Tekan Kematian Kanker Serviks, HOGI Dorong Program Nasional Vaksin HPV

Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) mendorong program nasional vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks segera dilaksanakan pemerintah, mengingat kondisinya sudah mendesak.
Wike Dita Herlinda | 27 Februari 2018 17:33 WIB
Ilustrasi - jibi

Bisnis.com, JAKARTA—Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) mendorong program nasional vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks segera dilaksanakan pemerintah, mengingat kondisinya sudah mendesak.

Data Globocan 2012, menunjukkan setiap satu jam perempuan meninggal karena kanker serviks di Indonesia. Kematian seorang perempuan yang juga seorang ibu akibat kanker serviks bukan sekadar hilangnya satu nyawa, namun membawa dampak sosial bagi anak dan keluarga yang ditinggalkan.

Hal itu ditegaskan Ketua HOGI Prof. dr. Andrijono SpOG(K) di hadapan anggota Komisi IX DPR RI dalam  Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi IX.

Dia memaparkan skrining atau deteksi dini kanker serviks dengan tes pap smeardan IVA sampai saat ini tidak dapat menurunkan angka kejadian kanker serviks. Apalagi cakupan deteksi dini kanker serviks baru mencapai 11%, yaitu 4% dengan IVA dan 9% dengan pap smear.

“Kanker serviks adalah satu-satunya kanker yang dapat dicegah dengan vaksin. Vaksinasi HPV sangat efektif mencegah infeksi Human Pappiloma Virus (HPV) sebagai penyebab utama kanker serviks dan kanker mulut, tenggorokan  dan kanker penis. Lebih dari 70% kanker serviks disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (27/2/2018).

 HOGI menganjurkan vaksin diberikan untuk usia 9-55 tahun. Namun, vaksin akan lebih efektif untuk anak usia 9-13 tahun, sebelum si anak terpapar HPV. 

 “Risiko tertular HPV pada perempuan di Indonesia semakin tinggi karena pernikahan usia dini yang masih tinggi. Sayangnya vaksin HPV belum dijadikan program nasional. Baru sebagian kecil wilayah yang sudah melakukan yaitu propinsi DKI Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.”

 Bahkan, lanjut Andrijono, di Yogyakarta hanya dua Kabupaten yaitu Kulon Progo dan Gunung Kidul. Segera menyusul Manado dan Makasar. “Kalau vaksin diberikan secara sporadis di wilayah-wilayah kecil seperti ini tidak akan efektif.   Program nasional vaksin HPV sudah sangat mendesak.”

HOGI berharap  pembahasan anggaran Kementerian Kesehatan di tahun 2018 ini sudah memasukkan program nasional vaksin HPV sehingga nanti program nasional vaksin HPV sudah bisa terlaksana di tahun 2019. “Paling lambat tahun 2020 harus sudah terlaksana,” ujar Andrijono.

Irma Chaniago, Anggota Komisi IX DPR-RI sepakat dengan usulan tersebut. “Komisi IX sangat mendukung vaksin HPV menjadi program nasional. Kami sudah menyampaikan juga kepada Menteri Kesehatan agar tidak lagi menunda program ini. Biaya untuk program vaksin nasional jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan, yang sangat membebani BPJS,” ujarnya.

Saat ini harga vaksin HPV di praktek dokter pribadi sekitar Rp750.000. Dibutuhkan minimal dua kali suntikan dengan jarak 3 bulan, sehingga biaya sekitar Rp1,5 juta, belum termasuk biaya jasa dokter dan administrasi rumah sakit.

“Jika dijadikan program nasional, harganya akan jauh lebih terjangkau. Propinsi DKI yang sudah melakukan program ini hanya membutuhkan biaya sekitar 200-300 ribu sekali suntik.  Kalau menjadi program nasional, tentu harga akan turun lagi,” jelas Irma.

Andrijono menambahkan, tanpa vaksinasi maka Indonesia hanya akan menyaksikan lebih banyak kematian perempuan karena kanker serviks. Saat ini di Yogyakarta, daftar tunggu untuk terapi penyinaran (radioterapi) pasien BPJS bahkan sampai 1 tahun.

Banyak yang meninggal sebelum sempat diterapi. Daftar tunggu mengular karena hanya ada satu alat radioterapi di RSUD dr. Sardjito. Persoalan yang sama ditemukan di Semarang, Surabaya dan di wilayah lain.

“Negara di Afrika saja sudah melakukan program nasional vaksin HPV,” tambah Andrijono. Di negara-negara yang sudah menjalankan program vaksin HPV secara nasional, kejadian kanker serviks secara signifikan turun. Misalnya di Australia turun 50% setelah menjalankan program 10 tahun, bahkan Kanada dan Swedia turun 80-84%.

Hasil vaksinasi sudah bisa dilihat dalam lima tahun sejak program dijalankan. Salah satu indikasi vaksin efektif dapat dilihat dengan insiden kutil kelamin, yang juga disebabkan HPV tipe tertentu, yang biasanya ikut turun.

Irma menambahkan, Komisi IX sangat aktif mendorong agar vaksin HPV dijadikan program nasional. Bahkan sejak tahun 2015, Komisi IX sudah mengusulkan perlunya vaksin HPV menjadi program nasional kepada Menteri Kesehatan dan semua fraksi setuju.

“Kami berharap semua pihak harus mendorong vaksin HPV sebagai program nasional. Tidak hanya DPR dan kalangan medis tetapi juga media dan lembaga swadaya masyarakat,”ujar Irma.

Rapat Dengar Pendapat Umum antara Komisi IX DPR RI dan HOGI juga dihadiri oleh Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KICKS), Fatayat Nahdatul Ulama, Yayasan Kanker Indonesia dan beberapa LSM yang bergerak mengkampanyekan pencegahan kanker serviks.

Sekadar catatan, vaksin HPV adalah upaya pencegahan primer terhadap kanker serviks. Vaksinasi HPV membuat tubuh membentuk antibodi terhadap virus HPV, sehingga virus yang masuk akan mati dan tidak sampai menimbulkan kanker serviks.

Vaksin HPV dapat melindungi dari infeksi HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. HPV tipe 16 dan 18 menjadi penyebab 70% kanker serviks di seluruh dunia. HPV tipe 6 dan 11 mengakibatkan kutil kelamin.

Vaksin HPV aman karena terbuat dari cangkang virus HPV tiruan yang tidak mengandung DNA virus dan memiliki sertifikat halal dari Islamic Food and Nutrition Council of Amercia (IFANCA) dan diakui oleh LPPOM MUI.  Lebih dari 250 juta dosis vaksin sudah terdistribusi di seluruh dunia, sejak disetujui FDA Amerika Serikat pada 2006.

Tag : kanker serviks
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top