Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Celana Boxer Sukses Dongkrak Penjualan Jenama Lokal di Tengah Pandemi Covid-19

Produk yang banyak dicari lantaran nyaman digunakan untuk beraktivitas dari rumah, termasuk bekerja.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  23:09 WIB
Ilustrasi. - Istimewa
Ilustrasi. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan produk jenama fesyen pria Cottonology tercatat mengalami peningkatan hingga 60 persen di tengah pandemi Covid-19, alih-alih mengalami penurunan seperti yang banyak dikeluhkan oleh banyak pelaku usaha fesyen di berbagai penjuru dunia.

Peningkatan tersebut ternyata ikut dipengaruhi oleh Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di beberapa daerah. Tentunya hal tersebut ikut didukung oleh penjualan daring yang telah dikembangkan oleh Cottonology melalui sejumlah platform dagang el di Indonesia.

Founder Cottonology Carolina Danella Laksono mengatakan peningkatan penjualan produk Cottonology secara daring selama pandemi Covid-19 terjadi pada produk celana pendek atau celana boxer. Produk tersebut banyak dicari lantaran nyaman digunakan untuk beraktivitas dari rumah, termasuk bekerja.

“Celana boxer adalah salah satu produk yang cukup diminati saat wabah ini karena cocok dipakai di rumah karena mayoritas work from home. Bahan katunnya juga nyaman, karena banyak juga konsumen kami yang bekerja dari rumah sambil pegang laptop duduk di lantai, bukan di kursi. Mereka lebih suka pakai celana yang nyaman bahannya,” katanya melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis, Selasa (21/7/2020).

Carolina mengatakan kreativitas tanpa mengurangi kualitas dalam menciptakan produk-produk baru adalah strategi jitu untuk tetap eksis selama masa sulit seperti ini. Selain itu, yang tak kalah penting adalah harga yang terjangkau oleh semua kalangan.

“Walau kami tahu daya beli konsumen untuk produk busana menurun, namun kami tidak bertoleransi terhadap kualitas. Selain bahan katun pilihan, kita pun menggunakan zat pewarna khusus dari Jepang. Jadi kalau dicuci hingga 70 kali pun tidak akan luntur. Istilahnya, warna menjadi terkunci,” tuturnya.

Peningkatan penjualan yang sedemikian tinggi membuat Cottonology menyerap tambahan tenaga kerja baru di bagian produksi di atas 5 persen. Hal tersebut tentunya cukup signifikan dalam menggerakan sektor mikro di Bandung. Untuk terus bisa menambah jumlah tenaga kerja yang mayoritas berasal dari masyarakat sekitar Bandung, menurut Carolina Cottonology pun meluncurkan produk terbaru selama pandemi Covid-19.

“Tenaga kerja kami bukan sekadar di bagian produksi seperti menjahit atau menenun saja, tapi juga bagian desainernya. Misalnya kemeja, kenapa menjadi salah satu produk terlaris kami, karena desainnya yang memang mengikuti tren pasar dengan menggunakan teknik tenun, bukan cetak, jadi corak luar dan dalam bajunya sama. Ada tiga orang tim desainer lulusan teknologi tekstil di Cottonology,” ungkapnya.

Carolina menambahkan pihaknya masih akan membutuhkan desainer baru demi memenuhi permintaan pasar yang semakin bertambah.

Cottonology merupakan bagian dari PT GM Textile, perusahaan yang telah eksis di Indonesia lebih dari 60 tahun dengan fokus pada produksi kain tenun. Cottonology berhasil masuk top selling ranked di platform dagang el Indonesia seperti Shopee, Lazada, BliBli, Tokopedia dan BukaLapak. Saat ini Cottonology telah menjual lebih dari 400.000 item pakaian pria di seluruh Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fesyen
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top