Bunda, Ajarilah Anak Cara Menerima Kegagalan

Selain faktor lingkungan, ternyata sikap ini lahir tanpa disadari akibat dari kebiasaan yang diajarkan orang tua di rumah.
Bunda, Ajarilah Anak Cara Menerima Kegagalan Rayful Mudassir | 25 Mei 2019 23:59 WIB
Bunda, Ajarilah Anak Cara Menerima Kegagalan
Ilustrasi - Picsora

Bisnis.com, JAKARTA - Gagal merupakan situasi yang paling ditakuti oleh sebagian anak. Mereka sulit menerima kekalahan atau kegagalan termasuk dalam sebuah kompetisi.

Selain faktor lingkungan, ternyata sikap ini lahir tanpa disadari akibat dari kebiasaan yang diajarkan orang tua di rumah.

Tentu kegagalan adalah hal yang ingin dihindari setiap orang. Akan tetapi cara menilai dan menerima kondisi tersebut berbeda-beda pada tiap insan. Semua ditentukan dari seberapa besar sikap menerima yang telah tertanam sejak dini. 

Psikolog Anak Anastasia Satriyo menilai sikap ini dapat dilatih oleh orang tua pada anak sejak kecil. Orang tua juga harus mengetahui dengan baik fase di mana anak dapat diberi penjelasan dan mengajarkan tentang kalah - menang.

Biasa di usia sekitar 3 – 5 tahun, anak masih berpikir sangat konkret. Apa yang dilihat, itulah yang dipercaya. Di usia tersebut kemarahan si buah hati saat kalah bermain masih cukup wajar. Pasalnya anak hanya ingin mendapatkan apa yang dia inginkan. Proses awal ini sebaiknya mampu dibaca dengan baik oleh orang tua.

Namun ketika memasuki usia 7 tahun, kepada anak mulai dapat diajarkan soal kalah dan menang. Sekolah juga kerap mengadakan perlombaan untuk usia tersebut. Di sini peran orang tua cukup penting. Mereka perlu menjelaskan dengan baik tentang kalah dan menang dengan benar.

Orang tua sebaiknya turut berinteraksi dengan anak. Orang tua dan anak dapat saling mengevaluasi sebuah kekalahan atau kemenangan yang diraih. Hasilnya anak secara perlahan akan mempelajari proses yang dilakukan sehingga dapat belajar dari kesalahan serta mampu mengevaluasi diri.

“Anak yang tipenya kompetitif itu memang lebih sulit menerima kekalahan. Makanya di sebagian sekolah tidak membubuhkan perankingan saat pembagian rapor, hanya melihat kemajuan dia dari dulu dan sekarang,” kata Anastasia.

Lingkungan di dalam rumah juga menjadi perhatian. Anastasia menyebutkan  sering kali orang tua menanamkan anak jiwa kompetitif yang tinggi. Alhasil anak akan merasa terancam jika mendapatkan hasil kurang memuaskan, seperti pembagian rapor atau nilai.

Jika orang tua mematok angka 100 harus diperoleh anak di setiap latihan atau ujian, maka saat anak mendapatkan nilai lebih rendah, mereka akan kehilangan kepercayaan diri. Anak akan merasa enggan di rumah karena takut mendapat ancaman dari orang tua.

Di sisi lain saat usia belia, orang tua harus menakar betul bagaimana memberikan pengertian tentang bersikap menerima dan lapang dada. Orang tua tidak disarankan untuk memanjakan sang buah hati secara berlebihan. Apa yang diinginkan, selalu dikabulkan. Ajarkan bagaimana sikap yang harus diterima saat gagal mendapat sesuatu yang diinginkan.

“Jika memberikan semua yang anak inginkan, anak akan merasa semesta berputar untuknya, dia akan percaya selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Saat sudah dewasa, perilaku kita dipengaruhi oleh pengalaman waktu kecil [sehingga sulit menerima kekalahan],” kata Anastasia.

Menurut Anastasia tidak terdapat batasan usia bagi orang tua mengajarkan sikap berani menerima kekalahan pada anak. Masa penting untuk memberikan pendidikan tentang kalah dan menang adalah sejak anak-anak hingga remaja.

Pada usia remaja, permasalahan pun lebih beragam. Orang tua perlu memahami kondisi emosional anak, tidak malah menjatuhkan semangat anak, termasuk berkaitan dengan soal asmara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kompetisi, parenting

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top