muda Membuat Karya Bertema Kritik Sosial

Saat ini, bermunculan musisi generasi muda yang gemar menyuarakan kritik sosial melalui karya-karya mereka. Misalnya saja Silampukau, Efek Rumah Kaca, Nostress, dan masih banyak lagi
Wike Dita Herlinda | 14 Februari 2018 16:37 WIB
Silampukau - Twitter.jpg

Bisnis.com, JAKARTA - Politik dan sosial budaya tidak bisa dilepaskan dari jagat musik. Saat ini, bermunculan musisi generasi muda yang gemar menyuarakan kritik sosial melalui karya-karya mereka. Misalnya saja Silampukau, Efek Rumah Kaca, Nostress, dan masih banyak lagi.

Seperti apakah posisi musisi-musisi ini di dalam budaya populer? Akankah karya-karya mereka bertahan lama dan memberi warna serta pengaruh pada budaya pop di Tanah Air?

Menurut pengamat budaya populer Yapi Panda Abdiel Tambayong alias Remy Sylado, semakin merebaknya musisi generasi muda yang mengangkat tema-tema politik dan sosial dalam karya mereka dipicu pendidikan musikus zaman sekarang yang sudah lebih mumpuni.

“Memang pemusik muda sekarang ini kebanyakan sudah berpendidikan bagus, dengan standar sarjana. Di samping itu, mereka juga banyak yang mengikuti sekolah musik dengan tertib. Sementara itu, musisi zaman dulu sampai dengan dekade 1980—1990-an, lebih banyak menghasilkan karya karena bakat alam. Jika ingin belajar musik secara mumpuni, banyak dari mereka yang harus pergi ke luar negeri,” ujarnya kepada Bisnis.

Remy berpendapat latar belakang pendidikan seorang musisi itulah yang turut mempengaruhi cara pandang mereka terhadap sebuah isu atau fenomena sosial. Itu juga yang menyebabkan mereka semakin kritis dan kreatif dalam mengolah tema sosial atau politik ke dalam bait-bait lagu.

Pada saat bersamaan, lanjutnya, budaya pop di Indonesia zaman sekarang sudah lebih mudah diterima masyarakat luas. Berbeda dengan dekade 1960—1970-an, saat musik berbau politis dalam budaya pop masih dipandang tabu sebagian kalangan.

Sekarang ini masyarakat terbuka dengan budaya populer dan sudah bisa menerima tema-tema yang beragam dalam musik, termasuk musik yang mengandung kritik politik maupun sosial. Dengan demikian, musisi yang mengangkat tema-tema sosial politik pun dapat lebih leluasa memengaruhi kebudayaan populer di Indonesia.

Salah satu musisi indie yang terkenal melalui lirik-liriknya yang mengandung kritik sosial dan politik adalah Silampukau. Band folk asal Surabaya ini beranggotakan Eki Tresnowening dan Kharis Junandharu.

Lewat lagu-lagunya, mereka memberikan pandangan unik tentang kehidupan sosial dewasa ini, kritik politik, hingga narasi tentang kehidupan kelas bawah di Surabaya. Hal itu juga yang menjadikan album debut mereka Dosa, Kota, dan Kenangan, melejit di belantika musik nasional.

Kharis, vokalis Silampukau, mengatakan bandnya yang terbentuk sejak 2009 memang selalu berusaha melantunkan lagu-lagu tentang fenomena sosial di sekitar mereka. Menurutnya, kritik sosial budaya memang perlu untuk diejawantahkan ke dalam karya musik.

“Sebagai penulis lagu, kami [dalam album Dosa, Kota, dan Kenangan] memposisikan diri sebagai pencatat narasi-narasi pinggiran kehidupan perkotaan, hal-hal yang tabu dibicarakan, juga untuk mengartikulasikan perasaan-perasaan yang seringkali kita sisihkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dia mengaku inspirasi lirik-lirik lagu Silampukau biasanya datang dari obrolan-obrolan kecil di warung kopi. Dari obrolan-obrolan rakyat itulah mereka menemukan ilham untuk menjadi tema lagu.

“Sejujurnya, bisa dikatakan agak mirip dengan suasana rapat redaksi surat kabar. Kami berusaha netral dalam menghadapi suatu tema dan membicarakannya dalam berbagai perspektif yang bertentangan, sebelum mengolahnya menjadi nyanyian. Walaupun, tenggat waktu pengerjaan kami tentunya jauh lebih fleksibel ketimbang surat kabar,” lanjut Kharis.

Menanggapi respons publik atas karya-karya Silampukau, Kharis berpendapat hal itu adalah energi untuk menghasilkan karya-karya apik.

“Atau, mungkin lebih tepat jika kami katakan bahwa respons publik adalah pelumas bagi kami untuk berkarya, karena rasanya bahan bakar karya-karya kami adalah kegelisahan dan pertanyaan atas kondisi sosio-kultural dan sosio-politik,” tutur Kharis.

Tag : musik
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top