Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IDI: Penerapan New Normal Jangan Serampangan

IDI menyampaikan bahwa penerapan new normal bisa dijalankan ketika kurva penyebaran virus sudah menurun atau melandai dengan jumlah penambahan kasus di bawah 1 persen.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 02 Juni 2020  |  13:36 WIB
nKetua Umum PB IDI dr Daeng M Faqih saat diwawancarai awak media massa di Jakarta, Kamis (13/2/2020). - Antara
nKetua Umum PB IDI dr Daeng M Faqih saat diwawancarai awak media massa di Jakarta, Kamis (13/2/2020). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah hampir dua bulan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona Covid-19, pemerintah kini tengah mempersiapkan skenario untuk menerapkan tatanan kehidupan baru atau new normal di tengah pandemi.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Daeng Faqih mengatakan, mau tidak mau tatanan kehidupan baru ini memang harus dijalankan karena Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri memprediksi bahwa ancaman Covid-19 ini akan berlangsung lama. Apalagi hingga saat ini belum ada vaksin dan obat yang benar-benar pasti dapat mengobati Covid-19.

“Tidak mungkin kita akan selamanya mengunci diri dan tidak beraktivitas sehingga mau enggak mau, siap tidak siap kita akan menuju new normal tapi tentu tidak bisa serampangan, harus ada kriteria dan indikator yang harus dipenuhi,” ujarnya, dalam Webinar Edukasi Online, Senin (2/6/2020).

Daeng menuturkan bahwa new normal baru bisa dijalankan ketika kurva penyebaran virus sudah menurun atau melandai dengan jumlah penambahan kasus di bawah 1 persen. “Itu baru bisa masuk [kriteria penerapan new normal],” tambahnya.

Penerapan New Normal ini juga tidak bisa dilaksanakan secara nasional tetapi dibuat berdasarkan skala prioritas dengan pentahapan, misalnya daerah mana saja yang sudah masuk ke dalam kriteria maka itu yang bisa didahulukan.

“Kalau masih tinggi-tingginya kayak Jawa Timur bahkan mungkin mau mencapai puncak, rasanya itu belum masuk ke dalam kriteria,” ujarnya.

Selain itu, aktivitas juga harus diatur sedemikian rupa jangan langsung dibuka sekaligus. Misalnya saja aktivitas yang didahulukan seperti di tempat pekerja pabrik yang kawasannya terpisah dengan kawasan penduduk, lalu dibuka secara bertahap. Begitu pula ketika mall dibuka jangan langsung sekaligus semuanya, harus ada pentahapan.

Hal lain yang juga perlu dipersiapkan adalah protokol kesehatan yang harus dipatuhi oleh semua pihak, baik pemerintah, perusahaan, maupun masyarakat. Apalagi saat ini belum ditemukan adanya vaksin sehingga kedisiplinan masyarakat dalam mengikuti protokol kesehatan itu menjadi hal yang sangat penting.

“Sebelum vaksin ini ditemukan, kedisiplinan itu yang menjadi vaksin alami kita,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ikatan dokter indonesia Virus Corona covid-19 New Normal
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top