Tips Menggunakan Media Sosial dari Psikolog

Penggunaan media sosial (medsos) berlebihan bisa berdampak buruk terhadap penggunanya. Untuk itu, psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani memberikan beberapa penjelasan mengenai hal-hal yang perlu disadari para pengguna medsos.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 05 Juli 2018 11:10 WIB
Ilustrasi media sosial - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA – Media sosial menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari saat ini, termasuk di kalangan remaja.

Fenomena selebgram, selebtwit, dan “artis” Tik Tok bisa menjadi bukti.

Namun, penggunaan media sosial (medsos) berlebihan bisa berdampak buruk terhadap penggunanya. Untuk itu, psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani memberikan beberapa penjelasan mengenai hal-hal yang perlu disadari para pengguna medsos.

Pertama, bisa jadi akun itu tidak asli. Contohnya, ada yang berbohong tentang usia atau latar belakang pendidikannya. Ada pula yang melebih-lebihkan fakta, misalnya tentang lokasi pengambilan foto atau harga barang yang dibeli,” ungkapnya kepada Bisnis, Rabu (4/7/2018).

Kedua, apa yang disampaikan di medsos tidak bisa menjadi gambaran utuh dari suatu hal. Misalnya, 1-2 kalimat yang disampaikan tidak bisa serta merta menjadi kesimpulan atas sikap pemilik akun terhadap suatu topik atau barang.

Contoh lain, foto yang diunggah bisa jadi merupakan hasil diedit.

Ketiga, beberapa status atau isi medsos terkadang bertujuan komersial atau menjual sesuatu. Dengan demikian, pengunggahnya bisa jadi menyembunyikan fakta tertentu atau membesar-besarkan fakta lain.

Keempat, beberapa data yang disebutkan dalam medsos bisa jadi hoaks. Oleh karena itu, kita perlu kritis dalam membaca atau menyikapi medsos, tidak bisa mentah-mentah percaya begitu saja,” lanjut Nina.

Kelima, isi medsos bisa dilihat oleh siapapun. Apa yang tertera di akun medsos kita dapat dijadikan pertimbangan oleh orang lain untuk menilai kita.

Oleh karena itu, pengguna medsos mesti bijak dalam menyebarkan atau mengunggah sesuatu.

Jangan sampai konten yang disebarkan atau diunggah berdampak buruk terhadap masa depan kita maupun orang lain. Misalnya, perusahaan yang kita lamar menolak lamaran kita karena melihat tingkah laku kita yang buruk di medsos.

Terakhir, medsos bukan tempat untuk berbohong, memaki, atau mempermalukan orang lain. Walaupun orang lain melakukan cyber bullying, tidak berarti kita perlu melakukannya juga,” tegasnya.

Tag : media sosial
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top