Hijrah Lifestyle Dorong Ekosistem Digital Berprinsip Syariah

Di tengah maraknya industri 4.0, muslim Indonesia justru semakin syar’i. Hal ini ditandai dengan hijrah lifestyle dan gelombang “hijrah movement”. Tidak mengherankan, saat ini hijrah menjadi sebuah identitas baru.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 07 Juni 2019  |  06:45 WIB
Hijrah Lifestyle Dorong Ekosistem Digital Berprinsip Syariah
Model menunjukkan aplikasi Muslimnesia pada peluncurannya di Jakarta, Jumat (3/5/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com,JAKARTA--Di tengah maraknya industri 4.0, muslim Indonesia justru semakin syar’i. Hal ini ditandai dengan hijrah lifestyle dan gelombang “hijrah movement”. Tidak mengherankan, saat ini hijrah menjadi sebuah identitas baru.

Revolusi teknologi 4.0 tidak hanya mempengaruhi konsumen muslim Indonesia dari sisi bagaimana mereka menggunakan dan memanfaatkan teknologi. Tapi juga aspek-aspek lain baik dari dimensi spiritual (keislaman), fungsional (teknologi), maupun emosional (leisure).

Managing Partner Inventure Yuswohady mengatakan gaya hidup hijrah turut merevolusi industri halal. Menurutnya, kini mulai muncul “Halal of Thing”, di mana tuntutan akan produk halal tidak terbatas pada makanan dan minuman saja.

Berbagai produk di luar makanan dan minuman banyak melakukan branding sebagai produk halal. Sebut saja kosmetik, deterjen, peralatan masak, fesyen, hingga perusahaan digital.

“Fenomena ini seakan menjadi bola salju yang mendorong produk-produk lainnya berlomba menjadikan halal sebagai unique value proposition,” jelasnya.

Halal seolah menjadi “magic word” yang bisa saja menghipnotis konsumen muslim. Tidak mengherankan apabila bermunculan marketplace di dunia maya yang dapat menunjang gaya hidup dan industri halal. Salah satu contoh adalah duniahalal.com. Marketplace tersebut menerapkan konsep syariah dalam menciptakan lingkungan digital.

Adapula muslimnesia, di mana peran digital dapat membantu umat muslim dalam memenuhi kebutuhan islaminya sehari-hari. Misalnya dalam mencari masjid, jadwal kajian, halal radar hingga bersedekah.

Yuswohady menilai market muslim masih berpotensi untuk terus dikembangkan. Masih ada celah potensi ekonomi keumatan yang bisa diberdayakan. Salah satu yang mencuat belakangan ini adalah tren wakaf sebagai gerakan ekonomi keumatan yang semakin berkembang. Semakin banyak institusi LAZIS bahkan perbankan syariah menawarkan produk-produk wakaf produktif dan tunai.

Kendati begitu, pasar muslim memang menuntut untuk memperkaya inovasi. Yuswohady menilai perusahaan atau label yang mengambil idiom islami memang cenderung medioker. Misalnya saja, dari segi kualitas produk belum dapat mengalahkan perusahaan konvensional.

“Produk minim inovasi. Awal-awal memang bisa booming namun lama-lama inovasinya berhenti,” katanya.

Dia melanjutkan, salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah penerapan blockchain di dunia keuangan dengan bentuk mata uang digital bernama Noorcoin. Noorcoin adalah token syariah pertama di dunia. Memadukan teknologi kripto dengan platform yang sesuai dengan hukum syariah.

“Platform ini dikembangkan dan dibangun dengan sistem kepercayaan dan reputasi yang terdesentralisasi yang bekerja tanpa cacat di atas gerbang pembayaran real-time sistem blockchain,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi syariah

Editor : Anggi Oktarinda
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top