Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CEK FAKTA: Benarkah Risiko Kematian Rokok Elektrik atau Vape Lebih Rendah?

Risiko kematian yang ditimbulkan rokok elektrik beraroma atau vape belum tentu lebih tinggi ketimbang rokok biasa, menurut pegiat kesehatan masyarakat Dr Ajeng Tias Endarti, SKM, M Commonhealth.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 16 September 2019  |  12:32 WIB
Pekerja meneteskan cairan rokok elektrik (vape) di Bandung, Jawa Barat. - Antara
Pekerja meneteskan cairan rokok elektrik (vape) di Bandung, Jawa Barat. - Antara

 Bisnis.com, JAKARTA  - Risiko kematian yang ditimbulkan rokok elektrik beraroma atau vape belum tentu lebih tinggi ketimbang rokok biasa, menurut pegiat kesehatan masyarakat Dr Ajeng Tias Endarti, SKM, M Commonhealth.

Ajeng menyebut dari 34 penelitian, ada yang menunjukkan vape memberi dampak risiko kematian lebih tinggi dari rokok biasa dan ada pula yang sebaliknya.

 Namun, hal tersebut masih belum dapat diambil kesimpulan, karena adanya konflik kepentingan dari sumber pendanaan penelitian.

"Terkait angka kematian akibat vape, itu menurut saya akan sangat tergantung dari penyakit yang menyertai kasus meninggalnya pasien. Vape tidak hanya menjadi salah satu faktor kematian, namun faktor itu berkolaborasi dengan penyakit lain," ujar pegiat kesehatan di Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) ini di Jakarta, Minggu (15/9/2019) malam.

Ajeng menyatakan masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan vape sebagai salah satu faktor risiko penyebab kematian utama yang lebih besar ketimbang rokok, karena penelitiannya baru berlangsung dalam rentang waktu yang pendek.

Ia menjabarkan, hampir semua studi mulai 1950-an menyepakati rokok menjadi faktor risiko penyakit ibu dan anak, penyakit menular. Namun, studi terhadap vape baru dimulai sekitar 2014 sehingga kesimpulan studi vape belum sekuat rokok.

Di beberapa lembaga swadaya masyarakat kesehatan Indonesia, Ajeng mengatakan mereka telah menolak "free smoke tobacco campaign" atau kampanye bebas dari asap tembakau yang dibentuk perusahaan rokok Phillip Morris.

Kampanye itu seolah-olah membuat penghirup uap vape lebih sehat ketimbang asap rokok.

Selain itu, Ajeng menilai vape tidak bisa serta merta membebaskan pengonsumsinya dari bahaya yang sama ditimbulkan dari asap rokok.

"Tidak ada bedanya, rokok dan vape karena menimbulkan adiksi akibat kandungan nikotin yang menjadikannya ketagihan. Pada vape pun ada logam-logam pada saat dilakukan pembakaran, menimbulkan reaksi kimia yang menyebabkan kandungan nikel dan timbal menjadi lebih tinggi," ujar Ajeng.

Untuk itu, dia mengharapkan ada usaha pencegahan preventif dari pemerintah untuk membentuk suatu regulasi yang memberi batasan tentang vape yang berlaku sama halnya dengan rokok biasa.

Misalnya, regulasi yang dapat membatasi jumlah kafe khusus pengonsumsi vape, jam operasional atau pengunjungnya, agar tidak menimbulkan dampak buruk yang berkepanjangan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kematian perokok Fact or Fake Industri Vape

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top