Teman dalam Bisnis

Saya pernah melakukan suatu survei dengan pertanyaan sederhana. Setujukah Anda dengan soal pertemanan dalam bisnis? Hasilnya, jawabannya bervariasi.\nAda yang mengatakan tidak setuju. Akan tetapi, di Indonesia lebih banyak yang mengatakan setuju dengan urusan pertemanan dalam bisnis. Bisa jadi karena masyarakat kita yang lebih komunal, lebih kekeluargaan sehingga pertemanan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dalam bisnis.
Anthony Dio Martin, Trainer, Inspirator, Managing Director HR Excellency & Miniworkshopseries Indonesia, Penulis, Executive Coach | 23 Agustus 2018 16:04 WIB
Anthony Dio Martin - Istimewa

Saya pernah melakukan suatu survei dengan pertanyaan sederhana. Setujukah Anda dengan soal pertemanan dalam bisnis? Hasilnya, jawabannya bervariasi.
Ada yang mengatakan tidak setuju. Akan tetapi, di Indonesia lebih banyak yang mengatakan setuju dengan urusan pertemanan dalam bisnis. Bisa jadi karena masyarakat kita yang lebih komunal, lebih kekeluargaan sehingga pertemanan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dalam bisnis.
Padahal, kalau kita baca literatur dan artikel soal bisnis, kebanyakan berisi soal warning jika sudah bicara soal bisnis. Misalnya, para peneliti dari Harvard Business School yakni Paul Gompers, Vladimir Mukharlyamov, dan Yuhai Xuan dalam salah satu jurnal pada Juni 2012 menulis soal The Cost of Friendship. Mereka melakukan riset dengan para venture capitalist yang sukses. Mereka pun membagi dua tipe bisnis.
Pertama, ability based characteristic atau memilih partner kerja berdasarkan kesukaan dan pengalaman kerja di bidang ini. Kedua, affinity based characteristic yang berdasarkan pertemanan, berkenalan, ataupun berasal dari suku atau wilayah tertentu. Hasilnya, ability based itulah yang ternyata lebih sukses!
Dengan demikian, sesuai dengan judulnya, penelitian ini ingin mengingatkan bahwa menjalankan bisnis dengan pertimbangan pertemanan ataupun sentimen kedaerahan sebenarnya berbahaya.
Bahkan, lifehack.com justru mengatakan agak ekstrim “jangan berbisnis dengan teman.” Alasannya, pada waktu membangun segalanya sering baik-baik saja tetapi pada saat sukses biasanya menjadi masalah. Teman, bisa berubah jadi musuh bebuyutan!
Begitu pun, Bo Burlingham, salah seorang kolumnis terkemuka di majalah Inc. mengingatkan dengan lebih santun. “Berhati-hatilah dengan pertemanan dalam bisnis” di dalam bukunya Street Smart. Nah, bagaimana pendapat Anda?
Suka dan Duka
Saya sendiri pernah memiliki pengalami buruk serta pengalaman menyenangkan soal urusan teman dalam bisnis.
Kejadian itu bermula saat seorang teman karib SD meminta kepada saya untuk membantunya. Ada anggota keluarganya yang dilanda masalah. Masalah keuangan. Lantas, untuk membantunya, saya pun menerima anggota keluarganya tersebut.
Seorang wanita, yang konon pernah bekerja di perusahaan multinasional. Dengan alasan mengurus keluarga, akhirnya dia berhenti cukup lama. Sebenarnya, sebagai seorang praktisi HR, menerima seorang dengan alasan kekeluargaan dan pertemanan, bukan karena profesionalisme adalah berbahaya. Dengan demikian, diri kita tidak objektif dalam menerima orang tersebut. Berikutnya, kalau ternyata ada masalah, tidak mudah untuk menyikapinya. Itulah yang terjadi.
Keluarga dari teman saya tersebut, ternyata tipe drama queen, yang seringkali menangis dan punya banyak beban masalah keluarga. Hal itupun dibawa ke tempat kerja. Akibatnya, seringkali dia menangis dan moody di tempat kerja kami. Selain itu, sebenarnya kompetensi kerjanya juga pas-pasan. Saya agak memaksanya untuk bekerja di posisi tersebut. Latar belakangnya sebenarnya tidak langsung berkaitan. Tadinya, saya berpikir, dengan sedikit latihan, dia akan mampu melakukannya. Ternyata, asumsi saya keliru. Latar belakangnya, memang tidak sesuai.
