Bahaya Morning Surge, Penyebab Serangan Jantung dan Strok Pagi Hari

Melonjaknya tekanan darah di pagi hari atau disebut sebagai morning surge harus menjadi alarm bagi para penderita hipertensi, terutama yang sudah berusia lanjut. Pasalnya, morning surge menjadi penyebab utama strok atau serangan jantung mendadak di pagi hari para pasien hipertensi.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 26 Agustus 2018  |  10:28 WIB
Bahaya Morning Surge, Penyebab Serangan Jantung dan Strok Pagi Hari
Gejala jantung4 - boldsky.com

Melonjaknya tekanan darah di pagi hari atau disebut sebagai morning surge harus menjadi alarm bagi para penderita hipertensi, terutama yang sudah berusia lanjut. Pasalnya, morning surge menjadi penyebab utama strok atau serangan jantung mendadak di pagi hari para pasien hipertensi.

Apalagi jika pada malam atau sore hari tekanan darah normal. Semakin lebar perbedaan tekanan darah pada kedua kondisi tersebut, semakin tinggi pula risiko strok. Dalam sebuah penelitian 2003, orang yang berada pada risiko tertinggi stroke jika memiliki perbedaan besar antara tekanan darah malam dan pagi hari yang berkisar 55 mmHg.

Dari hasil penelitian, morning surge ternyata lebih banyak dialami oleh orang Asia dibandingkan orang Eropa. Oleh karena itulah, mengukur tekanan darah secara rutin di pagi dan malam hari menjadi sesuatu yang perlu dilakukan penderita hipertensi, terutama yang berusia lanjut.

Ini sejalan pula dengan studi Japan Morning Surge yang menganalisis 611 pasien dengan hipertensi di pagi hari. Hasilnya bahwa pasien yang berpotensi morning surge umumnya yang berusia tua.

Dilansir dari NCBI, dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa karakteristik tekanan darah di pagi hari dikaitkan dengan meningkatnya cedera organ. Termasuk dalam faktor risiko ini ialah mereka yang berusia tua, orang yang mengonsumsi alkohol dan atau rokok, waktu tidur yang lebih lama dan bangun terlambat serta cuaca dingin

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Bambang Widyantoro mengatakan tingginya tekanan darah pada pagi hari terjadi karena adanya hormon kortisol yang dikeluarkan tubuh pada pagi dini hari antara pukul 1 hingga 6 pagi.

Jika hormon kortisol tersebut mendominasi, maka akan meningkatkan tekanan darah pada pagi hari. Hormon ini dikenal secara luas sebagai hormone stress karena diproduksi lebih banyak saat tubuh mengalami stress, baik fisik maupun emosional.

“Tekanan darah yang diukur sendiri di rumah pada pagi hari sebelum melakukan aktivitas apapun, merupakan yang paling murni. Jika tekanan darahnya ternyata tinggi di pagi hari, pada malam harinya normal, diperkirakan terkena morning surge,” tuturnya.

Ketika mengetahui memiliki risiko morning surge, maka pasien harus segera memeriksakan diri ke dokter. Dengan demikian, pasien akan mendapatkan obat yang ketika diminum pada malam hari masih memiliki efek hingga pagi hari sehingga meminimalkan risiko terkena serangan jantung atau strok.

Sementara itu, Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH) Tunggul D Situmorang mengatakan hipertensi dapat merusak organ tubuh yang memiliki pembuluh darah antara lain jantung, ginjal dan otak.

Ketika pasien hipertensi memiliki morning surge atau tekanan darahnya menanjak cepat di pagi hari, maka organ yang memiliki pembuluh darah akan lebih cepat terganggu. Selain itu, risiko terkena penyakit yang lebih berbahaya akan semakin besar.

“Umumnya hampir sebagian besar pasien morning surge terkena serang jantung di pagi hari. Misalnya ada kabar jatuh di kamar mandi padahal itu karena dia strok atau kena serangan jantung mendadak,” ujarnya.

Oleh karena itulah penderita hipertensi harus benar-benar memperhatikan kesehatannya dengan menjaga pola makan, pola hidup dan melakukan pengukuran tekanan darah secara teratur di rumah karena hipertensi merupakan silent killer.

Dengan pengukuran darah teratur tersebut maka pasien akan mendapatkan penanganan yang tepat. “Ini sangat bermanfaat untuk strategi pengobatan yang lebih spesifik bagi pasien atau yang bisa disebut personalized medicine. Ada 10 orang hipertensi setiap orang akan berbeda-beda penanganan untuk obat dan modifikasi hidupnya,” ujar Tunggul.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, stroke

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top