Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tips Membesarkan Anak dengan EQ Tinggi

Seorang anak yang sadar diri, memiliki wawasan, dan memperhatikan perasaan orang lain sering kali adalah anak yang cerdas secara emosional dan sedang dalam perjalanan untuk memiliki EQ yang tinggi.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 27 Februari 2020  |  10:31 WIB
Ilustrasi - Webmd
Ilustrasi - Webmd

Bisnis.com, JAKARTA - Kesadaran diri, penyesuaian emosi kepada orang lain, dan pengetahuan tentang keadaan emosi sendiri adalah beberapa kualitas yang dimiliki seseorang dengan EQ tinggi.

Seorang anak yang sadar diri, memiliki wawasan, dan memperhatikan perasaan orang lain sering kali adalah anak yang cerdas secara emosional adalah ciri anak yang memiliki EQ tinggi.

Seorang anak yang punya EQ tinggi, memiliki banyak kualitas emosi positif seperti penghargaan, perhatian, empati dan kebaikan.  Mereka juga g dapat mengidentifikasi keadaan perasaan.

Adalah wajar bagi seorang anak untuk mengalami kehancuran sesekali, kehilangan penghargaan, atau momen yang mementingkan diri sendiri, tetapi kebanyakan anak-anak dengan konstitusi emosional yang sehat secara teratur menunjukkan kapasitas hati nurani dalam konteks hubungan yang dekat.

"Terima kasih," "Maaf," "Saya membuat kesalahan," atau "Apakah Anda baik-baik saja?" Seorang anak yang jarang mengatakan ini tanpa diminta, mungkin termasuk dalam kategori anak dengan kecerdasan emosi tinggi.

Karakter terbentuk sejak dini, dan korelasi antara keterikatan orang tua dan kecerdasan emosi adalah bukti bahwa seorang anak mampu menunjukkan kualitas-kualitas ini di usia muda. Ketika diasuh, karakteristik ini dapat mengakibatkan anak dengan regulasi emosi yang sehat, kecerdasan emosi, dan akhirnya EQ yang tinggi.

Kecerdasan emosi seorang anak akan terus tumbuh ketika seorang bayi balita diasuh dan dididik secara emosional dan secara empatik.

Selain itu, orang tua yang mampu mengakui kesalahan , sebenarnya memungkinkan anak kesempatan untuk mengalami kesadaran diri dan akuntabilitas dalam hubungan.

Ketika orang tua menunjukkan kesadaran diri, akuntabilitas, dan empati dalam hubungan orangtua-anak, anak tersebut memiliki kesempatan untuk mengalami dan menginternalisasi kualitas-kualitas kecerdasan emosi ini. Atau, orang tua yang percaya bahwa dia tidak pernah salah, jarang meminta maaf ketika dia membuat kesalahan dan tidak menyadari perasaan anak, tanpa disadari dapat mencegah anak dari mengintegrasikan kapasitas kecerdasan emosi yang penting. Selain itu, orang tua yang mempermalukan anak karena memiliki perasaan yang berbeda dari perasaan orang tua juga dapat menjadi penghalang pertumbuhan emosional anak.

Meskipun pengalaman empati anak adalah yang memungkinkannya untuk mewujudkan kapasitas secara alami, perbedaan antara orangtua yang empatik dan orangtua yang tidak peduli itu sangat penting. Jika orang tua terlalu akomodatif dan merasa kasihan pada anak (simpati), orang tua mungkin tergoda untuk membengkokkan aturan, menurunkan harapan, atau menyerah. Sayangnya, ini mengajarkan anak untuk bermain sebagai korban, membelokkan dan menyalahkan proyek, dan memanipulasi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Caranya adalah dengan berempati, tidak bersimpati, dan menegakkan harapan.

Ada beberapa tips untuk mengasuh anak agar memiliki kecerdasan emosi. Pertama, hargai perasaan anak. Selanjutnya, redirect, koreksi, meyakinkan, mendorong, atau memecahkan masalah. Setelah anak merasa dimengerti, tidak merasa sendirian, dan terhubung dengan orang tua, ia biasanya lebih terbuka untuk membicarakan apapun pada orangtua.

Jika orang tua tidak dapat menindaklanjuti dengan harapan dan aturan, rasa berhak dapat timbul pada anak. Terlebih lagi, melindungi anak dari kekecewaan atau pertanggungjawaban untuk melindunginya dari serangan balik rasa sakit emosional karena anak tersebut menerima pesan bahwa ia berhak menerima perlakuan khusus.

Ketika seorang anak dapat mengalami keadaan emosional yang menyakitkan dalam konteks hubungan orangtua-anak yang menghibur, itu membantu seorang anak menoleransi dan mengatur emosi-emosi yang sulit ini. Ini sering menghasilkan seorang anak yang ulet.

Sebaliknya, seorang anak yang terlindung dari kondisi perasaan tidak nyaman seperti, kekecewaan, penyesalan, dan akuntabilitas, mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mengalami emosi ini dalam bidang hubungan yang aman. Jika seorang anak kecil dibiarkan sendirian dengan keadaan perasaan menyakitkan ini untuk jangka waktu yang lama tanpa dukungan, ia mungkin secara tidak sadar membangkitkan mekanisme pertahanan yang kuat dan ekstrim untuk menangkal rasa sakit dan rasa malu emosional.

Kecerdasan emosional adalah atribut yang tak ternilai. Membesarkan anak yang memiliki EQ tinggi adalah tujuan penting. Selain itu, manfaatnya mungkin memiliki efek riak untuk keluarga, komunitas, dan budaya anak. Welas asih dan tidak mementingkan diri yang dipancarkan manusia yang cerdas secara emosi, dapat menyelesaikan konflik, memungkinkan kepercayaan dalam suatu hubungan, dan menyembuhkan serta memberdayakan orang lain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

parenting
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top