Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Astaga, Jumlah Perokok Anak dan Remaja Meningkat

Jumlah perokok anak dan remaja di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Harga rokok yang murah menjadi satu kemudahan remaja untuk mengonsumsi rokok.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  14:54 WIB
Ilustrasi rokok vape elektronik. - Bisnis/Abdullah Azzam
Ilustrasi rokok vape elektronik. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Konsumsi rokok oleh anak-anak dan remaja dalam tren meningkat. Kondisi ini sangat berbahaya bagi generasi muda, khususnya untuk menyambut Indonesia emas, atau usia 100 tahun Indonesia.

Mengutip data survei Perilaku Merokok di Kalangan Remaja yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan pada 2019 tercatat total anak yang terpapar asap rokok baik sebagai perokok aktif dan pasif anak mencapai 57,8 persen.

Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Hasbullah Thabrany menyatakan saat ini prevalensi perokok di Indonesia memang memprihatinkan. Pasalnya berdasarkan data World Health Organization 2020, perokok pada penduduk usia 15 tahun ke atas, tidak termasuk e-cigarette atau vape mengalami peningkatan 33 persen pada tahun 2000 menjadi 39 persen pada 2015. Sementara di negara-negara tetangga, bahkan di China, prevalensi perokok justru menurun.

"Hal itu karena Indonesia tidak mau tanda tangan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan berkilah bahwa tanpa FCTC sekalipun Indonesia mengendalikan konsumsi rokok dengan cukai, pendidikan kesehatan, dan kawasan tanpa rokok," ujar Hasbullah, melalui siaran pers Rabu (3/6/2020).

Sayangnya menurut Hasbullah, langkah ini masih kalah jauh dibandingkan upaya industri rokok dengan harga murah. Kebijakan yang sudah dilakukan juga terbukti belum mampu mengendalikan remaja perokok.

Salah satu buktinya kata Hasbullah, sempat viral di media Indonesia ada anak yang bersantai dengan orang tua sambil merokok untuk mencegah Covid-19. Kondisi ini menambah keprihatinan pada upaya penekanan remaja perokok.

Oleh sebab itu Hasbullah meminta agar setiap keluarga membebaskan anggota keluarga dari bahaya virus Covid-19. Caranya dengan diam dalam rumah dan membebaskan rumah dari asap rokok.

Dia pun menegaskan pemerintah diharapkan lebih jelas menyampaikan kepada masyarakat bahwa salah satu pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan berhenti atau setidaknya mengurangi merokok.

"Pemerintah harus menyediakan panduan serta program pendampingan bagi masyarakat yang mau berhenti merokok demi melindungi mereka dari pandemi global Covid-19," pungkasnya.

Secara lebih rinci, Data Survei Perilaku Merokok di kalangan remaja oleh Kementerian Kesehatan tahun lalu bahwa 19,2 persen pelajar merokok ada 35,6 persen yang laki-laki dan 3,5 persen pelajar perempuan. Selain itu, kini ada 1 persen pelajar mulai mengonsumsi vape, produk tembakau yang baru diperkenalkan. Alhasil jika ditambah jumlah perokok pasif maka ada 57,8 persen pelajar terpapar asap rokok di rumah.

Amin Soebandrio, Kepala Lembaga Biologi dan Pendidikan Tinggi Eijkman menegaskan, asap rokok memberi potensi lebih rentan pada virus Covid-19.

Sementara itu, Ketua Pokja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Feni Fitriani menambahkan, merokok meningkatkan reseptor ACE-2, yang juga reseptor virus corona penyebab Covid-19. "Jadi perokok memiliki risiko kena Covid-19 yang lebih besar, bukan sebaliknya," terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perokok Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top