Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Setelah Masker, Pakaian Antivirus Bisa Jadi Tren Fesyen Berikutnya

Pandemi Covid-19 membuat pelaku usaha di industri garmen berlomba menciptakan produk yang bisa menangkal virus.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 29 Mei 2020  |  21:38 WIB
Louis Vuitton memproduksi APD bagi tenaga medis. - Instagram
Louis Vuitton memproduksi APD bagi tenaga medis. - Instagram

Bisnis.com, JAKARTA -- Untuk melindungi diri dari virus corona baru, kita sebagai masyarakat akan mencoba apa saja.

Mulai dari cairan pembersih, tisu, dan menumpuk stok masker ke lemari, manusia melanjutkan pencarian untuk perlindungan ekstra. Hal yang mungkin akan dicari adalah pakaian antivirus.

Dilansir melalui The List, belum lama ini seorang penemu dari Kanada, Giancarlo Beevis, menuturkan inspirasinya terkait pakaian antivirus berangkat dari kebutuhan para pekerja yang akan segera kembali ke kantor untuk memulai kembali ekonomi. Namun pada saat yang sama, mereka ingin ada jaminan kesehatan di samping mengenakan masker.

Visi Beevis untuk pasar tekstil didorong oleh kemitraannya dengan Youngdo Kim, CEO Okyung International, produsen tekstil Korea.

Menunggu persetujuan FDA, dan bekerja sama dengan EPA, produk ini sedang dikembangkan di Intelligent Fabric Technologies North America (IFTNA) dan disebut PROTX2 AV.

"Dalam hasil lab, produk tersebut dikatakan telah menghancurkan 99,9% virus penyebab Covid-19 dalam waktu 10 menit, dengan sisa daya pembunuh selama 24 jam," dikutip melalui The List, Jumat (29/5).

Jadi bagaimana cara kerjanya? Kemungkinan PROTX2 AV akan memberikan nilai tambah yang mirip dengan koleksi antibakteri perusahaan sebelumnya, yakni PROTX2.

Produk ini diklaim dapat menghambat pertumbuhan bakteri sambil mempertahankan karakteristik alami kain.

Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia bergegas memanfaatkan teknologi baru ini, mempertimbangkan aplikasi bahan kimia antivirus ini pada alat pelindung diri (APD), pakaian militer, pakaian perjalanan, dan juga barang sehari-hari.

Belum jelas apakah semua pakaian yang diproduksi akan memiliki zat antivirus yang diterapkan sebelumnya, atau perusahaan akan memproduksi sejenis cairan pembersih yang dapat diaplikasikan ke pakaian dan benda sehari-hari. Kemungkinan besar kedua pilihan akan tersedia.

Tidak peduli bagaimana caranya barang itu sampai kepada kita, pakaian antivirus diprediksi akan menjadi bisnis besar. Menurut PR Newswire, pasar tekstil antimikroba berada di jalur untuk melampaui US$20,5 miliar pada tahun 2026

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fesyen covid-19
Editor : Gajah Kusumo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top