Apakah Teknologi Jadi Berkat atau Kutukan Bagi Dunia Musik?

Kini setiap orang bisa memperoleh akses yang mudah dan berbagai fitur untuk mendengarkan musik secara digital. Namun, bagi musisi, teknologi pada saat yang bersamaan menjadi berkat dan kutukan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Februari 2020  |  18:10 WIB
Apakah Teknologi Jadi Berkat atau Kutukan Bagi Dunia Musik?
Content Manager Bisnis Indonesia Okta DB Hana (kiri) sedang memandu diskusi kamisantuy dengan tema Musik Etnis. Bintang tamu yang hadir adalah musisi etnis (dua dari kiri) Ivan Nestorman, Gilang Ramadhan dan Gazpar Araja yang konsisten menggaungkan musik daerah hingga kancah internasional - Bisnis/Arief Hermawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kehadiran teknologi bagi sebagian besar orang mungkin memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, namun ada juga yang merasa dirugikan oleh efisiensi yang ditawarkan.

Beberapa industri telah merasakan disrupsi teknologi, tak terkecuali industri musik.

Dengan akses yang mudah dan berbagai fitur, setiap orang dapat mendengar musik secara digital atau bahkan menonton konser musik secara langsung dari depan layar. Namun, bagi musisi, teknologi pada saat yang bersamaan menjadi berkat dan kutukan.

Menurut Musisi Neotradisional asal Flores Ivan Nestorman, teknologi digital mengembalikan musik ke titik nol. Era ini, semua orang bisa menjadi musisi dan mempublikasikan musik dan lagu hanya melalui aplikasi musik dan video.

"Semua orang bisa menjadi artis asal punya keahlian main musik. Tampil di youtube lalu terkenal. Tetapi kehadiran musisi yang sebenarnya, yang berdiri di atas panggung tampil dan berinteraksi dengan penonton," katanya dalam acara #kamisantuy di Bisnis Indonesia, Kamis (27/2).

Kehadiran teknologi memang tidak bisa dihindari, dari segi keuntungannya media digital dapat memudahkan musisi untuk melakukan pemasaran. Tanggapan senada disampaikan oleh musisi Gilang Ramadhan yang turut hadir dalam acara santai ini.

Dia melihat bahwa digitalisasi merobohkan batas-batas yang dahulu ada dan membuat musik hanya dapat dinikmati secara terbatas. 

"Namun, kalau kita tidak memiliki kreativitas yang cukup, keberadaan teknologi digital akan percuma," ujarnya.

Teknologi digital diakui memberikan lebih banyak kemudahan, untuk mereka yang mau melihat dari sisi positifnya, termasuk pemain alat musik Sasando, Gazpar Araja yang mengungkapkan bahwa dia menggunakan media sosial sebagai alat promosi.

Dalam kesempatan yang sama, Gilang Ramadhan yang aktif di industri musik dari hulu sampai hilirnya menceritakan bahwa selama dia menggarap musik etnis, hanya ada satu perusahaan rekaman yang tertarik untuk bekerja sama.

"Sewaktu rekaman hanya Aquarius yang mau nengok proyek grup Nera. Mereka kaget kok kami berani bikin musik seperti ini," ujar Gilang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
musik, musisi

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top