Pahami Masa Depan Anak, Mereka Bukan Fotocopy Orang Tua

Jika dahulu anak baru berpikir dan memutuskan kelanjutan pendidikan pada saat-saat akhir pendidikan menengah atas, sekarang beda. Bahkan mereka sudah bisa memikirkan arah pendidikan tinggi saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Yoseph Pencawan | 23 Februari 2018 06:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Anak zaman sekarang mampu lebih cepat memutuskan pilihan pendidikan yang akan ditempuh seiring dengan semakin mudahnya akses informasi.

Jika dahulu anak baru berpikir dan memutuskan kelanjutan pendidikan pada saat-saat akhir pendidikan menengah atas, sekarang beda. Bahkan mereka sudah bisa memikirkan arah pendidikan tinggi saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Anak zaman sekarang lebih cepat memutuskan kelanjutan pendidikannya karena banyak yang dia lihat dengan kemudahan informasi sekarang ini,” ujar psikolog dan akademisi Binus University Lisa Ratriana.

Tapi, Tambah Lisa, peran orang tua tetap diperlukan dalam penentuan kelanjutan pendidikan anak. Orang tua harus membantu mengarahkan anak dan tidak boleh melepas begitu saja.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Orang tua harus menyediakan waktu khusus buat keluarga untuk berdiskusi, termasuk mengenai keinginan anak terhadap pendidikan.

Bahkan, orang tua perlu mengarahkan pendidikan anaknya sejak dini, bukan setelah duduk di sekolah menengah atas. “Kalau tamat SMA orang tua baru mengarahkan anaknya itu sudah terlambat.”

Arah pendidikan harus dikondisikan sejak sekolah dasar sehingga anak memiliki kesiapan dan pada akhirnya tidak terkesan pemaksaan.

“Anak punya keinginan dan ingat, anak bukan fotocopy kita, itu yang paling penting, anak bukan fotocopy kita,” ujar Lisa.

Bila anak memilih pendidikan yang tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orang tua dan orang tua melarangnya, kita harus menjelaskan mengapa melakukan pelarangan.

Anak pun harus dimintai penjelasan mengenai alasan pilihannya tersebut. Sepanjang dia bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia pilih, orang tua perlu mendukung.

Orang tua biasanya pragmatis dalam merencanakan kelanjutan pendidikan anak, seperti mengincar jurusan yang bisa prospek kerjanya bagus.

Anak memiliki kedewasaan berpikir dan bertindak, yang utamanya tidak ditentukan oleh usia. Kedewasaan anak akan lebih dipengaruhi pola asuh dari orang tua.

Bila orang tua membiasakan anak-anaknya untuk mengeluarkan pendapat, biasanya mereka akan menjadi lebih cepat mandiri. Tapi bila orang tua otoriter, sampai kuliah pun, bisa jadi, sang anak masih sangat tergantung kepada orang tuanya.

“Bukan lebih longgar, tetapi orang tua harus lebih mau mendengarkan. Berbeda dengan zaman dahulu yang lebih banyak berdasarkan atas perintah.”

Senada, pemerhati sosial Muhamad Nanang Suprayogi mengatakan bahwa untuk mendampingi anak memutuskan arah kelanjutan pendidikannya tidak mungkin dilakukan sejak SD, tetapi saat SMA. Namun, bimbingan terhadap bidang mana yang akan ditekuninya perlu dilakukan sejak dini.

“Misalnya sejak SD si anak sudah suka pelajaran science, IPA, maka perlu dilanjutkan ke pendidikanya dan guru harus diberi tahu juga. Alhasil, pada saat SMA, orang tua sudah dapat gambaran konkret, kuliah si anak di bidang apa.”

Orang tua juga dinilainya tidak boleh mendominasi atau menentukan pilihan anak. Peran orang tua hanya sebagai pendukung atau supporting, membantu memfasilitasi.

Anak adalah pihak yang akan menjalani masa depannya sendiri, tetapi mereka tetap butuh dukungan dan bimbingan.

Tag : pendidikan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top