Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bisnis Lapis Bogor Sangkuriang, Bermodal Rp500.000 kini Beromzet Rp500 Miliar

Makanan oleh-oleh Lapis Bogor Sangkuriang menjadi pilihan masyarakat dalam mencari buah tangan atau sekadar cemilan sehari-hari
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 26 Januari 2019  |  17:57 WIB
Founder Lapis Bogor Sangkuriang saat menjadi pembicara dalam CEO Biztalk SBM ProIndonesia. - Ist
Founder Lapis Bogor Sangkuriang saat menjadi pembicara dalam CEO Biztalk SBM ProIndonesia. - Ist

Bisnis.com, JAKARTA — Makanan oleh-oleh Lapis Bogor Sangkuriang menjadi pilihan masyarakat dalam mencari buah tangan atau sekadar cemilan sehari-hari

Pemilik Bisnis Lapis Bogor Sangkuriang ternyata memiliki cerita unik. Dimulai dari usaha pasangan suami istri muda bernama Anggara Jati dan Riska Wahyu (30) yang hanya mengeluarkan modal usaha Rp500.000 tujuh tahun lalu.

Namun, dari yang bermodal sedikit itu kini usaha mereka sudah beromzet Rp500 miliar per tahun. Dari bermula satu produk kini pun sudah memiliki diferensiasi yakni Bolu Susu Lembang, Bakpia Kukus Tugu dan Lapis Kukus Surabaya. 

Anggara mengatakan kala itu bisnis diawali dengan keberanian. Sempat gagal beberapa kali dari beberapa usahanya seperti bakso, tapi bangkit lagi sampai akhirnya menemukan bisnis kue itu. 

Produk kue itu ditemukan berkat menerapkan prinsip ATM atau amati, tiru, dan modifikasi. Produk-produknya tak lain adalah makanan tradisional di beberapa daerah, tapi dimodifikasi sedemikian rupa, seperti Bakpia yang biasanya dipanggang oleh mereka dikukus. 

"Mau usaha tapi produknya apa, intinya ATM, tapi jangan ATP atau amati tiru plek," katanya melalui siaran pers, Sabtu (26/1/2019).

Keberhasilan itu juga tak lepas dari peran partner bisnis. Partner bisnisnya yang utama menurut Anggara adalah istrinya sendiri. Dia mengibaratkan, kalau Anggara sebagai gas atau semangat yang tinggi, istrinya sebagai rem yang mengatur bisnis mereka. 

Menurut Anggara lagi, keberhasilan mereka juga tidak lepas dari bimbingan dan mentor para ahli. Diketahui mereka adalah jebolan SBM Pro Indonesia, sebuah lembaga pelatihan dan akselerasi bisnis. Dari sini mereka mendapatkan pelatihan manajerial, akuntansi dan ilmu lainnya yang dibutuhkan untuk memperbesar bisnis mereka. 

Sementara itu, Taufan CEO dari SBM ProIndonesia menilai biasanya pengusaha punyanya semangat dan keberanian, tapi kadang kemampuan manajerial lemah. Jadi yang dibutuhkan pendamping atau mentor, dari sisi manajerial dan pemasaran.

Dari SBM sendiri, melihat banyak pengusaha di Indonesia membutuhkan training dan pendampingan bisnis. 

"Mentor yang dibutuhkan adalah yang punya keahlian. Di SBM ProIndonesia ada 80 mentor yang juga datang dari latar belakang pengusaha," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tips wirausaha
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top