Menengok Geliat Industri Perfilman Nasional di Komunitas Film Pendek

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, menonton film Indonesia mungkin hanya dilakukan di bioskop. Padahal, geliat industri perfilman nasional juga bisa dilihat dari banyaknya komunitas film pendek di berbagai daerah.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 23 Mei 2018 13:07 WIB
Suasana syuting salah satu film produksi Komunitas Film Pendek Jakarta. - Instagram Komunitas Film Pendek Jakarta

Bisnis.com, JAKARTA -- Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, menonton film Indonesia mungkin hanya dilakukan di bioskop. Padahal, geliat industri perfilman nasional juga bisa dilihat dari banyaknya komunitas film pendek di berbagai daerah.

Selain CLC Purbalingga yang rajin melakukan edukasi sinema dan workshop, terutama bagi anak muda, masih banyak komunitas film pendek lainnya yang mampu menghasilkan karya berkualitas. Komunitas Film Pendek Jakarta misalnya, memproduksi film pendek animasi berjudul "Transaksi Non Tunai" yang sukses meraih juara pertama di Bank Indonesia Award 2016.

Film pendek animasi lainnya yang berjudul "Bubur Ayam si Deon" juga sukses mendapatkan penghargaan Juara 1 Yamaha Bluecore Video Challange 2016.

Komunitas Film Pendek Jakarta terbentuk pada 4 Maret 2015. Anggotanya tidak hanya terdiri dari kalangan pelajar, tapi semua orang yang mencintai film.

"Visinya sih untuk sama-sama belajar saja, berbagi ilmu tentang sinematografi antar anggota," ungkap salah satu pendirinya, Muchamad Rizky Adam, saat dihubungi Bisnis, Selasa (22/5/2018).

Pengamat film senior Yan Wijaya menuturkan para filmmaker tersebut mampu menunjukkan bahwa film pendek di Indonesia tidak hanya memberikan penghiburan, tapi juga mampu menyampaikan pesan positif yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

Dia mengungkapkan banyak sineas Indonesia yang memulai karir dengan membuat film pendek.

"Bahkan, banyak sineas film pendek sukses yang kini mampu membuat film panjang. Contohnya, Ismail Basbeth asal Wonosobo, itu semula membuat film-film pendek lalu sukses dan sekarang menjadi sutradara film panjang. Filmnya antara lain "Talak 3", "Mencari Hilal". Sineas yang top seperti Galih Nugroho, Hanung Bramantyo itu dulunya membuat film pendek," jelas Yan.

Syuting film "Mau Ngapain?"./Instagram Komunitas Film Wonosobo

Ada pula Komunitas Film Wonosobo, yang baru lahir pada Januari 2018. Komunitas yang didirikan dari para mahasiswa film di berbagai kampus ini fokus untuk memberikan wajah bagi sinematografi di Wonosobo.

"Komunitas ini lahir karena sinematografi atau film di Wonosobo itu kurang mempunyai wajah. Padahal, Wonosobo itu punya potensi untuk mengembangkannya, cuma sayang wajahnya belum ada," ungkap Yosi Basuki, salah satu pendiri Komunitas Film Wonosobo.

Saat ini, komunitas tersebut sudah memiliki 19 orang anggota dan sedang membuat film bergenre drama keluarga tentang perjuangan meraih mimpi yang berjudul "Mau Ngapain?".

Film pendek perdana mereka tersebut ditargetkan selesai pada Juni 2018. Pembuatan filmnya lumayan memakan waktu karena para anggota komunitas film tersebut sedang sibuk kuliah, termasuk Yosi yang saat ini berada di tingkat akhir Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Syuting film "Mau Ngapain?"./Instagram Komunitas Film Wonosobo

"Untuk target film ini, kami rencananya akan buat layar tancap keliling desa-desa di Wonosobo. Itu target utama kami. Kalau untuk Youtube dan festival itu nantinya mengikuti. Tergantung bagaimana animo penikmat film kami di desa-desa itu sendiri," paparnya.

Peneliti film sekaligus Dosen Program Studi Komunikasi Program Vokasi Universitas Indonesia (UI) Rangga Wisesa menilai banyaknya komunitas film pendek adalah hal yang sangat baik karena membuat perkembangan film fiksi pendek di Indonesia semakin menggembirakan.

"Menggembirakannya karena menurut saya film-film pendek Indonesia sangat original yang diangkat, sangat Indonesia. Menurut saya, kalau kita mau melihat Indonesia secara utuh itu bisa dilihat di film fiksi pendek karena banyak disajikan tentang keragaman Indonesia, nilai-nilai budaya atau leluhur yang mungkin jarang kita temui di media lain. Kalau di film panjang mungkin jarang juga yang mau mengangkat tema-tema yang berbeda seperti itu," jelasnya.

Selain itu, Rangga memandang perkembangan komunitas film pendek, film dokumenter, dan film animasi di Indonesia semakin baik.

"Mereka melihat film sebagai media yang baik untuk menyampaikan aspirasi, mereka mengajak masyarakat secara luas untuk suka dengan film, menghargai perbedaan, mengangkat nilai budaya di daerahnya masing-masing. Jadi, menurut saya perkembangan komunitas film dan film pendek di Indonesia sudah cukup menunjukkan hal yang baik untuk perfilman Indonesia secara luas," tambahnya.

Rangga mengaku salut kepada komunitas atau sineas film pendek karena pembuatan produksinya sebenarnya cukup sulit. Dengan durasi yang pendek, para filmmaker harus menerjemahkan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

"Dengan cermat mereka bisa menerjemahkan dalam waktu sesingkat itu menurut saya luar biasa," tukasnya.

Tag : film indonesia
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top