Film Black Panther : Surat Cinta dan Permintaan Maaf Hollywood

Selama puluhan tahun, Februari dikenal sebagai bulan sial untuk melansir film bagi Hollywood.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 18 Februari 2018  |  17:55 WIB
Film Black Panther : Surat Cinta dan Permintaan Maaf Hollywood
Black Panther - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA--Selama puluhan tahun, Februari dikenal sebagai bulan ‘sial’ untuk melansir film bagi Hollywood. Bulan kedua dalam tanggalan masehi ini kerap diasosiasikan dengan saat tepat untuk ‘membuang’ film dengan kualitas rendah atau yang diprediksi bakal tidak perform di Box Office.

 

Mematahakn kutukan tersebut, Walt Disney Studios Motion Pictures nekat merilis film produksi Marvel Studios; Black Panther. Di Amerika Serikat, film itu tayang pada 16 Februari. Di banyak negara termasuk Indonesia film ini sudah diputar di layar lebar sejak Hari Valentine; 14 Februari.

 

Diadptasi dari tokoh komik buatan Stan Lee dan Jack Kirby yang muncul perdana di edisi Fantastic Four #52 (Juli 1966), Black Panther adalah karakter pahlawan super berkulit hitam pertama yang mendobrak jagat komik mainstream Amerika.

 

Bernama asli T’Challa, tokoh ini merupakan raja dari sebuah negara fiksi di Benua Afrika yang bernama Wakanda. Dikelilingi oleh latar kemiskinan di Benua Hitam, Wakanda rupanya mengembangkan peradaban dan teknologi yang sangat sophisticated dan di luar nalar berkat sumber daya yang sangat berharga bernama Vibranium, yang berasal dari sebuah meteor.

 

Dalam perkembangannya di dunia film, Raja Wakanda ini hanya ditayangkan dalam bentuk animasi di layar kaca. Dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk diadaptasi secara live action. Paling-paling, hanya muncul sekali di pentas role play Marvel Super Heroes pada 1984.

 

Apa boleh buat, di Tinseltown masih berkembang stereotipe bahwa membuat film pahlawan super dengan tokoh utama berkulit hitam tidak akan menghasilkan uang. Mereka percaya penonton lebih menyukai sosok heroik berkulit putih  dan tampan berusia 35 tahun ke bawah.

 

Hingga pada Oktober 2014, Marvel Studios membuat kejutan besar dengan memperkenalkan sosok Black Panther sebagai salah satu karakter super hero di film Captain America: Civil War. Di luar dugaan, publik begitu antusias terhadap tokoh yang diperankan Chadwick Boseman ini.

 

Respons positif terhadap Black Panther di Civil War mendorong Marvel semakin percaya diri saat melansir film standalone-nya pada Februari 2018. Tidak tanggung-tanggung, studio yang dipimpin Kevin Feige ini memboyong mayoritas orang kulit hitam untuk menggarap film ini.

 

Mulai dari sutradara Ryan Coogler, hingga jajaran pemainnya yang didominasi people of color, seperti Chadwick Boseman, Michael B. Jordan, Lupita Nyong’o, Danai Gurira, Daniel Kaluuya, Letitia Wright, Winston Duke, Angela Bassett, hingga Forest Whitaker.

 

Jelas ini merupakan langkah yang tidak populer dilakukan di Hollywood, apalagi untuk sebuah film mainstream dengan budget raksasa mencapai US$200 juta dan dijadwalkan untuk tayang bukan pada bulan favorit.

 

Namun, reaksi positif mulai bermunculan sejak teaser dan trailer film ini dilepas ke ruang publik. Lihat saja, di YouTube, ada puluhan video reaksi yang mengulas respons positf dan antusiasme penonton terhadap film adaptasi komik ini.

 

TEBUS KESALAHAN

 

Sepekan jelang premier Black Panther, jagat maya dibanjiri oleh review dini dari para kritikus dan situs-situs perfilman kenamaan. Black Panther pun menjadi topik tren di media sosial, dan memecahkan rekor sebagai film yang paling banyak dikicaukan di Twitter pada 2018 (sejauh ini).

 

Faktor utama yang membuat film ke-18 dari seri Marvel Cinematic Universe (MCU) inimenjadi buah bibir adalah karena kemunculan harapan baru bahwa Hollywood tidak lagi meminggirkan kaum minoritas selain kulit putih dalam film produksi besarnya.

