Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kenali Sindrom Biskuit Susu yang Sering Menyerang Balita

Sindrom biskuit susu dapat terjadi pada anak-anak yang mengonsumsi gula berlebih dan lemak olahan.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  13:30 WIB
Biskuit yang terlalu manis bisa menyebabkan gangguan kesehatan pada anak. - ilustrasi
Biskuit yang terlalu manis bisa menyebabkan gangguan kesehatan pada anak. - ilustrasi

Bisnis,com, JAKARTA - Sindrom biskuit susu mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun sebaiknya penyakit ini perlu diwaspadai para ibu yang memiliki balita.

Melansir Times of India, Rabu (14/10/2020), sindrom biskuit susu sering terlihat pada anak-anak yang sedang tumbuh. Sindrom ini tidak mendapatkan banyak popularitas atau dianggap serius, karena gejalanya beresonansi dengan infeksi ringan. Batuk, pilek, sakit tenggorokan, kelelahan, dan sembelit adalah beberapa gejala yang paling menonjol dari sindrom ini.

Sindrom biskuit susu dapat terjadi pada anak-anak yang mengonsumsi gula berlebih dan lemak olahan. Pola makan yang tidak sehat, terutama saat larut malam bisa memicu sindrom tersebut. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh susu dan biskuit, karena ada beberapa jenis makanan lain yang turut berperan. Minuman ringan, soda, jus kemasan, susu, yogurt beraroma, es krim, cokelat, dan makanan ringan yang mengandung gula adalah penyebab utamanya.

Penyebab sindrom biskuit susu biasanya disebabkan oleh makanan yang merupakan produk susu atau memiliki tingkat pengawet dan gula yang tinggi. Ketika makanan seperti itu dikonsumsi tepat sebelum tidur, itu bisa menimbulkan masalah. Saat anak tidur, kandungan asam yang disebabkan oleh produk makanan ini di perut mengalir kembali dari kerongkongan dan terkadang bahkan sampai ke tenggorokan.

Anak-anak tidak menghadapi masalah mulas seperti orang dewasa yang lebih tua, itulah sebabnya mereka sering mengalami pilek, dada sesak, batuk atau sakit tenggorokan karena sindrom biskuit susu.

Kerap kali kesalahan diagnosis terjadi ketika si buah hati menderita sindrom biskuit susu. Hal ini tidak hanya dapat memperburuk gejala tetapi juga tidak mengakhiri sindrom tersebut. Obat hanya menutupi gejalanya untuk sementara, yang akan muncul kemudian jika pola makan tidak sehat terus berlanjut.

Oleh karena itu, cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah dengan mengurangi konsumsi produk olahan susu dan makanan bergula tepat sebelum tidur. Ini akan mencegah refluks asam yang dapat menyebabkan sindrom biskuit susu.

Anda mungkin terbiasa memberi anak Anda segelas susu sebelum tidur tetapi pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter anak jika anak Anda sering mengeluh batuk, mampet, radang tenggorokan atau sembelit. Meskipun susu adalah gudang nutrisi, konsumsinya harus dialihkan dengan mudah pada siang hari untuk mencegah penyakit ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

susu bayi biskuit
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top