Menyusuri Sejarah Islam di Australia di Museum Sejarah Jakarta

Islam menjadi agama paling cepat pertumbuhannya dalam beberapa dekade di Australia. Untuk menyusuri sejarah Islam di Australia, Anda bisa kunjungi pameran foto Boundless Plains' di Museum Sejarah Jakarta yang diadakan pada 13--30 April 2019.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 20 April 2019  |  12:02 WIB
Menyusuri Sejarah Islam di Australia di Museum Sejarah Jakarta
Sumber: Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Islam menjadi agama paling cepat pertumbuhannya dalam beberapa dekade di Australia. Geliat Islam di Negeri Kangguru tidaklah terlepas dari orang-orang Indonesia yang pertama kali berperan menyebarkan agama tersebut.

Untuk mengenalkan lebih dalam dan lebih jauh tentang perkembangan Islam di Australia, Islamic Museum of Australia (IMA) berinisiasi mengadakan pameran foto bertema ‘Boundless Plains: The Australian Muslim Connection’ yang dipamerkan di Musem Sejarah Jakarta.

Pameran yang diadakan pada 13—30 April 2019 tersebut memetakan sejarah panjang Islam di Australia dari awal kedatangan pelaut Makassar hingga imigran dari seluruh dunia yang menjadikan Australia sebagai rumah hingga saat ini.

Secara keseluruhan, pameran tersebut memberikan informasi tentang perkembangan Islam di Australia selama lebih dari 200 tahun terakhir.

“Pameran ini menampilkan sekitar 21 foto hasil dari fotografer Peter Gold yang menceritakan sejarah Islam masuk ke Australia,” ujar Ali Fahour, CEO Islamic Museum of Australia (IMA), baru-baru ini.

Dia menjelaskan, berdasarkan beragam literatur, sejarah kontak pertama Australia dengan orang muslim terjadi pada pertengahan 1700-an saat pelaut-pelaut Makassar tiba di Australia utara untuk berdagang teripang dengan penduduk Yolngu.

Lalu pada 1850-an, datanglah para penunggang unta dari Afganistan yang membuka jalur perdagangan di pedalaman Australia. Islam makin berkembang di Australia seiring dengan datangnya penduduk muslim dari sejumlah negara Asia lainnya, seperti Arab Saudi, Pakistan, dan India Selatan.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan menjelaskan bahwa pameran tersebut tak hanya menghadirkan hasil fotografi, tetapi juga film dokumenter tentang empat pemuda muslim Australia.

Film dokumenter berisi cuplikan footage yang berusia 20.000 tahun dan artefak dari Arnhem Land yang terpencil, menggambarkan interaksi antara nelayan Indonesia dan Aborigin setempat yang berasal dari pemukiman pra-Eropa.

“Film dokumenter bertujuan untuk mendidik masyarakat di Australia dan negara lain perihal kontribusi yang dibuat muslim untuk Australia,” tuturnya.  

Selain film dokumenter, ada juga teknologi realitas virtual (VR) untuk melihat secara visual kondisi perkembangan Islam di Australia. Melalui VR  tersebut, pengunjung bisa menyusuri perjalanan Islam dari Mekkah hingga ke masjid pertama di Australia yang dibangun para penunggang unta di Marree, Australia Selatan pada 1885.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
australia, sejarah

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top