 

Black Panther juga dianggap sebagai ‘surat cinta’ dari Hollywood sekaligus permintaan maaf atas kesalahan mengbaikan aspek diversitas selama berdekade-dekade. Film ini mendadak menjadi sebuah cult dan simbolisasi atas pergerakan African Price dan era baru industri film Amerika.  

 

“Marvel punya cara untuk mempengaruhi budaya populer. Semoga [film Black Panther] mengubah cara pandang publik tentang Afrika. Sebab, Afrika selama ini hanya digambarkan sebagai tempat yang kelam. Sekarang, mari kita lihat Afrika sebagai tempat yang ingin kita kunjungi,” tutur aktris Lupita Nyong’o yang berperan sebagai Nakia, dikutip dari Reuters.

 

Sementara itu, aktor utama Chadwick Boseman mengatakan sangat jarang ada film mainstream yang menayangkan dua atau lebih orang kulit hitam yang memerankan tokoh utama yang penting. “Di Ocean’s Eleven, misalnya, hanya ada Brad Pitt, Mad Damon, dan George Clooney. Kami [orang kulit hitam] merasa, ‘Mengapa itu tidak pernah terjadi pada kami?’,” ujarnya.

 

Harapan yang besar tertanggung di pundak tim Black Panther untuk menjadikan film ini sebagai benchmark perubahan era penuh toleransi di Hollywood. Film ini akan dijadikan pembuktian bahwa tokoh utama selain kulit putih pun mampu menghasilkan uang.

 

Tidak hanya itu, film ini juga membuka presepsi publik tentang Afrika; bahwasannya benua tersebut juga menarik untuk digarap sebagai latar film fiksi sains dengan pemandangan futuristik dan metropolis modern, tetapi tidak menanggalkan unsur tribal dan aksen khas setempat.

 

“Estetika dari film ini begitu indah dipandang dan juga sangat Afro-centric, serta menunjukkan Afrika dalam balutan dunia modern dan futuristik. Seluruh penggambaran ini sangat penting untuk mengubah citra Afrika, khususnya bagi generasi muda,” kata Angela Bassett yang berperan sebagai Ibu T’Challa.

 

PUJIAN KRITIK

 

Meskipun baru ditayangkan beberapa hari, film ini diyakini memecahkan rekor sejarah dalam hal pendapatan tertinggi untuk judul yang dilansir pada Februari. Film ini diproyeksi mengeruk lebih dari US$200 juta di Box Office, memecahkan rekor Februari yang sebelumnya direngut oleh Deadpool dengan pendapatan senilai US$152,2 juta pada 2016.

 

Di kalangan kritikus film, Black Panther atau yang kini dijuluki sebagai The New Black Marvel Superhero Movie sudah memecahkan rekornya sendiri. Di situs agregator kritik Rotten Tomatoes, film ini diganjar dengan nilai 98%.

 

Angka tersebut adalah pencapaian tertinggi yang pernah dituai oleh sebuah film pahlawan super sepanjang sejarah. Nilai 98% melampaui pencapaian Iron Man (2008) dan The Dark Knight (2008), yang masing-masing diganjar 94%.

 

Banyak kritikus terakreditasi yang mengklaim (meskipun layak diperdebatkan) Black Panther adalah film pahlawan super terbaik yang dibuat oleh Marvel sejauh ini. Salah satu pemicunya adalah timing peluncurannya yang bersamaan dengan kampanya protes #OscarsSoWhite.

 

Namun, di luar nuansa politis tersebut, Black Panther banyak dipuji karena cinematografinya yang cantik, alur cerita yang menarik, dan akting para aktornya yang compelling. Sebagai contoh, The New York Times menyebut film ini memukau dan menyentuh dan memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar branding-nya.

 

Sementara itu, Entertainmet Weekly (EW) menuliskan bahwa nuansa selebrasi pengakuan identitas kulit hitam adalah kekuatan utama dari film ini. Di lain pihak, IndieWire menyebut film ini sebagai karya terbaik Marvel sejauh ini.

 

Komentar lain datang dari USA Today yang menyebut Black Panther memiliki banyak elemen fantastis yang setara dengan film-film James Bond. Lebih jauh, latar belakang ceritanya sangat menyentuh kondisi kolonialisasi dan isolasi di Afrika.

 

Di sisi lain, Business Insider mengatakan film ini diluncurkan pada momentum yang tepat. Sama seperti Wonder Woman yang mendobrak strereotipe tentang pahlawan super wanita, film ini mengambil simpati fans yang merindukan adanya diversitas di Hollywood selama puluhan tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, film hollywood

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top