Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cegah Depresi dengan Konsumsi Probiotik

, Prevention, and Health pada 6 Juli, seperti dilansir dari Insider Jumat (10/6/2020), menemukan bahwa probiotik membantu memperbaiki gejala depresi
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 10 Juli 2020  |  14:47 WIB
Ilustrasi probiotik
Ilustrasi probiotik

Bisnis.com, JAKARTA – Peneliti di Inggris menyebut probiotik dapat membantu masalah kesehatan mental.

Memang mikroorganisme hidup berupa bakteri atau jamur yang berada di sistem pencernaan manusia itu, biasanya terkenal membantu dalam melindungi dan memelihara kesehatan sistem pencernaan, terutama lambung dan usus, dari beragam serangan penyakit.

Menurut penelitian yang diterbitkan di BMJ Nutrition, Prevention, and Health pada 6 Juli, seperti dilansir dari Insider Jumat (10/6/2020), menemukan bahwa probiotik membantu memperbaiki gejala depresi.

Para peneliti di Inggris mengamati tujuh hal pada pasien dengan depresi yang menggunakan probiotik, dan menemukan bahwa pasien tersebut menunjukkan kesehatan mental mereka mengalami peningkatan yang signifikan, dibandingkan tanpa pengobatan atau plasebo.

Kendati demikian perlu penelitiam lebih lanjut tentang probiotik dan kesehatan mental, karena belum jelas bagaimana cara kerjanya atau bakteri yang spesifik bertanggung jawab atas membaiknya kondisi mereka.

Namun yang jelas temuan ini menambah daftar manfaat potensial yang sudah lama dikaitkan dengan probiotik, yang mencakup mulai dari penurunan berat badan hingga usia yang lebih panjang. Dan banyak perusahaan memasarkan suplemen dan produk mereka berdasarkan klaim ini. Tetapi, para ahli mengingatkan, iklan untuk probiotik seringkali jauh melampaui apa dimiliki dengan ilmu pengetahuan untuk membuktikannya.

"Ada sedikit bukti bahwa bakteri baik meningkatkan kesehatan Anda secara keseluruhan, dan pemasaran melampaui apa yang dikatakan sains," kata Dr. Rob Knight, profesor di University of California, San Diego, dan salah satu pendiri American Gut Project.

Banyak dari klaim pemasaran bahwa produk-produk ini secara ilmiah terbukti berfungsi untuk menurunkan berat badan, energi, kinerja atletik. Penelitian memang telah menunjukkan bahwa, pada tikus, microbiome mempengaruhi penurunan berat badan dan kesehatan mental. Namun, kata Knight perlu pembuktian lebih jauh antara probiotik dan kesehatan manusia.

"Penting untuk diingat bahwa tikus bukan manusia. Sesuatu dapat bekerja dengan sangat baik pada tikus tetapi itu tidak berarti itu akan bekerja pada manusia," sebutnya.

Memang benar bahwa beberapa probiotik telah disetujui untuk mengobati kondisi yang sangat spesifik, seperti penyakit radang usus, kolitis ulserativa dan beberapa infeksi saluran kemih. Namun sekali lagi, itu bukan alasan bagi orang sehat untuk memborong produk probiotik.
American Gastroenterological Association (AGA) baru-baru ini merilis sebuah laporan yang mencatat bahwa organisasi tersebut tidak merekomendasikan penggunaan probiotik untuk sebagian besar masalah pencernaan, dengan alasan bahwa bukti saat ini sangat kurang. Hal ini karena kompleksitas microbiome manusia, dan banyak variabel antara manusia, tidak mungkin memiliki bukti itu dalam waktu dekat, meskipun penelitian sedang berlangsung.
Sementara itu, dia menyarankan untuk meningkatkan microbiome dengan cara lama dan teklah didukung sains melalui diet, mengonsumsi cukup serat, tidak terlalu banyak gula, dan menghindari makanan ultra-olahan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mikroba bakteri
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top