Ini Bahaya Game Online Jika Dilakukan Terus Menerus

Terdapat tiga alasan seseorang memainkan permainan berbasis internet (online gaming), antara lain bertujuan untuk bersenang-senang, menghilangkan stres, dan mengisi waktu luang.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 10 Juli 2018 14:11 WIB
Anak-anak bermain game online di sebuah warnet. - Ilustrasi/indigos.com

Bisnis.com, JAKARTA--Terdapat tiga alasan seseorang memainkan permainan berbasis internet (online gaming), antara lain bertujuan untuk bersenang-senang, menghilangkan stres, dan mengisi waktu luang.

Organisasi Kesehatan Dunia atau world health organizations (WHO) menetapkan Kecanduan game atau game disorder ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD) sebagai penyakit gangguan mental untuk pertama kalinya. Dalam versi terbaru ICD-11, WHO menyebut bahwa kecanduan game merupakan disorders due to addictive behavior atau gangguan yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

Dijelaskan praktisi kesehatan jiwa, dr. Kristiana Siste, SpKJ (K) dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menurut keterangan resmi yang diterima Bisnis dari Kementerian Kesehatan, Senin (9/7), seseorang dikatakan online/video gaming disorder bila memenuhi kriteria yang telah ditetapkan WHO, yaitu adanya perilaku berpola dengan karakteristik sebagai berikut:
1) Ada ganguan kontrol untuk melakukan permainan tersebut (tidak dapat mengendalikan diri)
2) Lebih memprioritaskan memainkan permainan tersebut dibandingkan dengan aktivitas yang seharusnya lebih diutamakan
3) Intensitasnya semakin meningkat dan berkelanjutan meskipun ada konsekuensi atau dampak negatif yang dirasakan
4) Perilaku berpola tersebut menyebabkan gangguan yang bermakna pada fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan dan area penting lainnya
5) pola tersebut sudah berlangsung selama 12 bulan.

“Bermain game sampai menyebabkan distress dan disfungsi, barulah akan kita masukkan ke kategori gangguan mental”, kata Siste.

Online gaming ini, menurut dr. Siste, sangat digemari anak-anak, remaja bahkan dewasa muda seringkali menyuguhkan konten yang memacu adrenalin (tantangan). Selain itu, di dalam permainan semua pemain diberikan kesempatan yang setara atau sama untuk menang, sementara pada kehidupan nyata adanya label-label negatif pada seseorang.

“Pada game juga reward nya cepat, kalau menang dapat poin, sementara kalau dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa demikian untuk sekedar dapat pujian”, ujar dr. Siste.

Online gaming menjadi semakin memicu kerentanan terhadap kecanduan dengan munculnya permainan dengan kategori Massive Multiplayer Online Role Playing Games (MMORPG).

Kategori ini yang paling sering dimainkan, karena pemain tidak bermain sendirian, mereka membuat relasi virtual untuk memainkan permainan tersebut. Para pemainnya dapat membentuk kepribadian yang diinginkan, mengontrol karakternya, melakukan pembagian tugas dan berinteraksi dengan pemain lain secara virtual. Permainan terus berlanjut meski pemain tidak sedang memainkannya. Apabila seorang pemain absen dalam waktu lama dari permainan tersebut, ia akan kehilangan pengaruh dan kekuatannya.

“Ini yang membuat mereka sulit melepaskan. Seseorang yang bermain games lebih dari 3 jam setiap hari rentan kecanduan. Bila seseorang sudah sampai tahap kecanduan biasanya menunjukkan gejala putus perilaku, yakni apabila dihentikan kesenangannya (bermain game) maka akan timbul energi negatif, mulai dari kesal, marah-marah, mengancam orang lain, bahkan menyakiti diri sendiri,” tukas Siste.

Tag : game online
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top