Begini Cara Supaya Tak Kurang Gizi Saat Puasa

Puasa di bulan Ramadan menjadi kewajiban umat Islam. Karena itu, banyak orangtua mulai melatih anak berpuasa agar ketika dewasa sudah terbiasa menjalankan ibadah ini. Tapi, bagaimana dengan kebutuhan gizi anak di masa tumbuh kembangnya?
JIBI | 30 April 2019 09:15 WIB
Ilustrasi: Satu keluarga Muslim di Paris berbuka puasa bersama - Reuters/Youssef Boudlal

Bisnis.com, JAKARTA - Puasa di bulan Ramadan menjadi kewajiban umat Islam. Karena itu, banyak orangtua mulai melatih anak berpuasa agar ketika dewasa sudah terbiasa menjalankan ibadah ini. Tapi, bagaimana dengan kebutuhan gizi anak di masa tumbuh kembangnya? 

Dokter spesialis gizi klinis Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Juwalita Surapsari, mengatakan sebaiknya orangtua melihat status gizi anak sebelum mulai melatihnya berpuasa. Jika status gizinya baik, anak diperbolehkan berpuasa.

Status gizi yang baik ditandai dengan indeks massa tubuh yang normal, tidak rentan penyakit, punya nafsu makan yang baik, dan cenderung aktif.

“Ada anak yang berat badannya kurang. Kalau seperti itu, jangan dipaksakan berpuasa satu hari penuh. Anak usia tujuh tahun bisa dilatih setengah hari,” kata Juwalita dalam diskusi “Panduan Nutrisi selama Berpuasa pada Kondisi Khusus” di Jakarta, Senin (29/4/2019).

Sebab, nutrisi yang dikonsumsi hanya dapat dipakai dua jam saja. Setelah itu, tubuh akan membongkar cadagan-cadangan energi yang ada di tubuh, antara lain glikogen yang ada di lever, jaringan lemak, juga otot yang berada di daging.

Agar kebutuhan nutrisi terpenuhi, anak harus mengonsumsi makanan dengan komposisi lengkap saat sahur dan makan malam. Makanan lengkap terdiri dari karbohidrat, protein hewani dan nabati, serat dari buah-buahan dan sayuran, lemak, juga vitamin dan mineral.

“Saat sahur, jangan hanya dikasih roti dan selai seperti saat ia sarapan. Selai mengandung gula, indeks glikemiknya tinggi yang menyebabkan gula darah cepat turun. Takutnya pas sekolah sudah lapar lagi,” kata dia. 

Juwalita juga menyarankan agar menu sahur anak ditambah segelas susu. Minuman ini mengandung protein dan karbohidrat sekaligus, beberapa jenis susu bahkan mengandung serat. Serat dapat membantu melepaskan gula secara berlahan-lahan sehingga tidak cepat menimbulkan rasa lapar. 

Tantangannya adalah, kebanyakan anak malas makan sahur. Tapi Juwalita punya saran agar anak mau makan, yaitu jangan membangunkan anak mendadak menjelang makan. Setidaknya, bangunkan mereka satu jam sebelum sahur.

 “Anak biasanya nggak mau makan kalau baru bangun tidur,” kata dia.

Lalu, orangtua bisa mengajak anak ngobrol agar mood-nya bagus.

Selain itu, orangtua juga perlu mewaspadai kondisi anak ketika bepuasa. Anak bisa diminta memberi tahu jika mengalami pusing atau lemas berlebihan.

“Tapi untuk menghindari akal-akalan anak, orang tua juga bisa mengeceknya dari denyut nadi. Kalau nadinya cepat, sebaiknya dibatalkan karena takut anak mengalami dehidrasi atau hipoglikemi,” kata dia.

Tapi jika kondisi anak baik-baik saja, dia bisa melanjutkan berpuasa.

“Selanjutnya bertahap, kalau kondisi anak baik-baik saja, bisa diajarkan puasa satu hari penuh,” ujar Juwalita.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gizi, Puasa, Ramadan

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top