Komunitas Film Pendek Purbalingga: Berbagi Nilai Positif Melalui Film

Industri perfilman Indonesia bisa dikatakan cukup berkembang, terbukti dengan lahirnya film-film box office seperti "Warkop DKI Reborn" dan "Dilan 1990". Tidak hanya film layar lebar produksi studio besar yang mampu menarik perhatian, tapi film pendek buatan komunitas film pun menarik untuk ditonton.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 23 Mei 2018  |  12:23 WIB
Komunitas Film Pendek Purbalingga: Berbagi Nilai Positif Melalui Film
Workshop produksi film "Brankas" buatan ekskul sinema SMAN 2 Purbalingga, Jawa Tengah pada 26-27 Januari 2018. - Instagram CLC Purbalingga

Bisnis.com, JAKARTA -- Industri perfilman Indonesia bisa dikatakan cukup berkembang, terbukti dengan lahirnya film-film box office seperti "Warkop DKI Reborn" dan "Dilan 1990".

Para sineas makin mahir mengolah cerita untuk menghibur masyarakat pecinta film. Tidak hanya film layar lebar produksi studio besar yang mampu menarik perhatian, tapi film pendek buatan komunitas film pun menarik untuk ditonton.

Bahkan, pengamat film senior Yan Wijaya mengaku terkesan dengan film pendek berjudul "Lawuh Boled" karya komunitas film pendek asal Purbalingga, Jawa Tengah.

"Salah satu yang membuat saya terkesan saat menjadi juri film pendek, itu buatan anak SMA, judulnya "Lawuh Boled" dari Purbalingga Jawa Tengah," ungkapnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (22/5/2018).

Yan menuturkan film pendek ini sudah berkali-kali menang dalam berbagai festival film pendek. Film tersebut dibuat oleh anggota Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga yakni Misyatun dan teman-temannya dari Pedati Film SMK Negeri 1 Rembang, Purbalingga pada 2013. 

Trailer "Lawuh Boled".

Direktur Organisasi sekaligus founder CLC Purbalingga Bowo Leksono menceritakan makna film "Lawuh Boled".

"Itu film pendek lawas dibuat oleh pelajar yang juga anggota kami pada 2013. Waktu itu, mereka membuat film sesuai yang dekat dengan mereka, karena enggak mungkin ya kita di Purbalingga tapi buat filmnya tentang Jakarta," terangnya.

Film ini menggambarkan bahwa korupsi bisa terjadi di mana saja, termasuk di tingkat pemerintah desa. Kisahnya tentang keluarga miskin yang tidak mendapatkan jatah beras untuk rakyat miskin (raskin) dan sehari-hari terpaksa makan umbi-umbian.

Film pendek berdurasi 8 menit 48 detik itu berhasil membawa pulang berbagai perhargaan yaitu Film Fiksi Pendek Pelajar Terbaik Malang Film Festival 2013, Film Terbaik Gayaman Award Festival Film Solo (FFS) 2013, Film Fiksi Pendek Terbaik Festival Film Purbalingga (FFP) 2013, Film Fiksi Terbaik II Festival Film Surabaya 2013, Nominasi Festival Film Dieng (FFDi) 2013, Jiffest 2013.

Selain itu, juga masuk dalam Jogja-Netpac Asia Film Festival 2013, Film Terbaik Psychofest 2013, Sutradara Berbakat (Iqbal Rais Award) Piala Maya 2013, StoS Award - Film Pendek Terbaik StoS Film Festival 2014, Finalis Creabo Pekan Komunikasi UI 2014, dan lolos kurasi Festival Film Scream 2014.

Salah satu workshop video CLC Purbalingga./Instagram CLC Purbalingga.

Produksi film "Sawah Marjinal" oleh SMK YPLP Perwira Purbalingga./Instagram CLC Purbalingga.

CLC Purbalingga didirikan pada 4 Maret 2006 dan fokus pada pendidikan masyarakat melalui sinema, terutama untuk anak muda. Programnya meliputi pemutaran film, festival, serta workshop produksi.

"Intinya, komunitas film ini berdiri selain untuk mengajari anak-anak muda tentang film juga kami sekaligus ingin berbagi nilai-nilai positif melalui film-film yang diproduksi oleh anggota kami," kata Bowo.

Film-film lain dari CLC Purbalingga juga banyak meraih penghargaan di ajang festival film pendek tingkat nasional. Salah satunya "Izinkan Saya Menikahinya", yang berkisah tentang kesulitan Suryati untuk menikah dengan kekasihnya Suryono, seorang anggota TNI. Suryono tidak diizinkan menikah dengan Suryati karena KTP kakek Suryati berlabel ET alias Eks Tahanan Politik.

Salah satu adegan "Izinkan Saya Menikahinya"./CLC Purbalingga

Film ini meraih penghargaan Film Terbaik Fiksi SMA FFP 2016, Film Terbaik kategori Apresiasi Film Pendek Pelajar Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016, Best Short Fiction Film Ucifest 2016, lolos kurasi Psychofest 2016, Terbaik Ketiga Binus Film Week 2016, Juara I FFPI Kompas TV 2016, dan Special Mention Kompetisi Film Pendek Piknik Sinema 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top