Kekuatan Wirausaha sang Ibu

Profesi 'emak-emak' sebagai ibu rumah tangga atau IRT sering dipandang remeh oleh sebagian masyarakat. Selain rutinitasnya yang terkesan monoton, yakni sumur, dapur, dan Kasur. Ibu-ibu juga kurang terpandang secara ekonomi karena pekerjaan sehari-harinya tidak menghasilkan pendapatan.
Eva Rianti | 21 Mei 2018 20:41 WIB
Ilustrasi - jibi/eva rianti

Judul Buku : The Spirit of Emak-Emak

Penulis : Maria Hartiningsih

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tabel : 140 halaman

Cetakan : Pertama, Mei 2018

ISBN : 978-602-424-858-1

Profesi 'emak-emak' sebagai ibu rumah tangga atau IRT sering dipandang remeh oleh sebagian masyarakat. Selain rutinitasnya yang terkesan monoton, yakni sumur, dapur, dan Kasur. Ibu-ibu juga kurang terpandang secara ekonomi karena pekerjaan sehari-harinya tidak menghasilkan pendapatan.

Tampaknya asumsi ini bisa dipatahkan jika ibu-ibu mampu menunjukkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya, termasuk untuk bisa berpenghasilan kendati tetap berada di dalam rumah.

Dengan demikian, mereka tidak harus meninggalkan tugas domestiknya (rumah) tetapi sekaligus menghasilkan pendapatan yang secara ekonomi bermanfaat untuk mendukung ekonomi keluarga.

Jika Anda seorang perempuan, khususnya seorang ibu rumah tangga, tidak ada salahnya Anda membaca buku The Spirit of Emak-Emak karya Maria Hartiningsih.

Buku yang baru saja dirilis pada awal bulan ini relevan dengan fenomena yang ada di benak masyarakat tentang perempuan dan menunjukkan kepada pembaca bagaimana seharusnya perempuan atau emak-emak dipandang.

Maria merampungkan buku ini atas dorongan seorang Noni Sri Ayati Purnomo. Noni tidak lain adalah inisiator Kartini Blue Bird, sebuah program pemberdayaan ekonomi yang memberikan pilihan kepada para ibu di rumah, terutama pada istri pengemudi Blue Bird untuk mau berkarya dengan membangun kewirausahaan dari dalam rumah.

The Spirit of Emak-Emak terdiri atas empat bagian. Bagian pertama membahas tentang Pemberdayaan Perempuan. Dalam pembahasan ini, Maria menyajikan data-data tentang pemberdayaan perempuan secara global, disertai relasi dan kontribusi perempuan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pada bab ini, Maria juga memaparkan pemberdayaan perempuan bukanlah bentuk mengalah-ngalahi derajat laki-laki (suami) ataupun untuk menunjukkan arogansi. Sebaliknya, untuk saling bahu membahu dalam menciptakan hubungan komplementer.

Pada bagian kedua bertajuk Bola Salju Kepedulian Kartini Blue Bird menggambarkan tentang sistem saling peduli dan saling berbagi yang menjadi kekuatan besar bagi para ibu-ibu Kartini Blue Bird. Pada bab ini, Maria lebih detail menyajikan tulisan hasil interview dengan sang inisiator, Noni.

Adapun, pada bagian ketiga, Maria lebih banyak menceritakan kisah para ibu-ibu selama menjalani masa pemberdayaan dengan judul 'Perempuan-Perempuan Perkasa'. Pada bab inilah pembaca akan lebih memahami potensi perempuan yang sesungguhnya dengan lebih detail dan mendalam.

Terakhir, di bagian keempat Maria memberikan epilog berupa komitmen perempuan untuk pantang surut walaupun yang bisa dilakukan hanya hal-hal kecil. Buku ini membuktikan bahwa ibu-ibu adalah sosok yang hebat dan patut dihargai serta diwongke (dimanusikan). Buktinya, ibu-ibu Kartini Blue Bird yang diceritakan sudah bisa memiliki penghasilan dari Rp1 juta hingga Rp5 juta per bulan dengan karya-karya wirausaha yang mereka hasilkan.

Buku dengan tebal 140 halaman ini sarat akan inspirasi kendati secara visual bagian covernya tampak kurang menarik ataupun mencolok. Selain itu, print tulisan bagian perut buku juga kurang jelas tetapi hampir di setiap halaman terdapat ringkasan atau quote yang ditebalkan (bold).

Secara keseluruhan, buku ini bukanlah semata buku promosi. Jauh lebih dari itu, buku ini lebih tepat disebut sebagai ladang inspirasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
resensi buku

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top