Ini Jumlah Biaya Untuk Pengobatan Kanker pada Anak

Pada 2015, menurut World Health Organization (WHO) pernah merilis data bahwa dari 14,1 juta orang penderita kanker di dunia, sebanyak 4% di antaranya adalah anak-anak dan 80% dari jumlah itu berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Yoseph Pencawan | 22 Februari 2018 21:33 WIB
Kanker - telegraph.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA – Kanker menjadi salah satu pembunuh utama, termasuk kanker anak. Kasus kematian akibat kanker pada anak terutama terjadi di negara berkembang yang kekurangan fasilitas dan tenaga pengobatan.

Pada 2015, World Health Organization (WHO) pernah merilis data bahwa dari 14,1 juta orang penderita kanker di dunia, sebanyak 4% di antaranya adalah anak-anak dan 80% dari jumlah itu berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut Direktur Utama Rumah Sakit Dharmais Abdul Kadir mengatakan, dahulu bila seseorang divonis menderita kanker, maka dia langsung jatuh miskin karena begitu mahalnya biaya pengobatan dan perawatan.

Pasalnya, biaya pengobatan dan penyembuhan sangat mahal. Tindakan kemoterapi yang diberikan sebanyak 5–6 siklus, yang satu siklus membutuhkan biaya Rp30 juta, dengan jarak 21 hari, sudah menghabiskan Rp180 juta.

Ditambah dengan radioterapi yang harus diberikan, dengan sekali penyinaran memakan biaya Rp1,6 juta sehingga bila diberikan dengan frekuensi setiap minggu 5 kali selama 6 minggu atau 8 minggu, membutukan dana Rp140 juta.

Belum lagi apabila ada tindakan operasi yang meskipun tergantung jenis operasinya, tetap saja rata-rata menelan biaya puluhan juta rupiah.

“Secara total, biayanya [pengobatan kanker] Rp300 juta sampai Rp400 juta. Bisa dibayangkan, kalau ada masyarakat kita yang menderita kanker, meskipun ekonominya menengah, langsung jatuh miskin,” papar Kadir.

Pemerintah telah menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjamin pembiayaan pengobatan dan perawatan penyakit yang diderita masyarakat, termasuk kanker pada anak.

Sayangnya, kasus kanker anak yang terdeteksi juga semakin banyak. Kadir meyakini peningkatan kasus kanker pada anak bisa juga karena akses masyarakat ke rumah sakit sudah semakin gampang karena ada BPJS.

Sebelum ada BPJS, populasi penderita kanker anak tidak banyak bukan karena kasusnya kurang, tetapi karena tidak berobat ke rumah sakit akibat tidak memiliki biaya.

Kementerian Kesehatan mencatat terdapat lebih dari 16.000 kasus kanker diderita anak pada usia 0–14 tahun di Indonesia per tahun dan 100–130 kasus kanker ditemukan pada setiap 1 juta anak.

Bahkan, pada 2015 World Health Organization (WHO) pernah merilis data bahwa dari 14,1 juta orang penderita kanker di dunia, sebanyak 4% di antaranya adalah anak-anak dan 80% dari jumlah itu berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Penanganan dini kanker anak melalui sosialisasi dan edukasi penting dilakukan mengingat masih sangat minimnya jumlah dokter, rumah sakit, dan peralatan yang mampu melayani penderita.

Ira Soelistyo mengungkapkan bahwa dari 250 juta lebih penduduk, jumlah dokter yang mampu menangani kanker anak hanya sekitar 79 orang. Rumah sakit yang memiliki perlengkapan memadai untuk pengobatan dan perawatannya baru 15, itu pun mayoritas di Pulau Jawa.

Abdul Kadir manambahkan, Indonesia juga sangat kekurangan peralatan medis untuk menangani kanker, seperti alat radioterapi. Sekarang ini fasilitas radioterapi di Indonesia masih sekitar 58 unit, padahal dalam 1 juta penduduk harus ada 1 radioterapi.

Selain itu, lanjutnya, dibutuhkan penambahan ruang dan tempat tidur bagi penderita kanker anak karena jumlah pasien yang ditangani semakin meningkat setiap tahun. Di RS Dharmais saja, katanya, ada sebanyak 156 pasien selama 2015 dan meningkat menjadi 164 pada 2016, untuk kasus baru.

Tag : obat, kanker, bpjs kesehatan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top