Jais Darga Namaku: Kisah Perjalanan Perempuan Penuh Ambisi

Setelah lebih dari 30 tahun menaklukkan kubu-kubu seni di berbagai kota besar dunia, Jais Darga seorang art dealer perempuan pertama Indonesia, membagikan kisahnya dalam sebuah buku otobiografi, Jais Darga Namaku.
Asteria Desi Kartika Sari | 14 April 2018 13:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA-- Setelah lebih dari 30 tahun menaklukkan kubu-kubu seni di berbagai kota besar dunia, Jais Darga seorang art dealer perempuan pertama Indonesia, membagikan kisahnya dalam sebuah buku otobiografi, ‘Jais Darga Namaku’.

Buku yang mengisahkan seluruh perjalanan hidup seorang Jais Darga sejak lahir hingga akhirnya merasakan manisnya kesuksesan. Buku ini ditulis oleh seorang penyair, Ahda Imran.

Jais Darga berasal dari keluarga menak Sunda. Memulai perjalanan masa mudanya dengan berkelana di dalam dunia anak muda kota Bandung periode 1970an, hingga mengenal bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura dan Hongkong. Buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya.

Ambisi yang membuatnya dikenal sebagai Jais Darga atau Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais Darga terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga dia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang ‘Pergi’ atau ‘Pulang’.

Jais Darga yang telah memulai kariernya di industri seni sejak tahun 1980-an ini, berprofesi sebagai art dealer dengan jam terbang tinggi dan memiliki reputasi baik dalam mendatangkan karya-karya seni kelas kaliber ke tanah air.

Lebih dekat, kehadiran buku Otobiografi ‘Jais Darga Namaku’ ini disajikan dengan teknik prosa yang tak hanya terinspirasi kisah Jais Darga saja, tetapi mengisahkan pergulatan hidup seorang perempuan, seorang anak, seorang istri dan ibu. Berbaur dengan ambisi dan pergulatannya dalam dunia bisnis dan ada banyak lapisan kisah yang tersimpan. Kisah perempuan dalam kesepiannya, kegelisahannya, kesakitan, penghianatan dan penghinaan.

Seluruh lapisan kisah berpusat pada ambisi serta pergulatan dalam mempertahankan kedaulatan diri Jais Darga, bukan dalam dunia bisnis belaka tetapi juga terhadap kuasa lelaki. Termasuk kedaulatannya atas tubuh dan bagaimana kuasa itu dihadapinya, seperti dikatakan Jais Darga, “Aku tidak merasa dilahirkan sebagai perempuan, tapi terpilih sebagai perempuan.”

Ahda Imran, yang merupakan penulis puisi dan penyair yang karya-karyanya sudah sering dibuat pementasan teater, adalah teman baik saya yang mampu mengolah cerita-cerita hidup saya yang saya sampaikan padanya menjadi sebuah buku seperti ini

"Saya harap dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca akan kehidupan saya sebagai art dealer, dan saya ingin yang membaca buku saya dapat bekerja keras tidak mengenal lelah dalam memulai dan melakukan bisnis lukisan di luar negri dan tidak takut bersaing dengan bangsa lain," katanya.

Tag : buku
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top