Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Alasan Film Warkop DKI Hingga Si Doel Dibuat Bersekuel

HB Naveen yang merupakan founder dari rumah produksi film Falcon Pictures yang memproduksi banyak film laris seperti Warkop DKI menyebut alasannya membuatkan film berseri adalah murni karena prinsip pemasaran 'The Law of Branding'.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  21:09 WIB
Warkop DKI Reborn. - Repro/Youtube
Warkop DKI Reborn. - Repro/Youtube
Bisnis.com, JAKARTA - HB Naveen yang merupakan founder dari rumah produksi film Falcon Pictures yang memproduksi banyak film laris seperti Warkop DKI menyebut alasannya membuatkan film berseri adalah murni karena prinsip pemasaran 'The Law of Branding'. 
 
"The law of branding, produk yang sudah dikenal kemungkinan dikonsumsi akan lebih besar. Kita law of branding saja yang merupakan habit manusia. Misalnya, Avengers 1, 2, 3, 4, James Bond sudah mungkin yang ke-23, Fast and Furious ke-9," ujarnya saat ditemui dalam forum Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) di Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat pada Kamis (16/1/2020). 
 
HB Naveen menilai dalam produksi sebuah film aspek yang harus diperhatikan adalah kreatifitas dan ide di dalamnya yang memiliki kesempatan untuk dituangkan dalam media film. Sehingga, pihaknya kini membuka peluang kerjasama dengan rumah produksi dari berbagai negara seperti India, Meksiko dan Korea Selatan. 
 
Namun begitu, produser film Si Doel Anak Sekolahan ini pun mengakui kesalahannya membuatkan film berseri yang sudah terlanjur booming saat seri pertamanya ditayangkan. 
 
"Salah di kami sih. Kalau ekspektasi sudah dibangun, misalnya makan nasi goreng yang enak kedua, ketiga dan keempat sudah tidak enak lagi. Karena tidak ada sesuatu yang spesial. Si Doel yang ini contohnya makanya saya buat akhir cerita. Mungkin setelah ini ada Mandra dan Munaroh, saya nggak tahu," ungkap HB Naveen. 
 
"Tapi harus diselesaikan ceritanya. Jadi masyarakat itu harus dikasih sesuatu yang lebih," sambungnya. 
 
Begitupun dengan remake film Warkop, lanjutnya, berkaca dari film Dilan 1990 dengan regenerasi pemain film yang lebih muda, HB Naveen mengakui memilih pemain film yang lebih muda seperti Aliando, Randy dan Adipati untuk sekuel film Warkop DKI: Reborn ternyata tidak berdampak signifikan dengan pendapatan perusahaan tersebut.
 
"Warkop salah saya sebenernya. Tapi seperti penelitian, yang menonton anak muda tapi filmnya tidak boleh dimudakan. Ya itu, anak muda itu segmented, punya duitnya segmented, waktu sekolahnya segmented. Jadi data itu mesti kita read between the lines," tuturnya. 
 
"Hari pertama (penayangannya) saya sudah tahu kok animonya tidak sebaik yang pertama. Tapi saya nggak bisa ambil risiko karena ketika saya ambil risiko saya menemukan sesuatu yang sukses dengan kegagalan saya memahami dan bisa melangkah ke depan," sambungnya. 
 
Menyambut tahun 2020, Falcon Pictures juga akan kembali merilis sekuel film animasi Warkop, Si Juki 2 dan Teman Tapi Menikah 2 yang akan segera rilis dalam waktu dekat. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top