Peran Ayah untuk Bentuk Karakter Anak

Seorang ayah memiliki peranan yang sama pentingnya dengan ibu dalam tumbuh kembang anak. Jika diibaratkan bangunan, anak membutuhkan pondasi yang sama kuat di sisi kiri dan sisi kanan agar dapat berdiri kokoh.
Dewi Andriani | 22 September 2018 00:00 WIB
Anak-anak - Antara/Rosa Panggabean

Seorang ayah memiliki peranan yang sama pentingnya dengan ibu dalam tumbuh kembang anak. Jika diibaratkan bangunan, anak membutuhkan pondasi yang sama kuat di sisi kiri dan sisi kanan agar dapat berdiri kokoh.

Ayah membawa sifat disiplin, keberanian, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Adapun peranan ibu memberikan kasih sayang dengan penuh perasaan, kepekaan, dan ketelatenan.

Dalam pola pengasuhan tradisional, anak sepenuhnya menjadi kewajiban ibu, sedangkan ayah bertugas dan bertanggung jawab mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Namun, pada kenyataannya, diperlukan porsi yang sama kuatnya antara ayah dan ibu dalam mengasuh sang buah hati meski mungkin dilakukan dengan pola interaksi yang berbeda.

Psikolog anak Nyi Mas Diane mengatakan ketika anak hanya mendapatkan pengasuhan dan kasih sayang dari ibu, anak memang akan tetap tumbuh tetapi ada sisi lain dalam dirinya yang hampa.

Dee memaparkan sejumlah hasil penelitian dari Harvard School Project mengenai pengaruh ayah yang aktif mengasuh dan memberikan kasih sayang, perhatian, serta interkasi yang cukup pada anak.

Menurutnya, anak yang dekat dengan ayahnya akan merasa lebih sehat secara fisik dan mental karena jiwanya terisi cukup oleh kehadiran ayah. Mereka juga akan lebih mudah berinteraksi dan menyesuaikan diri dalam berbagai situasi serta tumbuh menjadi sosok yang pengasih sebab isi jiwanya cukup sehingga dia bisa membagikannya kepada orang lain.

“Ketika orang tua memberi teladan yang baik misalnya suka memberi, anak juga akan menjadi seseorang yang suka memberi. Keteladan ayah sangat dijadikan panutan oleh anak,” tuturnya.

Selain itu, anak juga akan mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Hal ini terjadi karena ayah memberi perhatian dengan membacakan cerita kepada anak sebelum tidur. Menurut studi, kegiatan ini mampu meningkatkan kecerdasan dan kosakata anak.

Anak yang dekat dengan ayah juga akan lebih berani mengembangkan diri karena adanya dukungan dari ayah mengenai keberanian sehingga dia mau mencoba hal baru. Di samping itu, anak akan  menjadi lebih percaya diri dan tidak cemas.

Hal ini akan membuatnya lebih mudah beradaptasi dengan rutinitas dan mudah menghadapi kekecewaan. “Kalau hanya diasuh oleh ibu, anak bisa menjadi anak yang cemas dan takut karena biasanya ibu sering melontarkan kata ‘jangan atau awas’ berbeda dengan ayah yang membiarkan anak untuk bereksplorasi.”

Tampil Cantik dan Nyaman Dengan Sepatu Teknologi Twist

Anak Depresi

Sebaliknya, ketika anak tidak mendapatkan pengasuhan dan kasih sayang yang cukup dari ayah, akan muncul berbagai permasalahan di kemudian hari. Untuk anak perempuan biasanya akan merasakan depresi dan dapat terjerumus pada kehidupan seks bebas.

“Remaja perempuan biasanya akan mudah jatuh cinta dan menyerahkan dirinya pada orang lain. Mereka umumnya menyukai pria yang lebih tua sebagai sosok pengganti ayah,” tuturnya.

Sementara itu, bagi anak laki yang kekurangan kasih sayang ayah, awalnya akan menjadi anak yang nakal, lebih sering terlibat pornografi, mudah terpengaruh untuk merokok, cenderung lebih aktif secara seksual di usia muda, memiliki mental yang rapuh, dan cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasanya.

Dee menambahkan bahwa orang tua, baik ayah maupun ibu harus selalu menjaga komunikasi dengan anak sedari dini. Dalam komunikasi tersebut, hal paling tepat yang perlu ditanyakan ialah mengenai perasaan.

Orang tua bisa bertanya seperti: Apa saja tadi yang enak dan tidak enak di sekolah hari ini? Apa yang kamu suka hari ini? Hal apa yang paling menarik yang kamu temui? Apa yang membuat kami kesal dan kecewa? Apa ada yang menyinggung perasaan kamu.

Dengan memulai dari perasaan, orang tua dapat bertanya secara lebih pribadi pada anak sehingga komunikasi yang terjalin akan lebih intens. “Karena bila perasaan diterima, anak merasa seluruh dirinya diterima. Bila perasaanya ditolak anak merasa seluruh dirinya di tolak. Apalagi pusat perasaan di otak merupakan yang pertama kali berkembang,” ujarnya.

Hal senada disampaikan konsultan psikologi klinis dan pendidikan, Naomi Soetikno yang menyebutkan bahwa peran ayah dalam mengasuh anak sama pentingnya dengan ibu.

Menurutnya, ayah yang rajin mengajak anaknya yang masih berusia 0-2 tahun untuk bermain maka akan membantuk perkembangan sensorik dan motorik. Pada balita usia 2-5 tahun akan membantu perkembangan logika mereka.

“Anak yang banyak bermain bersama ayahnya, logika dalam berpikir akan lebih jalan dan lebih mudah bersosialisasi. Sedangkan anak yang lebih dekat dengan ibunya akan menjadi anak yang lebih hangat disebabkan sifat ibu yang lebih ‘ngemong’. Tentunya akan sangat baik jika anak dekat secara emosional dengan kedua orang tuanya,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
keluarga

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top