Ini Tip Menumbuhkan Minat Anak pada Sains

Untuk menumbuhkan minat ilmu sains seperti kimia, fisika, dan biologi, anak harus diajak untuk melakukan eksperimen.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 29 Oktober 2018 22:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Untuk menumbuhkan minat ilmu sains seperti kimia, fisika, dan biologi, anak harus diajak untuk melakukan eksperimen.

Menurut Psikolog Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) Syarif Ari Ahmadi, anak khususnya pada usia 6-12 tahun itu masih masanya berpikir secara konkret.

"Oleh karena itu dalam belajar, termasuk IPA, perlu diberikan dalam aktivitas konkret. Misalnya percobaan dan eksperimen yang menarik atau terkesan seperti bermain," ujar Ari kepada Bisnis, Senin (29/10/2018).

Menurut Ari, kalau anak hanya dipaparkan dengan teori dan konsep, bisa jadi kurang menarik untuk anak.

Beberapa contoh yang pernah Ari lakukan adalah membuat Volcano atau gunung api bersama anak-anak. Metode yang dilakukan agak meniru dari acara tv Hi-5.

"Jadi bikin diorama gunung, lalu didalamnya dimasukkan campuran cuka, baking powder, dan pewarna makana. Adinya meluap seperti lava gunung merapi," terang Ari.

Selain metode pembuatan diorama gunung api ada tiga eksperimen air dari BASF Kids’ Lab pada 9-11 November 2018.

President Direktur BASF Indonesia Daniel Loh mengatakan BASF membuat kegiatan eksperimen untuk anak usia 6-12 tahun menanamkan minat ilmu kimia pada anak.

BASF Kids’ Lab tahun ini akan menghadirkan tiga eksperimen tentang air yang akan menanamkan ketertarikan dan rasa penasaran anak. Daniel menyebut, kegiatan ini dilakukan sejak 1997 di Jerman dan telah diduplikasi di banyak negara, termasuk di Indonesia, mulai 2005. Berikut tiga eksperimen yang akan dikerjakan.

Water Purification atau Percobaan Penjernihan Air

Sekitar 10% air yang digunakan oleh BASF bersentuhan dengan produk dan digunakan untuk membilas atau sebagai pelarut. Air limbah yang telah dihasilkan dimurnikan di pabrik limbah.

Dalam percobaan “Water Purification”, atau Penjernihan Air, anak-anak akan belajar membuat “air kotor” mereka sendiri kemudian menghilangkan partikel padat serta terlarut di dalam air tersebut.

Bisnis.com pun ikut bereksperimen. Pertama, dengan air 100 ml, dimasukkan 2 sendok teh pasir, 1 sendok teh serbuk kayu, dan masukkan dua tetes tinta. Aduk merata sampai air berwarna biru.

Selanjutnya, tuanglah air ke dalam labu Erlenmeyer dengan saringan. Hasilnya, air kotor berwarna biru terpisah dari pasir dan serbuk kayu. Selanjutnya, untuk mengembalikan air menjadi bersih, masukkan 1 tetes tawar dan ½ sendok teh karbon aktif ke dalam air, aduk sampai rata.

Tuang air campuran melalui kertas saringan baru. Hasilnya, air kembali jernih. Adapun pelatihan ini berguna untuk mengajarkan kepada anak proses pemisahan air tanah menjadi air bersih yang ada di rumah. Percobaan ini juga membantu anak memahami reaksi karbon aktif sebagai pemisah dari cairan air.


Water Storage atau Percobaan Penyimpanan Air

Produk BASF memberikan banyak peluang untuk menyimpan air. Salah satu contohnya adalah polimer superabsorben, yang memiliki kapasitas untuk menyimpan berkali-kali beratnya sendiri di dalam air.

Untuk penggunaan di pertanian, polimer superabsorben dicampur dengan tanah untuk mengurangi kerugian akibat rembesan ke tanah berpasir. Dalam eksperimen “Water Storage”, anak-anak akan belajar menguji kapasitas penyimpanan air dari campuran polimer superabsorben dan pasir.


Water Research atau Percobaan Penelitian Massa Jenis Air

Kimiawan biasanya menggunakan air sebagai pelarut. Solusi yang berbasis air terkadang memiliki sifat yang tidak terduga yang berbeda dari air murni. Dalam eksperimen “Water Research”, anak-anak akan menyiapkan larutan gula dengan massa yang tinggi, meletakkannya di bawah air murni lalu mengamati manik-manik plastik di density tower.

Untuk membuktikannya, Bisnis.com mencoba eksperimen dengan cara menuangkan 50 ml air dari wadah ke dalam gelas ukur. Selanjutnya, tuangkan 40 ml air ke dalam gelas ukur air, masukkan 4 sendok gula ke dalam gelas berisi air. Aduk hingga larutan tercampur.

Ketiga, tambahkan empat tetes pewarna ke dalam cairan larutan gula. Aduk hingga rata. Nah, selanjutnya ambil 50 ml larutan gula dan tinta itu dengan memakai suntikan. Lalu, tuangkan perlahan melalui saluran suntikan ke gelas ukur yang berisi air bersih. Pastikan ujung selang suntikan berada pada dasar gelas ukur.

Selanjutnya, dengan berhati-hati angkat selang suntikan dari dalam gelas ukur. Ternyata, terjadi gradasi warna dimana warna yang diatas lebih jernih ketimbang warna yang dibagian bawah. Selanjutnya, masukkan manik-maik ke dalam gelas ukur. Hasilnya, manik-manik itu mengambang tepat di antara garis air yang berwarna muda dengan air yang keruh.

Ada pun air yang keruh adalah larutan gula dan tinta, memiliki massa yang lebih besar ketimbang air yang bagian atas. Massa jenis manik lebih berat dibandingkan air sehingga dia tenggelam ke dalam air. Namun untuk larutan gula, massa manik masih lebih kecil dari larutan gula.

Hasilnya, tepat di atas campuran air gula, manik menjadi terapung. Pesan ilmiah dari percobaan ini juga ingin menjelaskan kepada anak-anak bahwa massa gula lebih berat dibandingkan massa air. Misalnya dalam darah, jika kondisi darha terlampau pekat dengan massa jenis gula, maka akan mempersulit percampuran zat lain. Hal ini menjelaskan mengapa kelebihan gula bisa berbahaya bagi kesehatan.

Empat jenis penelitian yang ada terbilang ramah lingkungan dan bisa dilakukan di rumah dengan bahan yang sama. Dengan demikian orangtua juga bisa memberi pengajaran sains di rumah kepada anaknya.

Tag : parenting
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top