Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PCR dan Rapid Test Melengkapi Penanganan Virus Corona

Metode yang paling ideal yakni tes cepat virus Corona berbasis real time- polymerase chain reaction (RT-PCR).
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 16 Mei 2020  |  23:40 WIB
Petugas mengambil sampel lendir saat Tes PCR di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Undip Semarang, Rabu (22/4 - 2020). Foto: Istimewa
Petugas mengambil sampel lendir saat Tes PCR di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Undip Semarang, Rabu (22/4 - 2020). Foto: Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk mendeteksi seseorang terinfeksi virus corona atau tidak, dibutuhkan serangkaian tes.

Hingga kini, metode yang paling efektif dan akurat untuk mendiagnosis infeksi Corona (Covid-19) ialah melalui metode polymerase chain reaction (PCR).

Meski demikian, rapid test masih sangat dibutuhkan sebagai deteksi cepat untuk melacak ada atau tidaknya virus corona di dalam tubuh seseorang.S ebab, pengambilan spesimen lendir menggunakan swab dan pemeriksaan menggunakan PCR membutuhkan waktu yang lebih lama dan lebih rumit.

Selain itu, pemeriksaan sampel PCR hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan kelengkapan khusus.

Oleh karena itu, butuh waktu beberapa hari hingga hasil tes bisa keluar Ketua Pengurus Harian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) 2017-2020 Agus Dwi Susanto mengatakan, lamanya hasil tes swab kira-kira membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 hari.

Sebab, laboratorium pemeriksa sampel lender dari hidung seseorang saat ini jumlahnya masih terbatas dan hanya ada di sejumlah rumah sakit milik pemerintah.

"Sementara sampel yang harus diperiksa bisa ribuan jumlahnya sehingga selain PCR kita masih membutuhkan rapid test yang hasilnya bisa diketahui sekitar 2 sampai 3 jam saja,” ujarnya, dalam keterangan pers yang diterima Bisnis, Jumat (15/5/2020).

Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur itu mengatakan deteksi melalui rapid test mengandalkan tes antibodi dengan mengambil sampel darah seseorang. Tujuannya untuk menunjukkan respon individu melalui antibodinya terhadap virus yang masuk dalam ke tubuh.

“Hasil dari rapid test adalah reaktif dan non-reaktif. Reaktif berarti antibodi sudah muncul di dalam tubuh karena virus yang sudah masuk sedangkan non-reaktif artinya antibodi belum muncul,” tuturnya.

Menurutnya, metode yang paling ideal yakni tes cepat berbasis real time- polymerase chain reaction (RT-PCR). Namun faktanya metode yang banyak dipakai di Indonesia saat ini adalah rapid test menggunakan sampel darah.

“Karena itu, masyarakat perlu mendapat informasi yang tepat, termasuk bagaimana akurasi alat rapid test yang digunakan,” ungkapnya.

Meski demikian, kini sejumlah pihak tengah menyiapkan produksi rapid test lokal yang lebih akurat. Salah satunya rapid test produksi Industri Bioteknologi Jawa Barat yang sempat dibagikan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Dalam unggahannya di akun twitter @ridwankamil, dia menyebutkan bahwa rapid test tersebut berbasis antigen untuk melacak virus corona dengan tingkat akurasi mencapai 80 persen.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI yang menangani bidang kesehatan dan tenaga kerja, Melkiades Laka Lena, mengatakan kedua metode tersebut baik PCR maupun rapid test masih bisa diterapkan dalam menangani Covid-19.

Orang yang merasa memiliki indikasi Covid-19 sebaiknya menjalani rapid test. Jika hasilnya reaktif, orang tersebut perlu mengonfirmasi dengan menjalani PCR. Keduanya saling melengkapi dan dibutuhkan. Jangan saling dibenturkan,” ujarnya.

Terkait adanya kasus alat rapid test dengan tingkat akurasi rendah memang membutuhkan evaluasi. Namun, kasus itu tidak untuk meniadakan metode rapid test ditambah lagi WHO telah merekomendasikan sejumlah rapid test kit maupun PCR.

Mengutip drugtestsinbulk.com, WHO telah menguji sejumlah rapid test kit yang diproduksi berbagai negara sebagaimana. Ada tiga produk yang memiliki tingkat akurasi sekitar 80 persen hingga 90 persen.

Hasil uji rapid test dari Tiongkok dan Amerika Serikat menyatakan InTec dengan tingkat akurasi 84,6 persen, Cellex dengan tingkat akurasi 86,55 persen, dan Healgen/Orient Gene dengan tingkat akurasi 91,65 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona rapid test
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top