Kenali Tanda Sleep Apnea & Risiko Fatalnya

Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa mendengkur lebih berbahaya dari pada merokok. Pasalnya, gejala tersebut memiliki risiko lebih besar terhadap penebalan arteri karotis, apalagi pada orang obes atau bahkan yang memiliki kadar kolesterol yang tinggi.
Asteria Desi Kartika Sari | 28 April 2018 09:19 WIB
Ilustrasi - helpguide.org

 Suara mendengkur pasti mengganggu, bahkan di lingkungan pergaulan ngorok selalu menjadi bahan lelucon. Lebih parah lagi, mendengkur merupakan salah satu alarm tanda bahaya bagi kesehatan.

Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa mendengkur lebih berbahaya dari pada merokok. Pasalnya, gejala tersebut memiliki risiko lebih besar terhadap penebalan arteri karotis, apalagi pada orang obes atau bahkan yang  memiliki kadar kolesterol yang tinggi.

Sleep apnea merupakan  gangguan tidur paling umum kedua yang mempengaruhi sekitar 20 juta orang di AS. Sementara itu di Indonesia, sebesar 52,7% telah didiagnosis menderita arteri karotis dari 74 laki-laki  yang jadi subyek riset.

Arteri karotis adalah pembuluh darah yang memberikan suplai ke daerah leher dan kepala, termasuk otak. Jika dinding pembuluh darah ini mengalami penebalan maka akan berdampak pada penyakit pembuluh darah lainnya.

Mendengkur juga sering kali menjadi tanda dari henti napas saat tidur atau biasa disebut sebagai sleep apnea. Hal tersebut terjadi karena saat tidur adanya penyempitan saluran nafas sehingga udara tidak dapat lewat. Jadi, oksigen akan turun sepanjang malam, akibat fatalnya bisa menyebabkan kematian karena kekurangan oksigen.

Dokter spesialis telinga hidung tenggorok dan bedah kepala leher (THT-KL) Suriya Suwanto mengatakan, selain dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti tekanan pekerjaan, kejiwaan, gangguan tidur, sleep apnea juga dipengaruhi genetika seperti anatomi tubuh.

“Sebenarnya faktornya bervariasi, dari anatomi tubuh bisa terjadi karena obesitas, dan leher pendek, bisa terjadi juga pada anak karena amandelnya yang besar,” jelas Suriya di RS Royal Progress.

Lebih lanjut, dia mengatakan akibat gangguan tidur yang paling mudah dikenali adalah kelelahan, merasa lemas dan mengantuk, mudah marah, serta sulit berkonsentrasi.

“Semua sel yang ada dalam tubuh membutuhkan istirahat, jika tidak istirahat maka energi tidak kembali. Pola tidur yang tidak benar menyebabkan gangguan tidur,” katanya.

Sebaiknya masyarakat tidak boleh menyepelekan kondisi tersebut, pasalnya sleep apnea menyebabkan berbagai penyakit fatal hipertensi, jantung,  diabetes, impotensi hingga stroke.

Dokter spesialis penyakit saraf–konsulen penyakit gangguan tidur (RPSGT) RS Medistra Rinawati Tedjasukmana mengatakan, untuk mengetahui gejala sleep apnea, keluarga atau kerabat harus meyakinkan kalau seseorang mendengkur. Pasalnya, pendengkur hanya tahu dirinya ngorok dari orang lain.

Namun, tidak semua pendengkur mengalami sleep apnea. Oleh karena itu, untuk perawatan medis dimulai dengan pemeriksaaan tidur untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan apnea tidak berbeda dengan pemeriksaan fungsi jantung ataupun pernafasan, hanya saja perbedaannya dilakukan saat tidur.

“Mendengkur saja belum tentu sleep apnea, biasa dibarengi seperti tercekik dan berhenti napas lebih dari 10 detik, atau dibarengi dengan hipertensi sudah dapat dicurigai,” kata Rima.

PERAWATAN CPAP

Salah satu perawatan yang dapat dilakukan adalah melalui CPAP, operasi atau oral appliances  untuk mengetahui kondisi dari setiap pendengkur. CPAP merupakan singkatan dari continuous positive airway pressure, yakni sebuah alat yang dihubungkan ke hidung lewat masker. Perawatannya amat nyaman karena memberikan kualitas tidur yang maksimal.

