Melawan Mitos Kontrasepsi di Kalangan Pasangan Muda

Lestari tidak menyangka bahwa dirinya tengah mengandung. Tidak ada tanda-tanda kehamilan yang dia rasakan, hanya saja menstruasinya memang belum juga keluar beberapa bulan terakhir.
Dewi Andriani | 21 Oktober 2018 00:14 WIB
Ibu hamil - Antara

Lestari tidak menyangka bahwa dirinya tengah mengandung. Tidak ada tanda-tanda kehamilan yang dia rasakan, hanya saja menstruasinya memang belum juga keluar beberapa bulan terakhir.

Pada awalnya dia tidak menghiraukan tanda-tanda itu karena wanita berusia 26 tahun tersebut memang memiliki jadwal menstruasi yang kurang teratur. Hingga akhirnya keluarga mulai curiga ketika dia acap kali mual di pagi hari. Dan betul saja ketika dicek ke dokter, wanita yang bekerja sebagai pegawai bank ini tengah mengandung 3 bulan.

Padahal, Lestari baru saja memiliki buah hati yang menginjak usia 10 bulan, dan kini dia kembali hamil. Diakuinya hal tersebut terjadi karena dia dan suami enggan menggunakan alat kontrasepsi modern. “Agak takut saja kalau pakai alat kontrasepsi karena katanya bakal bikin gemuk atau bikin ASI jadi seret. Jadi ya pakai cara alami aja, eh, malah kebobolan. Syukuri dan nikmati sajalah,” tuturnya.

Bukan hanya Lestari, ternyata cukup banyak pasangan muda yang lebih memilih kontrasepsi tradisional atau cara alami untuk menunda kehamilan dibandingkan menggunakan kontrasepsi modern.

Selain Lestari, ada pula Munik seorang ibu muda yang awalnya memilih tidak menggunakan alat kontrasepsi modern usai melahirkan putri pertamanya. Alasannya karena takut dan minimnya pemahaman mengenai alat kontrasepsi. Dia memilih cara alami dengan proses menyusui, karena katanya menyusui dapat menekan hormon kesuburan.

Namun kini, wanita yang sudah berusia 31 tahun tersebut telah menggunakan alat kontrasepsi berupa spiral usai kelahiran anak keduanya. “Setelah ASI eksklusif 2 tahun, gue kebobolan. Langsung hamil padahal itu nggak direncanakan juga. Makanya sekarang gue berani memutuskan untuk pasang [alat kontrasepsi],” tuturnya.

Dua kisah itu sejalan dengan survei demografi kesehatan Indonesia pada 2017 yang menemukan bahwa penggunaan alat kontrasepsi modern mengalami penurunan dari 61,9% pada 2012 menjadi 59,7% pada 2017.

Penurunan tertinggi bahkan terjadi pada segmen usia 15 tahun – 29 tahun yang merosot 4%. Tren sebaliknya terjadi pada penggunaan kontrasepsi konvensional yang naik dari 62% menjadi 64%.

Kontrasepsi modern adalah proses pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat keluarga berencana (KB) seperti jarum suntik, pil KB, IUD, implan, kondom, hingga vasektomi. Adapun kontrasepsi konvensional adalah proses pencegahan kehamilan secara alami dengan mengatur jadwal dan memutus senggama.

Widwiono, Plt Direktur Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan kendala terbesar yang menyebabkan menurunnya penggunaan alat kontrasepsi modern karena masih adanya mitos yang rancu dan masih dipercaya masyarakat.

Pasangan muda juga belum menyadari sepenuhnya mengenai kesehatan reproduksi dan kurangnya akses terhadap informasi yang akurat dan terpercaya mengenai kontrasepsi.

Beberapa mitos mengenai penggunaan alat kontrasepsi antara lain badan menjadi gemuk, rahim menjadi kering, dan mudah berjerawat ketika menggunakan pil dan suntik KB. Adapun mitos mengenai penggunaan IUD dan implan dapat membuat ASI tidak lancar, hubungan seksual menjadi tidak nyaman, dan susuk (implan) bisa masuk ke jantung.

Selain itu ada pula mitos yang menyebutkan bahwa saat menyusui hormon kesuburan ditekan sehingga kemungkinan hamil akan sangat kecil. Mitos yang menyebutkan bahwa penggunaan alat kontrasepsi dalam jangka waktu lama akan membuat sulit hamil juga cukup banyak dipercaya.

“Mitos yang rancu itu masih beredar di kalangan masyarakat, dan itu semua tidak benar. Makanya kami terus berupaya mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga dengan menggunakan metode kontrasepsi modern,” tuturnya.

DKT Indonesia sebagai salah satu mitra yang menyediakan alat kontrasepsi juga mendorong kesadaran generasi muda mengenai pentingnya pengetahuan akan kesehatan reproduksi, termasuk penggunaan kontrasepsi modern untuk mencegah kehamilan usia dini.

“Untuk menyasar pasangan millennials dalam hal perencanaan keluarga, kami giat melakukan berbagai aktivitas digital yang dikemas secara menarik dan meaningful, salah satunya melalui platform edukasi digital,” ujar Aditya A Putra, Strategic Planning Manager DKT Indonesia.

Dua platform edukasi digital yaitu tundakehamilan.com sebagai sumber bagi millennials moms untuk mencari informasi mengenai kontrasepsi, dan Moth3rs.com sebuah platform untuk mengedukasi pentingnya perencanaan secara general. Hingga saat ini, dua platform tersebut telah menjangkau lebih dari 24 juta wanita Indonesia.

Manfaat Alat Kontrasepsi

Dokter spesialis kandungan dari RS Brawijaya Uf Bagazi menyebutkan bahwa penggunaan kontrasepsi tidak saja bertujuan untuk mengendalikan kelahiran tetapi juga memiliki berbagai manfaat lain.

Manfaat itu a.l. terjaganya kesehatan reproduksi sehingga meminimalisir risiko penyakit yang berkaitan dengan organ reproduksi seperti kanker payudara, kanker serviks, dan sebagainya.

“Selain itu dapat mencegah terjadinya gangguan fisik dan psikologis akibat kehamilan yang tidak direncanakan, memiliki persiapan yang matang terkait dengan perencanaan kehamilan, dan dapat meningkatkan kualitas diri dan mewujudkan impiannya,” tuturnya.

Senada, dokter spesialis kandungan dari RSCM Andon Hestiantoro mengatakan bahwa penggunaan alat kontrasepsi dapat memperkuat hak-hak perempuan dalam menentukan sendiri kapan mereka siap hamil. Misalnya, setelah selesai memberikan ASI eksklusif atau setelah anak pertama sudah cukup besar

Selain itu dapat melindungi ibu dari gangguan kesehatan reproduksi, seperti kehamilan yang terlalu muda, terlalu tua, atau jarak kehamilan yang terlalu dekat karena akan meningkatkan risiko preeklampsia, dan prematuritas.

Penggunaan alat kontrasepsi juga dapat melindungi anak dari gangguan tumbuh kembang dan gangguan kesehatan sehingga dapat melahirkan generasi baru yang berkualitas. Dapat juga menurunkan risiko penyakit radang panggul serta kanker indung telur, dan kanker endometrium.

“Dengan merencanakan jarak kehamilan dengan baik, maka perempuan dapat lebih memberdayakan dirinya dalam segi pendidikan dan sosial sehingga kesejahteraan dirinya maupun keluarga dapat ditingkatkan pula,” ujarnya.

 

Tag : keluarga, alat kontrasepsi
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top