Ika Natassa Sempat Kesulitan Temukan 2 Pemeran dalam Twivortiare

Nama Ika Natassa sudah tidak asing lagi di telinga. Hingga saat ini, terdapat 9 novel yang ditulisnya.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  08:07 WIB

Bisnis.com, JAKARTA --Nama Ika Natassa sudah tidak asing lagi di telinga. Hingga saat ini, terdapat 9 novel yang ditulisnya.

Beberapa novelnya yang laris itu tadi juga membuat produser film tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Saat ini, bekerja sama dengan rumah produksi MD Pictures, novelnya yang berjudul Twivortiare akan segera dirilis ke layar bioskop.

Twivortiare itu sendiri pada intinya berkisah soal Alexandra yang memutuskan untuk rujuk dengan sang mantan suami, Beno. Keduanya meyakini bahwa mereka dapat menjalani pernikahan kali ini dengan sikap yang lebih dewasa. Terlebih keduanya juga mengaku jika masih saling cinta.

Ika Natassa pun mengakui bahwa dirinya bersyukur dengan kehadiran Reza Rahadian dan Raihaanun yang membintangi film Twivortiare yang merupakan adaptasi dari novel yang ditulisnya 12 tahun silam.

“Mereka adalah aktor dan aktris favoritku. Jadi, ketika mereka menyatakan setuju bergabung dalam film ini, rasanya luar biasa banget. Amazing,” ujar Ika dalam jumpa pers di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Senin, (19/8/2019).

Ika mengakan bahwa dirinya sangat kesulitan dalam mencari pemain yang dapat menghidupkan karakter dari tokoh Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea. Film arahan Benni Setiawan ini ditulis naskahnya oleh Alim Sudio. Kisahnya tentang hubungan seorang bankir sukses bernama Alexandra dengan Beno, dokter bedah jantung yang super sibuk.

Selain memujikan performa semua departemen dalam produksi film ini, termasuk sutradara tentu saja, Ika juga memberikan kredit khusus kepada Alim Sudio. Ia menyebut naskah tulisan Alim berhasil menampilkan adegan demi adegan yang sesuai.

Sejak awal Ika mengaku tidak mengharuskan semua adegan dalam bukunya ditampilkan dalam film. Oleh karena itu, dibutuhkan kecakapan memilih mana fragmen yang harus diangkut dalam film, mana pula yang harus diabaikan.

“Cara kita menikmati buku dan film kan emang beda, aku pun bukan tipe penulis yang memaksakan adegan tertentu harus ada dalam film, sepenuhnya juga merupakan bentuk kerjasama dengan berbagai pihak,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top