Tangani Epilepsi dengan Sel Punca dan Terapi Gen

Epilepsi adalah gangguan sistem persarafan. Sekitar 1 persen populasi di seluruh dunia diduga mengidap Epilepsi. Epilepsi memiliki pelbagai faktor risiko.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  13:49 WIB
Tangani Epilepsi dengan Sel Punca dan Terapi Gen
Otak - cbsnews.com,au

Bisnis.com, JAKARTA - Epilepsi adalah gangguan sistem persarafan. Sekitar 1 persen populasi di seluruh dunia diduga mengidap Epilepsi. Epilepsi memiliki pelbagai faktor risiko.

Menurut Engel (2013), beberapa faktor risiko epilepsi misalnya: stroke, kanker, cedera otak traumatik, infeksi sistem saraf pusat, dan faktor-faktor genetika dapat memengaruhi struktur dan perkembangan otak.

Secara khusus, epilepsi lobus temporal (TLE) mewakili lebih dari 30 persen pasien epilepsi. Karakteristik TLE adalah kejang tak terkendali dan tidak merespons obat-obatan antiepilepsi.

Menurut Kwan dan Brodie (2006), sekitar 40 persen pasien TLE tidak merespons terapi konvensional atau medikamentosa. Salah satu tujuan terapi epilepsi adalah mencapai kondisi bebas kejang. Meskipun demikian, berbagai efek samping dan resistensi terhadap obat-obat antiepileptik memengaruhi sekitar 30–40 persen dari semua pasien epilepsi.

Oleh karena itu, diperlukan multistrategi yang lebih aman, nyaman, dan efisien. Salah satu pendekatan dalam tatalaksana epilepsi adalah stem cells (sel punca). Sel punca merupakan strategi menjanjikan untuk terapi berbagai penyakit neurodegeneratif (termasuk epilepsi) di masa mendatang. Salah satu jenis sel punca untuk terapi epilepsi adalah BMSCs atau bone marrow stromal cells.

Transplantasi sel-sel stroma sumsum tulang (BMSCs) merupakan pengobatan laten berbagai problematika sistem persarafan. BMSCs dapat meregenerasi jaringan yang rusak dan memodulasi karakteristik hipereksitabilitas penyakit. BMSC dibedakan karena kapasitas pembaruan-sendiri (self-renewal) dan multipotensi selain karakteristik homing dan replenishment.

Mekanisme yang mendasarinya, termasuk stimulasi sel-sel glia endogen atau neural stem cells, mengurangi apoptosis dan degenerasi neuron, mengendalikan peradangan, serta mempromosikan mekanisme self-repair di otak.

BMSC dapat melepaskan beragam faktor-faktor trofik dan sitokin yang terlibat dalam perbaikan dan regenerasi jaringan, memiliki kemampuan untuk bermigrasi ke area cedera, bahkan melintasi sawar darah-otak (blood–brain barrier), dan secara efektif mengurangi frekuensi dan durasi kejang.

Selain itu, terjadi penurunan kadar sitokin proinflamasi (TNF-alfa, IL-beta, dan IL-6) dan peningkatan kadar sitokin anti-inflamasi (IL-10) di otak dan serum pada hewan coba, terutama rats.

Transplantasi BMSCs baik melalui rute IV (intravena) atau IC (hipokampus bilateral) mengurangi neurotransmiter asam amino eksitatori hipokampus dan menekan eksitotoksisitas yang dimediasi BDNF, seperti penghambatan imunoreaktivitas sinaptofisin. Aktivitas IGF-1R kurang diekspresikan.

Perbaikan yang diamati meluas menuju keseimbangan neurotransmitter, di mana tonus inhibitori meningkat dan perubahan eksitasi yang diamati pada tikus model epilepsi diatur ulang dalam setting keseimbangan normal. Peningkatan hitung jumlah sel BMSCs didapatkan melalui rute IC. (Salem dkk, 2018)

Proses BMSC engraftment menghasilkan peningkatan keadaan oksidatif di hipokampus, di mana terjadi depresi signifikan akibat perubahan lipid peroksida yang terkait dengan peningkatan biomarker (penanda) pertahanan antioksidan, yakni paraoxonase activity (PON1) dan glutathione (GSH).

Selain itu, transplantasi BMSC pada hewan model epilepsi mengakibatkan downregulasi sitokin inflamasi (TNF-alfa dan IL-1beta) yang signifikan dan penanda apoptosis, caspase-3, di hipokampus.

Untuk diketahui, hipokampus merupakan bagian otak yang berperan penting dalam proses pembelajaran, memori, regulasi mood, resistensi terhadap depresi. Disfungsi hipokampus menyebabkan komorbiditas perilaku terkait kejadian mTLE (mesial temporal lobe epilepsy) pada dewasa, termasuk depresi, cemas, dan defisit memori.

Pemberian BMSC dapat membuka pemahaman dan paradigma yang berharga tentang manfaat klinis sel punca sebagai pilihan potensial untuk memperbaiki gejala patologis penyakit neurodegeneratif, seperti TLE, dengan efek neuroprotektif yang dipostulasikan dan dimanifestasikan sebagai anti-inflamasi dan anti-oksidan.

Selain itu, aktivitas PON1 terbukti berperan penting dalam neurodegenerasi. Transplantasi BMSCs menjanjikan sebagai terapi epilepsi (TLE) yang masih memerlukan riset lanjutan untuk memahami efektivitasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
epilepsi

Sumber : Antara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top