Biaya Animasi Hingga Ratusan Juta Per Episode, Produser Bidik Layanan Media OTT

Tingginya biaya produksi film animasi membuat produser tayangan animasi Indonesia enggan menawarkannya kepada televisi nasional.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  22:31 WIB
Biaya Animasi Hingga Ratusan Juta Per Episode, Produser Bidik Layanan Media OTT
Salah satu karakter Balpil dan Bhinnekaz / Instagram balpil

Bisnis.com, JAKARTA – Tingginya biaya produksi film animasi membuat produser tayangan animasi Indonesia enggan menawarkannya kepada televisi nasional.

Hal ini diungkapkan oleh produser animasi Balpil dan Bhinnekaz, Holip Soekawan saat ditemui dalam acara peluncuran komik dan animasi Balpil dan Bhinenekaz di kawasan Kemang, Jakarta Selatan pada Senin (7/10/2019).

“Kenapa enggak dijual ke televisi? Kami sudah coba tapi katanya kemahalan. Mereka melihat katanya sangat bagus. Tapi budgetnya enggak cukup bagi mereka. Karena sejujurnya satu episode animasi ini bisa memakan biaya ratusan juta sementara serial internasional satu episodenya hanya dibayar US$1.000 (Rp14,1 juta),” tuturnya.

Holip menerangkan biaya produksi yang mahal memang dikarenakan komik dan animasi Balpil dan Bhinnekaz ini tidak dikerjakan oleh studio animasi independen.

“Buat animasi itu tidak murah dan tidak mudah. Memang biayanya ratusan juta per episode. Kebetulan untuk komik, gambar dan panyaduran ceritanya supaya bisa menjadi bahasa komik kita buatnya di Semarang, kalau untuk mewarnai dari Balikpapan. Kami mencari studio animasi yang bisa dan mampu mengerjakan proyek dengan kompleksitas yang cukup berat,” terangnya.

Ke depannya, Holip berharap animasi karya anak negeri ini bisa diluncurkan melalui layanan media over-the-top (OTT) seperti Go Studio, HOOQ, Netflix dan sebagainya karena dalam sejarahnya layanan media tersebut membutuhkan konten dan berani menggelontorkan uang hingga ratusan juta rupiah.

“Kalau web series itu memang kita ngejarnya banyak OTT. Mereka kan mencari konten, baik itu Go Studio dari Gojek, Netflix ataupun HOOQ mereka ada modal. Mereka mencari konten dan yang kami suka, ketika mereka membeli konten kita langsung worldwide. Netflix misalnya kalau mereka beli (konten), kita bisa nonton darimanapun, asal kita sudah subscribe Netflix. Itu yang kita harapkan, exposure dari situ,” terangnya.

Selanjutnya, Holip pun menyadari proyek film layar lebar termasuk dalam visi jangka panjang dari animasi Balpil dan Bhinnekaz karena tim produksi tidak ingin mengambil risiko uang yang terkuras habis dengan jangka waktu pengerjaan yang sangat lama.

“Film (animasi) gambaran saya 3 tahun (pengerjaannya) karena pertama track record film animasi Indonesia tidak bagus. Jadi kembali lagi, terus terang semuanya membutuhkan investasi. Buat investor melihat animasi yang difilmkan itu masih kurang peminatnya,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komik, animasi

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top