Idap Penyakit Langka, Pencipta SpongeBob SquarePants Meninggal Dunia

Kreator SpongeBob SquarePants Stephen Hillenburg meninggal dunia di usia 57 tahun karena sakit.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 28 November 2018  |  01:48 WIB
Idap Penyakit Langka, Pencipta SpongeBob SquarePants Meninggal Dunia
Balon SpongeBob SquarePants ikut serta dalam parade tahunan Thanksgiving yang digelar peritel Macys di New York, AS pada 2014. - Reuters/Andrew Kelly

Bisnis.com, JAKARTA – Kreator SpongeBob SquarePants Stephen Hillenburg meninggal dunia di usia 57 tahun karena sakit.

Kabar tersebut telah dikonfirmasi oleh Nickelodeon, yang menayangkan serial kartun tersebut sejak 1999.

BBC melansir Rabu (28/11/2018), Nickelodeon menyatakan penyebab meninggalnya Hillenburg adalah penyakit motor neuron (Motor Neuron Disease/MND), yang salah satu jenisnya adalah Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Hillenburg didiagnosis mengidap penyakit tersebut pada Maret 2017.

“Dengan hati yang sedih, kami menyampaikan bahwa Stephen Hillenburg, pencipta SpongeBob SquarePants, telah tiada,” tutur Nickelodeon melalui akun Twitter resminya.

Sejak ditayangkan hampir 20 tahun lalu, SpongeBob SquarePants sudah dikenal luas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Para karakter penghuni Bikini Bottom lainnya pun tidak hanya dikenal oleh anak-anak, tapi juga orang dewasa.

Hingga kini, serial tersebut sudah mencapai lebih dari 200 episode. Ada pula film layar lebar yang diangkat dari kisah SpongeBob dan teman-temannya dan bahkan pagelaran musikal di Broadway yang meraih Tony Award pada awal tahun ini.

MND disebabkan oleh degenerasi dan kematian motor neuron, yakni sel saraf dari otak yang menjangkau saraf tulang belakang dan otot di seluruh tubuh. Sel-sel ini menginisiasi dan memberikan jalur komunikasi vital antara otak dan otot-otot sukarela.

Adapun ALS adalah penyakit yang sama yang diderita oleh fisikawan Stephen Hawking.

Ini adalah penyakit langka yang menyerang sel saraf (neuron) yang bertanggung jawab atas kontrol terhadap pergerakan otot secara sukarela. Gerakan otot sukarela ini misalnya mengunyah, berjalan, dan berbicara.

Penderita penyakit ini akan mengalami gejala yang makin parah dari waktu ke waktu. Sampai saat ini, belum ada obat untuk ALS maupun bentuk perawatan untuk menahan tingkat keparahannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film

Sumber : BBC

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top