77 Tahun Joan Baez, Sang Pengkritik Abadi  

Namanya dikenang sebagai musisi folk, salah satu lagunya yang mendunia berjudul Donna Donna. Usia senja tak membuat Joan Baez mengendorkan protes sosial lewat musik, hingga kini dia aktif menentang Donald Trump.
Kahfi | 09 Januari 2019 20:53 WIB
Penyanyi Joan Baez. - Bisnis/Youtube

Bisnis.com, JAKARTA--Namanya dikenang sebagai musisi folk. Usia senja tak membuat Joan Baez mengendorkan protes sosial lewat musik, hingga kini dia aktif menentang Donald Trump.

Joan Baez lahir pada 9 Januari 1941. Pada awalnya orangtua Baez berdomisili di Staten Island, New York, AS. Baez terlahir dengan darah Meksiko campuran Skotlandia. Dengan latar ras tersebut, kehidupan kecilnya di California, sangatlah sulit.

Sebagaimana dikenangnya, anak-anak kulit putih di lingkungan sekitarnya menghindari hubungan dengan Baez. Bahkan, anak-anak keturunan Meksiko melakukan hal serupa dikarenakan secara fisik Baez yang berdarah campuran, berbeda.

Namun dengan tekanan sosial seperti itu, Baez menunjukan bakat unik. Alat musik ukulele dan kepandaian bernyanyi folk mencairkan hubungannya dengan anak seusia. “Mereka mendatangi dan mendengarkan saya, saya menyukai perhatian, dan mereka telah menerima saya,” kenangnya seperti dikutip dari The Guardian.com.

Penampilan perdana Baez terjadi di panggung festival musik Folk, pada 1959. Kemudian, Baez yang juga piawai menggubah lagu merilis album perdana setahun kemudian.

Selaku bagian dari generasi yang dihadapkan kepada persoalan rasis dan tekanan hak-hak sipil di AS, Baez gigih mengumandangkan protes. Tak pelak, hal ini pun mengantarkan namanya sebagai idola “Generasi Bunga”.

Sebagai musisi wanita, Baez mempunyai kisah romansa yang layak dikenang sepanjang masa. Nama musisi Bob Dylan, kekasih dalam segala aspek bagi Baez.

Bahkan, Baez sangat berperan memunculkan Dylan ke panggung musik. Lewat peran Baez yang kerap mengundang Dylan ke atas panggung konser, Dylan mendapat ketenaran dengan waktu singkat. Dylan dan Baez duet musisi yang peka terhadap kondisi sosial. Bahkan Dylan pernah dijuluki sebagai “King of Protest”.

Penuh Gejolak

Baez tumbuh pada era 1960-an. Masa tersebut bagi kehidupan anak muda di AS, penuh gejolak. Sebagai idola anak muda pada masanya, Baez terdorong untuk melakukan protes melalui lagu-lagu gubahannya.

Paling mengesankan, saat Baez menyanyikan secara khusus lagu untuk Martin Luther King, yang tengah melawan dengan gigih politik segregasi di AS, lagu itu berjudul “We Shall Overcome”.

Catatan kepopuleran Baez terbilang fantastis. Secara berturut-turut 10 lagunya menguasai tangga lagu di Inggris pada 1965, dan masuk dalam 40 nama musisi berpengaruh dunia pada masanya.

Kehidupan Baez terus diisi ketidaksenangan terhadap kebijakan pemerintah. Pada 1967, dirinya ditangkap aparat keamanan seiring dengan protes dan pemblokiran pusat angkatan bersenjata.

Lebih dari itu, dia ikut dalam barisan massa menentang perang Vietnam yang dilancarkan AS semasa Kennedy dan Nixon. Baez menyuarakan pentingnya kebebasan bersuara di tengah kehidupan perguruan tinggi di AS.

 Tak Berhenti Bersuara

Pada 2017, Rollingstones.com merilis wawancara dengan Joan Baez. Hingga kini, dirinya didapuk sebagai wanita yang mempunyai pengaruh besar terhadap musik rakyat, yang bersahaja namun sarat makna.

Baez yang dikenal lewat lagunya berjudul Donna Donna tetaplah setegar dan segahar masa muda dahulu. Arah politik AS yang menempatkan Donald Trump sebagai kepala negara adikuasa yang terkesan hiper proteksionis dan rasis, membuat Joan tampil kembali ke publik.

Baez menyempatkan diri tampil di Standing Rock, di Utara Dakota, dua tahun lalu. Penampilan tersebut bagian dari protes terhadap kebijakan pemerintah.

Bahkan, pada awal  2017,  Baez ikut menyokong pawai kaum hawa di Redwood City. Dia ikut menyuarakan protes terhadap larangan imigran oleh pemerintah Trump.

“Kami membutuhkan Joan Baez sekarang,” ujar Joe Henry salah seorang yang dekat dengan Baez menyampaikan  suara publik AS sewaktu melancarkan protes terhadap Trump.

 

 

 

Tag : fokus, penyanyi, Donald Trump
Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top