Guna membantu menangani masalah tersebut Rumah Sakit Royal Progress menggandeng MedAlpha membuka Royal Sleep Institute (RSI). Melalui institute tersebut, masyarakat dapat terbantu untuk mengenali dan mengelola masalah tidur dengan bantuan CPAP.

CEO Medwork Group Victor Nale mengatakan masker wajah CPAP dapat membantu mencegah apnea secara lebih efektif sekaligus dapat memberikan kenyamanan maksimal.

Victor mengatakan terdapat tiga jenis masker wajah CPAP yang dapat dipilih masyarakat sesuai dengan kebutuhan, setiap masker dirancang dengan memikirkan keberhasilan melalui penggabungan aneka fitur dan teknologi unik. Ketiga masker tersebut adalah masker bantal, masker hidung, dan masker seluruh wajah.

Melalui CPAP tersebut nantinya dapat membantu merekam segala aktivitas saat tidur, seperti detak jantung, gerakan kaki, mendengkur, dan juga level oksigen.

Untuk mewujudkan hasil yang lebih baik, pilihan bantal, dan tempat tidur dipercaya memberikan pengaruh. Semakin nyaman kasur, ataupun bantal yang digunakan saat tidur dapat memberikan faktor positif.  

“Tapi semua itu sebenarnya tergantung dari kenyamanan masing-masing orang, semakin besar kasurnya mungkin orang akan semakin nyaman. Selain itu juga kenyamanan ruang dan suhu udara,” jelasnya.

Survei yang dilakukan secara online pada Februari 2018 oleh Harris Poll atas nama Philips ini mengulas kebiasaan tidur lebih dari 15.000 orang dewasa di 13 negara, yakni Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Polandia, Prancis, India, China, Australia, Kolombia, Argentina, Meksiko, Brasil dan Jepang.

Diperkirakan lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia menderita sleep apnea. Sebanyak 80% di antaranya tetap tidak terdiagnosa, dan secara global 30% partisipan mengalami kesulitan untuk memulai tidur.

Tidur yang baik sangat penting bagi kesehatan, tetapi hanya sepertiga dari orang dengan gangguan tidur yang mencari bantuan tenaga kesehatan profesional. Melalui kolaborasi dengan Richter dan survei tahunannya, Philips ingin menekankan pentingnya tidur berkualitas bagi setiap orang di seluruh dunia.

Chief Medical Officer Philips Sleep & Respiratory Care David White mengatakan, tidur adalah landasan gaya hidup sehat. Kualitas dan durasi tidur setiap malam adalah variabel paling penting yang mempengaruhi perasaan seseorang pada hari berikutnya.

“Jadi, tidur yang tidak memadai bisa berdampak langsung pada kesehatan kita, tidak seperti olahraga atau diet. Survei ini menunjukkan bahwa walaupun mengetahui bahwa tidur itu penting untuk kesehatan secara keseluruhan, banyak orang masih belum memprioritaskannya,” ujarnya.

Survei tersebut menemukan bahwa mayoritas orang dewasa secara global atau 67% menganggap bahwa tidur berdampak penting bagi keseluruhan kesehatan mereka. Setelah tidur malam yang tidak berkualitas, mereka merasa lelah (46%), murung atau mudah marah (41%), tidak termotivasi (39%), dan mengalami kesulitan berkonsentrasi (39%).

Selain itu, enam dari 10 orang dewasa (61%) di dunia memiliki beberapa jenis masalah medis yang mempengaruhi tidur mereka. Sekitar seperempat orang dewasa melaporkan insomnia (26%) dan satu dari 5 orang mendengkur (21%).

Hal tersebut diakibatkan oleh rendahnya pengetahuan menjaga kebiasaan tidur yang baik. Dalam survei tersebut hanya ada sekitar 29% responden yang merasa menyesal tidak menjaga kebiasaan tidur yang baik.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan keinginan mereka untuk berolahraga secara rutin, yakni 3-4 kali dalam sepekan sebanyak 49% dan menjaga makan sehat sebanyak 42%.

Faktor kecemasan membuat lebih dari setengah orang dewasa di dunia terjaga di malam hari dalam 3 bulan terakhir tercatat sebanyak 58%. Kesulitan tidur tersebut juga diakibatkan oleh kebiasaan menggunakan perangkat teknologi  sebesar 26%.

Tag : tidur
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top