Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Atasi Stres dan Kebosanan dengan Musik

Hasil penelitian di Amerika menunjukkan bahwa pandemik menimbulkan kecemasan, khususnya karena cemas akan kesehatan pribadi, ketakutan akan penularan penyakit, dan sensitivitas terhadap hal-hal menjijikkan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 31 Maret 2020  |  07:51 WIB
Ilustrasi musik -
Ilustrasi musik -

Bisnis.com, JAKARTA -- Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 menimbulkan keresahan bagi masyarakat sehingga musik dapat digunakan bisa jadi alternatif terapi menata emosi maupun kognitif serta juga fisik seseorang.

Dikutip dari Jurnal Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, Christ Billy Aryanto dari Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta menyatakan seturut pengalaman flu burung atau H1N1 influenza, hasil penelitian di Amerika menunjukkan bahwa pandemik menimbulkan kecemasan, khususnya karena cemas akan kesehatan pribadi, ketakutan akan penularan penyakit, dan sensitivitas terhadap hal-hal menjijikkan.

Sementara kecemasan merupakan salah satu bentuk emosi negatif dan hal tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan hidup seseorang. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menjaga kualitas hidup seseorang baik secara fisik maupun mental.

"Dalam hal ini, musik bisa menjadi sarana," tutur Christ, Selasa (31/3/2020).

Berikut beberapa manfaat musik membantu Anda melalui masa karantina pandemi COVID-19.

1. Musik dapat digunakan untuk meningkatkan subjective well-being

Salah satu kebijakan untuk mengurangi penyebaran COVID-19 yang disampaikan oleh presiden Joko Widodo adalah meminta masyarakat untuk melakukan aktivitas di dalam rumah dan menghindari kerumuman orang atau yang dikenal dengan istilah social distancing. Artinya, kebahagiaan tetap perlu dijaga meskipun terisolasi di dalam rumah. Aktivitas yang berhubungan dengan musik dapat membantu.

"Dalam istilah psikologi, kebahagiaan biasa disebut sebagai subjective well-being yang merupakan evaluasi seseorang terhadap kepuasan hidup dan emosinya, apakah memiliki emosi yang positif atau negatif," ujar Christ.

Berdasarkan hasil penelitian dari Weinberg dan Joseph memang ada hubungan antara penggunaan musik dalam kehidupan sehari-hari dan subjective well-being. Bagi orang yang bisa bermain musik, hasil penelitian menunjukkan hubungan positif antara memainkan alat musik dan subjective well-being secara umum, serta hubungan positif antara mendengarkan musik dan emosi positif. Sementara bagi orang yang tidak bermain musik atau awam musik, aktivitas menari sambil mendengarkan musik dan menonton konser memiliki hubungan yang positif dengan subjective well-being.

"Mengingat tidak memungkinkan menonton konser secara langsung, maka menonton rekaman konser yang ada di internet bisa menjadi alternatif ketika sedang berada di rumah," terangnya.

2. Musik dapat membantu fokus untuk bekerja

Dampak dari social distancing kinu banyak kantor yang meminta pegawainya bekerja di rumah atau dikenal dengan istilah work from home. Ketika bekerja, seseorang perlu mengerahkan kemampuan kognitifnya agar lebih efektif dalam bekerja. Musik diyakini bisa membantu untuk meningkatkan fungsi kognitif seseorang meski tidak secara langsung. Pengaruh musik ke fungsi kognitif dimediasi oleh suasana hati dan fokus seseorang yang dikenal dengan mood and arousal hypothesis.

Christ menjelaskan cara agar fungsi kognitif meningkat yakni dengan pendekatan mood and arousal hypothesis yaitu mendengarkan musik beberapa menit sebelum melakukan tugas yang memerlukan kemampuan kognitif, misalnya 10 menit sebelum bekerja. Tidak ada jenis musik tertentu yang harus didengarkan, yang penting adalah mendengarkan musik yang disukai oleh pendengarnya. Sebaliknya, Christ tidak menyarankan untuk bekerja sambil mendengarkan musik karena otak harus memproses lebih dari satu informasi yaitu pekerjaan dan musik, sehingga musik berpotensi menjadi distraksi.

3. Musik dapat membantu meningkatkan kesehatan fisik

Musik bisa meningkatkan kesehatan karena dapat mengaktifkan hormon-hormon di dalam tubuh yang berhubungan dengan peningkatan rasa puas, penurunan stress, serta peningkatan imun seperti dopamin, kortisol, serotonin, dan oksitosin. Misalnya saja jika seseorang berolahraga sambil mendengarkan musik akan memiliki stamina dan motivasi yang lebih baik dibandingkan yang tidak mendengarkan musik. Alhasil orang tersebut dapat berolahraga lebih lama dan berdampak baik pada kesehatannya. Olahraga sambil mendengarkan musik tetap bisa dilakukan di rumah, seperti senam atau aerobic sambil mendengarkan musik.

Christ menyarankan untuk mendengarkan musik yang keras dan bertempo cepat, karena hasil penelitian pada pengguna treadmill menunjukkan musik keras dan bertempo cepat membuat seseorang berlari lebih cepat dan detak jantung pun lebih cepat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hobi musik
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top