Untungnya, saya memasukkan keluarga teman saya tersebut ke dalam masa percobaan 3 bulan. Lantas, saya paksakan lagi untuk diperpanjang selama 3 bulan ke depan. Ternyata, tetap tidak bisa. Dengan terpaksa saya harus memberitahukan kepada rekan saya tersebut bahwa anggota keluarganya tidak bisa diterima lebih lama. Saya telah berusaha.
Teman saya ini mengerti dan mengucapkan terima kasih telah membantu. Akan tetapi, sejak saat itu, teman saya ini mulai bersikap menjauhi saya. Beberapa kali bertemu, sikapnya tidak lagi seramah dahulu. Beberapa teman yang lain mengatakan bahwa dia berpikir, saya kurang berniat untuk membantunya. Itulah kisahnya.
Ada pula kisah yang mirip. Baru-baru ini seorang peserta training saya, seorang leader dalam bisnis properti. Bersama dengan teman baiknya pernah membangun sebuah usaha properti yang cukup sukses di daerah Tangerang. Setelah berjalan sukses dan berhasil, ternyata apa yang terjadi? Teman baiknya mulai mengkhianatinya. Diam-diam, temannya itu membangun tim sendiri. Profit makin turun. Ternyata, temannya tersebut membuka bisnis sendiri yang akhirnya ketahuan gara-gara salah email dari calon penyewa. Peserta saya tersebut mengatakan, “hal paling menyakitkan dalam bisnis adalah dikhianati oleh teman sendiri.”
Namun, hingga sekarang pun di dalam bisnis saya masih ada sahabat yang terlibat. Kami telah bekerja sama lebih dari 15 tahun dan baik-baik saja. Malahan, karena telah mengerti satu sama lainnya, tercipta trust yang luar biasa. Soal kualitas kerja pun, rekan saya ini jarang mengecewakan. Alasan pertama kali melibatkan rekan saya tersebut di bisnis ini karena dia punya standar kerja dan karakter yang bisa dipercaya.
Dalam Organisasi
Bukan hanya bisnis, di organisasi mana pun seharusnya perasaan pertemanan bisa dipisahkan. Kalau tidak, sebuah organisasi tidak akan bisa berjalan secara profesional. Hal ini lebih gampang dikatakan daripada dipraktikkan.
Nyatanya, banyak organisasi menjadi kacau dan bermasalah tatkala pimpinannya dan manajemennya mulai tidak bisa memisahkan antara hubungan pribadi dan hubungan bisnis yang seharusnya profesional.
Sebenarnya, hal ini bukan berarti tidak boleh memasukkan anggota keluarga ataupun teman dalam suatu organisasi ataupun bisnis. Asalkan, mereka memiliki dua syarat seperti karyawan atau pekerja lainnya, yakni kompetensi serta karakter. Realitasnya, ada banyak bisnis dan organisasi yang punya anggota keluarga, teman. Karena mereka memiliki kedua hal tersebut, justru organisasi menjadi berkembang dan bertumbuh!
Oleh karena itu, Bo Burlingham dalam buku Street Smart mengingatkan bahwa dalam bisnis yang ada seharusnya istilah associate, bukan teman atau keluarga. Associate atau rekanan berarti dia harus punya tanggung jawab moral dan profesional dengan apa yang dikerjakan.
Sejak itu, saya pun belajar setiap kali saya menerima karyawan yang masih memiliki hubungan kekerabatan ataupun pertemanan, saya belajar untuk menegaskan soal “rekanan”. Bagi saya sangat penting hal ini ditegaskan di awal. Selain itu, segala kemungkinan terburuk harus diantisipasi. Dalam hal membangun bisnis bersama perlu kontrak dan kesepakatan yang jelas. Terkadang, karena merasa sudah merupakan teman ataupun saudara, kita pun lupa dengan dokumen dan kontrak yang mengatur perjanjian kerja yang profesional.
Di samping itu, saya pun belajar untuk tidak memperlakukan entah itu saudara ataupun teman yang bekerja sama secara spesial dibandingkan yang lainnya. Hadiah dan hukuman pun tetap perlu ditegaskan,sehingga semua orang belajar bahwa tidak ada yang diistimewakan dalam sebuah pekerjaan yang professional. Mereka yang istimewa adalah yang paling produktif!
Kita seharusnya belajar. Memasukkan terlalu banyak perasaan pertemanan dalam pekerjaan ataupun pelayanan yang seharusnya objektif untuk semua orang bisa membuat karya tersebut menjadi tidak profesional. Jadi, bukannya tidak boleh pertemanan dalam bisnis tetapi kita perlu lebih ekstra waspada!

Tag : bisnis
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top