Sering Pura-pura Sakit, Bisa Jadi Anda Gangguan Mental Sindrom Munchausen

Sebagian orang sering berpura-pura sakit, padahal sebenarnya ia baik-baik saja. Biasanya, pengakuan itu dilakukan untuk menarik simpati dan perhatian orang lain. Kebiasaan ini ternyata tergolong gangguan mental yang disebut dengan sindrom munchausen.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  08:40 WIB
Sering Pura-pura Sakit, Bisa Jadi Anda Gangguan Mental Sindrom Munchausen
Ilustrasi: depresi, gangguan jiwa, gangguan kejiwaan, gangguan mental. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Sebagian orang sering berpura-pura sakit, padahal sebenarnya ia baik-baik saja. Biasanya, pengakuan itu dilakukan untuk menarik simpati dan perhatian orang lain. Kebiasaan ini ternyata tergolong gangguan mental yang disebut dengan sindrom munchausen.

Sindrom munchausen disebut juga dengan factitious disorder, umumnya berkaitan dengan trauma masa kecil.

Biasanya, gangguan mental ini terjadi pada orang berusia dewasa muda. Penderita sindrom munchausen mendapatkan kepuasan tersendiri dari simpati yang diraih jika mereka berpura-pura sakit atau menjadi korban.

Beberapa gejala yang menandakan kondisi ini di antaranya memiliki riwayat pernah melakukan berbagai macam tes kesehatan, prosedur medis, bahkan operasi yang sebenarnya tidak saling berhubungan dengan kondisi kesehatan.

Ia juga merasakan berbagai gejala penyakit yang tidak saling berhubungan satu sama lain. Meski telah melalui pemeriksaan medis secara intensif, tidak ditemukan gangguan kesehatan yang signifikan.

Gejala baru yang berbeda-beda, namun setelah tes medis menunjukkan hasil negatif. Ia juga memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang berbagai macam penyakit.

Biasanya ia sering datang ke unit gawat darurat di rumah sakit berbeda. Selain itu, ia juga sering mengunjungi dokter, bahkan hingga ke luar kota atau ke luar negeri.

Tak jarang ia meminta anjuran untuk operasi atau prosedur medis lain di tubuhnya meski tidak diperlukan. Saat sakit, sulit untuk sembuh walau telah menjalani berbagai perawatan. Penyakit yang dialami pun sering kambuh tanpa alasan yang jelas.

Gangguan ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain trauma masa kecil. Biasanya orang yang mengalami ini kurang perhatian atau ditelantarkan orang tua di masa tumbuh kembangnya.

Selain itu, ada juga bukti yang menyebutkan bahwa seseorang yang pernah mengalami berbagai operasi serta prosedur medis saat kecil, lebih mungkin terkena gangguan ini.

Selain trauma, masalah ini juga disebabkan gangguan kepribadian. Ada tiga gangguan kepribadian dapat dikaitkan dengan sindrom munchausen, yaitu antisosial, borderline  yang membuat seseorang kesulitan untuk mengontrol perasaan mereka, dan narsistik yang membuat penderitanya merasa dirinya sangat spesial dan takut merasa tidak berharga.

Rasa tidak senang terhadap sosok yang memiliki otoritas, seperti orang tua, atau tenaga medis profesional, juga bisa menjadi pemicu seseorang mengalami sindrom ini.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, sakit, sakit jiwa

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top