Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona Picu Orang Untuk Bunuh Diri, Ini Sebabnya

Empat faktor risiko utama virus corona bisa memicu bunuh diri seperti dikutip dari psychologytoday.com salah satunya adalah penetapan jarak dan pembatasan sosial.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 28 Juni 2020  |  13:54 WIB
Pasien virus corona - Antara
Pasien virus corona - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Ketika dunia terus berjuang melawan coronavirus, sebuah makalah baru dalam jurnal Brain, Behavior, and Immunity menunjukkan kecenderungan covid-19 memicu keinginan orang untuk bunuh diri. 

Menggunakan kasus-kasus bunuh diri terkait COVID-19 di AS, Italia, Inggris, Jerman, Arab Saudi, India, dan Bangladesh, penulis menyoroti empat faktor risiko utama berikut seperti dikutip dari psychologytoday.com:

1. Jarak dan Isolasi Sosial

Secara global, ketakutan COVID-19 telah menciptakan tekanan emosional yang serius. Keterasingan yang diciptakan oleh perintah-perintah jarak sosial telah mengecewakan banyak orang dan dapat mengintensifkan kondisi kesehatan mental yang ada, termasuk depresi dan bunuh diri. Para penulis merinci kasus-kasus dari India, AS, Arab Saudi, dan Inggris, di mana isolasi COVID-19 kemungkinan berkontribusi mati karena bunuh diri.

Dalam satu kasus, misalnya, seorang mahasiswa China yang belajar di universitas Arab Saudi meninggal karena bunuh diri. Pelajar itu telah diisolasi di karantina rumah sakit karena dugaan infeksi coronavirus.

2. Resesi Ekonomi akibat COVID-19

Epidemi COVID-19 telah memicu krisis ekonomi global, yang kemungkinan akan meningkatkan risiko bunuh diri terkait dengan pengangguran dan tekanan ekonomi. Para penulis berpendapat bahwa ketidakpastian, perasaan putus asa, dan rasa tidak berharga dapat meningkatkan tingkat bunuh diri.

Di Jerman, misalnya, seorang menteri keuangan meninggal karena bunuh diri di dekat Frankfurt pada akhir Maret 2020. Dia dilaporkan merasa putus asa atas dampak ekonomi dari pandemi coronavirus.

3. Stres & Trauma Profesional Kesehatan

Secara global, ada bukti bahwa penyedia layanan kesehatan berada pada risiko yang meningkat untuk kesehatan mental selama epidemi coronavirus. Stres termasuk stres ekstrem, takut sakit, rasa tidak berdaya, dan trauma yang terkait dengan menyaksikan pasien meninggal sendirian.

Semua ini kemungkinan akan meningkatkan risiko bunuh diri di kalangan profesional kesehatan. Di Inggris, misalnya, seorang perawat UGD meninggal karena bunuh diri di rumah sakit London. Kematiannya terjadi ketika dia merawat pasien COVID-19 dan setelah 8 pasien coronavirus meninggal.

4. Stigma dan Diskriminasi

Stigma COVID-19, dapat memicu kasus bunuh diri yang muncul di seluruh dunia. Di India, misalnya, seorang pria meninggal karena bunuh diri setelah "menghadapi boikot sosial dan diskriminasi agama" terkait dengan kecurigaan tetangganya bahwa ia mungkin menderita COVID-19.

Di Bangladesh, seorang lelaki lainnya meninggal karena bunuh diri setelah diisolasi oleh tetangganya karena diagnosis coronavirus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bunuh diri Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top