Mengangkat Ratu Shima ke Panggung Tari

Mengangkat watak dan kiprah kepemimpinannya, Chiva Production menggagas sebuah dramatari Jawa kontemporer bertajuk "Shima, Sang Ratu Adil"
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 20 Oktober 2019  |  09:56 WIB
Mengangkat Ratu Shima ke Panggung Tari
Foto ada di https://drive.google.com/file/d/1-7T551s0Jsj15JsZNjX_zEexl2iqlu_u - view?usp=drivesdk

Bisnis.com, JAKARTA - Di sebuah kerajaan kuno di pesisir Utara Jawa, antara abad ke-6 dan ke-7 Masehi, seorang penguasa memotong ibu jari kaki putranya sendiri. Pasalnya, sang pangeran telah berani menyentuh kantong berisi uang yang tergeletak di jalan dan bukan merupakan miliknya. Dia hendak menunjukkan pada rakyatnya bahwa keadilan dan hukum tidak pandang bulu. 

Selama tahun-tahun tersebut, dia dikenal sebagai pemimpin yang tegas, arif dan bijaksana. Berkat kepemimpinannya, mengambil sembarang barang di jalanan pun sudah termasuk tindak kejahatan yang tak satu rakyat pun berani melakukannya. Dialah Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga, yang namanya disebut-sebut dalam Catatan Dinasti Tang dari China.

Mengangkat watak dan kiprah kepemimpinannya, Chiva Production menggagas sebuah dramatari Jawa kontemporer bertajuk "Shima, Sang Ratu Adil" yang akan dihelat pada 1 hingga 3 September 2020 mendatang di Candi Gedongsongo, Semarang, Jawa Tengah.

Pertunjukan dramatari tersebut merupakan bagian ketiga dari trilogi Shima. Ada pun dua dramatari pendahulu telah dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada 2014 dan 2017, masing-masing bertajuk "Shima Kembalinya Sang Legenda" dan "Ratu Shima."

Pendiri Chiva Production sekaligus Sutradara pertunjukan, Putut Budi Santosa mengatakan, dia ingin menghadirkan kiprah kepemimpinan Shima sebagai cermin bagi para elit bangsa saat ini. Sosok Shima, yang diinterpretasikan sebagai ratu yang tegas, adil sekaligus mengasihi rakyatnya, patut diberi panggung sebagai kritik terhadap watak pemimpin bangsa saat ini. 

Proses riset mengenai sosok Ratu Shima dan sejarahnya dimulai sejak 2013 dan masih berlangsung hingga saat ini. Tak banyak memang sumber literatur sejarah yang menerangkan keberadaan Shima. Selama periode awal masa sejarah hingga 700 M, sumber-sumber sejarah Indonesia banyak berasal dari China.

Menurut para ahli sejarah, Kalingga merupakan nenek moyang Kerajaan Mataram Kuno, bercorak Hindu-Budha dan diperkirakan berpusat di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Pekalongan dan Jepara.

Dia mengatakan, cerita yang diangkat pada masing-masing bagian dalam trilogi Shima mengikuti riset dan pengumpulan data yang terus berlangsung sejak 2013.

"Bagian ketiga ini akan lebih kompleks dan durasinya lebih panjang, karena kami anggap setelah yang ketiga ini, data kami lumayan lengkap," ujar Putut.

Namun, Putut juga mengakui, karena literatur sejarah yang terbatas, gambaran sosok Shima yang dihadirkan pada pentas ini merupakan bentuk interpretasi, meski tetap didasarkan pada sumber-sumber seperti Catatan Berita China, Naska Wangsakerta, buku Sejarah Orang Jawa dan sumber pustaka dan lisan lainnya.

Selain itu Putut juga melakukan perjalanan dan berkunjung ke beberapa lokasi bersejarah serta berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Lokasi yang dia kunjungi antara lain Candi Dieng, Candi Gedongsongo, Kawasan Keling, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, dan beberapa candi lain di Jawa Barat dan Bali.

Putut mengatakan, persiapan menuju pertunjukan akan memakan waktu satu tahun, sebelum dihelat pada September tahun depan. Sedangkan untuk memerankan tokoh sentral Ratu Shima, Putut mendapuk aktris Mona Ratuliu, diiringi sebanyak 150 penari dan pemusik lainnya.

"Dari ceritanya, Ratu Shima adalah pemimpin wanita yang jujur, adil, tegas, bijaksana. Ini menjadi tanggungjawab bersama untuk mengangkatnya ke hadapan masyarakat," ujar Mona.

Produser dramatari Rita S Darwis menambahkan, didasari upaya pengumpulan kisah sejarah dan pementasan selama bertahun-tahun, pihaknya membuka kemungkinan untuk mengangkat cerita ini ke dalam bentuk lain.

"Cita-citanya besar, kami ingin ini jadi sebuah industri pertunjukan. Dari awalnya dramatari, kemudian mungkin berkembang menjadi sebuah film layar lebar, kenapa tidak? Cuma menuju kesana kami sedang jajaki," jelasnya.

Pertunjukan ini dikerjasamakan dengan berbagai pihak seperti Museum Tekstil Jakarta, Yayasan Batik Indonesia, Museum Seni dan Keramik Jakarta, Cemara6-Galeri Museum, Galeri Hadiprana, Ikatan Arkeolog Indonesia, dan Institut Kesenian Jakarta.

Selain itu, untuk keperluan pertunjukan, Putut juga memproduksi sendiri kain-kain batik dengan corak Kalingga, serta properti lain seperti perhiasan dan keramik.

"Suatu saat kalau kami akan buat film, kami sudah siap semuanya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tarian

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top