Film Bisu Dobrak Tembok Bahasa Antarnegara di JFF 2019

Japanese Film Festival (JFF) 2019 kembali digelar pada 7 November hingga 22 Desember 2019 sebagai bentuk pesta budaya antara Jepang dan Indonesia.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 08 November 2019  |  06:52 WIB
Film Bisu Dobrak Tembok Bahasa Antarnegara di JFF 2019
Sutradara Kamila Andini saat ditemui di CGV Grand Indonesia. JIBI/Bisnis - Akbar Evandio

Bisnis.com, JAKARTA - Japanese Film Festival (JFF) 2019 kembali digelar pada 7 November hingga 22 Desember 2019 sebagai bentuk pesta budaya antara Jepang dan Indonesia.

Gelaran tahun ini bakal menampilkan 14 film yang terdiri dari 13 film Jepang dan satu film Indonesia yang berjudul Humba Dreams yang merupakan karya sutradara Riri Riza. 

Satu film Jepang yang akan tayang di JFF 2019 adalah film karya pencipta manga City Hunter yaitu Tsukasa Hojo. Film tersebut berjudul Angel Sign, merupakan debut Hojo sebagai sutradara film.

Produser film Angel Sign Yusei Kato mengatakan bahwa film ini tersebut merupakan karya yang masuk ke dalam Silent Manga Audition di Jepang. Film itu tayang perdana di pembukaan JFF 2019 pada Kamis (7/11/2019) di Jakarta.

“Saya membuat film ini tidak membutuhkan teks terjemahan dan sulih suara karena film ini dapat melampaui dinding bahasa. Saya harap penonton akan menemukan dialognya lewat empati dan relate terhadap film ini,” jelas Yusei Kato.

Angel Sign merupakan cerita yang berasal dari seleksi dari audisi manga tanpa dialog.

Untuk penggarapan film Angel Sign, Kato mengatakan bahwa dirinya melibatkan lima sutradara dari empat negara. Mereka adalah Nonzee Nimibutr dari Thailand, Ham Tran dari Vietnam, Ken Ochiai dan Masatsugu Asahi dari Jepang, serta Kamila Andini dari Indonesia.

Kamila Andini sendiri terlibat dalam penyutradaraan film berdurasi 20 menit yang berjudul Back Home yang dibintangi Teuku Rifnu Wikana dan aktris Jepang Mikako Yoshida sebagai pemain.

“Kami berkembang lewat visual dan musik sehingga mengajak Kamila Andini menjadi wakil Indonesia, kami bermaksud bekerjasama melibatkan karena cerita dari film ini juga didapat dari belahan dunia lain,” ujarnya. 

Kato berharap cerita-cerita yang tergabung dalam omnibus di film Angel Sign ini dapat melampaui dinding bahasa, dimana sesuai dan diterima oleh para penonton.

Perwakilan Indonesia

Sutradara Kamila Andini yang terlibat dalam penggarapan film Angel Sign mengakui bahwa menjadi pengalaman tak terlupakan bagi dirinya sebagai sutradara.

Ia mengungkapkan bahwa melalui film ini dirinya mendapat tantangan untuk membuat film tanpa dialog yang hanya mengandalkan gestur dan mimik.

Konsep tersebut di Jepang cukup popular karena adanya manga silent yang banyak diminati oleh penikmat anime. Namun, hal itu tentu berbeda dengan pasar Indonesia yang mengutamakan narasi dalam film.

"Menurut saya, mereka cukup berani ya membuat film enggak ada dialognya. Walaupun sebetulnya komunikatif banget gitu, tetapi di Indonesia ide gitu masih dianggap aneh," ungkapnya saat ditemui Bisnis di CGV Grand Indonesia.

Berbeda dengan di Jepang yang memiliki kultur Manga dan silent manga sehingga ide film bisu bukan sesuatu hal yang aneh. Adapun, mewujudkan film tanpa dialog, tentu memiliki tantangan tersendiri bagi Kamila. Ia harus menyampaikan pesan lewat gesture.

"Gesture sekecil apapun harus bercerita gitu. Dan semua dialog itu harus ada di dalam mereka, dalam hati, dan dikeluarkan melalui gesture, mimik, ekspresi, dan semuanya itu harus bercerita. Saya memang suka banget bikin adegan-adegan yang memang kita sudah tau ceritanya tanpa harus dengar sebenarnya dialognya apa," tambahnya.

Film Back Home merupakan cerita drama keluarga yang mengangkat fokus pada relasi kehilangan akan memori dan nilai cinta.

Film Angel Sign sudah tayang perdana dalam pembukaan JFF 2019 pada Kamis (7/11/2019) di Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, sutradara, film jepang

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top