Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Langkah Mudah Memulai Investasi Bagi Pemula

Managing Director Head of Digital Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Leonardo Koesmanto mengatakan, kegiatan perbankan yang termasuk di dalamnya pengelolaan keuangan kerap dianggap rumit oleh masyarakat.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 28 Juli 2020  |  11:59 WIB
Ilustrasi menabung
Ilustrasi menabung

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, pengelolaan keuangan menjadi prioritas utama yang harus dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Investasi, menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mencapai kestabilan financial.

Managing Director Head of Digital Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Leonardo Koesmanto mengatakan, kegiatan perbankan yang termasuk di dalamnya pengelolaan keuangan kerap dianggap rumit oleh masyarakat. Lama waktu yang dibutuhkan dan proses yang cenderung panjang sering dinilai sebagai hambatan bagi setiap orang yang ingin memulai perjalanan keuangan mereka

Padahal, pengelolaan keuangan yang seimbang menjadi kunci kebebasan dan kestabilan ekonomi individu. Untuk itu, Leonardo menyampaikan beberapa langkah mudah yang dapat dilakukan oleh masyarakat yang ingin memulai investasi

1. Tentukan Tujuan Keuanganmu

Dalam proses perencanaan keuangan, kita harus memiliki tujuan dan prioritas yang dapat diukur sehingga tujuan keuangan bisa tercapai. Caranya bisa dengan menentukan tujuan keuangan berdasarkan jangka waktu.

Pertama, tujuan Keuangan Jangka Pendek, biasanya memiliki rentang waktu satu sampai dua tahun. Misalnya, berencana untuk berlibur. Paling tidak, kita harus mengatur pengeluaran atau menyisihkan sebagian pendapatan untuk memenuhi biaya berlibur sejak jauh-jauh hari.

Dua, tujuan Keuangan Jangka Menengah yang memiliki rentang waktu antara dua hingga sepuluh tahun. Salah satu contohnya adalah mempersiapkan uang untuk membiayai pendidikan yang berkualitas untuk anak. Pilihan investasi untuk mencapai tujuan jangka menengah berada di instrumen yang berbeda dengan tujuan jangka pendek.

Ketiga, Tujuan Keuangan Jangka Panjang yang biasanya memiliki rentang waktu lebih dari sepuluh tahun. Risiko yang diambil bisa lebih besar karena kita punya waktu yang panjang untuk mengantisipasi segala ketidakpastian.

“Contohnya adalah saat kita mempersiapkan masa pensiun. Persiapan masa pensiun yang tepat harus dilakukan agar kita nggak jadi beban anak cucu kelak. Selain itu, contoh tujuan keuangan jangka panjang adalah pendidikan,” ujarnya.

2. Simpan uang dalam instrumen investasi berisiko rendah

Ketika kita sudah menyisihkan bagian dari pendapatan, langkah selanjutnya adalah menabung. Tabungan bisa disimpan dalam bentuk instrumen berisiko rendah yang tidak memerlukan biaya besar. Saat ini terdapat beberapa ragam instrumen investasi yang dimulai dari satu juta rupiah.

Lantas, apa saja sih instrumen investasi berisiko rendah yang dapat menjadi pilihan investasi awal? Pertama, deposito. Menempatkan dana di deposito lebih menguntungkan dibandingkan tabungan karena memberikan tingkat bunga lebih besar.

Deposito berjangka memiliki rentang waktu yang beragam mulai dari 1 bulan hingga 12 bulan. Dahulu, masyarakat menganggap membuka deposito harus memiliki dana yang besar. Akan tetapi, saat ini kita bisa membuka deposito berjangka mulai dari satu juta rupiah.

Dua, surat utang atau obligasi. Surat utang mirip deposito karena resikonya rendah dengan tingkat imbal balik yang relatif lebih tinggi.

Kalau investasi di SBR, ORI dan ST, nasabah akan menerima pembayaran (kupon) setiap bulan. Nasabah bisa membeli ketiga produk tersebut melalui fitur e-SBN pada saat peluncuran perdana produk tersebut dengan jumlah investasi awal mulai dari satu juta rupiah saja.

Fitur e-SBN memungkinkan nasabah melakukan investasi secara 100% digital end to end mulai dari registrasi Single Investor Identification (SID) hingga pembelian serta penjualan kembali jenis surat utang yang dapat diperdagangkan.

Ketiga, surat utang atau obligasi pasar sekunder. Pasar sekunder kini menaungi tiga tipe obligasi yang dapat diperdagangkan seperti FR, INDON dan INDOIS. Sebelumnya untuk nasabah dapat memasuki pasar sekunder harus memiliki modal awal yang besar mulai dari seratus juta rupiah.

3. Jangan lupa, siapkan dana darurat!

Dana darurat adalah hal yang tidak kalah pentingnya dalam menjalani hidup yang penuh dengan ketidakpastian. Tanpa dana darurat, kita bakal kesulitan saat membutuhkan uang dalam keadaan darurat.

Salah satu contoh konkret adalah masa pandemi Covid-19, di mana ketidakpastian ekonomi sedang melanda negara. Akan tetapi, jangan khawatir. Masyarakat kini bisa mengelola dana darurat dengan menggunakan instrumen investasi yang tepat seperti deposito dan surat utang.

Pengelolaan keuangan dengan memanfaatkan ragam peluang investasi yang berisiko rendah tidak hanya dapat digunakan sebagai dana darurat tetapi juga untuk memperoleh keuntungan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi tabungan
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top